Kamis, 10 Juni 2010

dasar-dasar agronomi

MAKALAH
PUPUK FOSFAT ALAM

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah DASAR-DASAR AGRONOMI
Dosen: Ir. Cecep Hidayat, MP.




















Disusun oleh:

Meilya Nurokhmah 208700989


AGROTECHNOLOGY SEMESTER IV







FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2010
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur yang tak hingga penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberi rahmat dan karunianya serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini.
Makalah ini berjudul “PUPUK FOSFAT ALAM” bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah DASAR-DASAR AGRONOMI,semester IV tahun akademik 2009/2010.
Dalam penulisan makalah ini penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terselsaikannya makalah ini.
Demikian makalah ini telah penulis selesaikan, dalam penulisannya mungkin masih banyak kekurangannya, untuk itu penulis mohon saran dan kritik dari para pembaca sebagai evaluasi bagi penulisan makalah yang akan datang.








Bandung, April 2010


Penulis








DAFTAR ISI

Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
BAB I PENDAHULUAN 1
BAB II PEMBAHASAN 3
2.1 SNI Produk Pupuk Fosfat Alam Untuk Pertanian 3
2.2 Pupuk Fosfat Alam Sebagai Pupuk Alternatif 5
a. Karakteristik dan Interaksi Pupuk Fosfat Alam dengan Tanah 5
b. Reaktivitas Pupuk Fosfat Alam 6
c. Penggunaan Pupuk Fosfat Alam sebagai Investasi Modal 6
d. Metode dan Waktu Pemberian serta Takaran Pupuk 6
2.3 Bakteri Pelarut Fosfat 7
1. Mikoriza 8
2. Bakteri Pelarut Fosfat 9
BAB III PENUTUP 11
DAFTAR PUSTAKA 12
















BAB I
PENDAHULUAN

Pupuk bagi petani merupakan produk yang sangat dibutuhkan dalam usaha budidaya pertanian. Dalam usaha pertanian, pupuk memegang peranan yang sangat penting bagi pertumbuhan tanaman, agar tanaman yang dipelihara dapat menghasilkan produk pertanian sesuai dengan yang diharapkan. Untuk mencapai hasil produksi tanaman sesuai dengan yang diharapkan, tanaman memerlukan factor-faktor tumbuh yang optimum. Salah satu factor tersebut adalah ketersedian unsur hara di dalam tanah. Jika tanah setempat tidak dapat menyediakan unsur hara yang cukup bagi tanaman, maka pemberian pupuk perlu dilakukan untuk memenuhi kekurangan tersebut.
Pemupukan bertujuan untuk menambah unsure hara yang diperlukan oleh tanaman. Pemberian pupuk untuk keperluan tanaman dapat dilakukan melalui tanah yang selanjutnya dapat diserap oleh tanaman melalui akar, atau dapat juga pemupukan dilakukan melalui daun yang langsung diserap oleh tanaman.
Penggunaan pupuk fosfat alam untuk pertanian sampai saat ini masih sangat diperlukan oleh petani. Pupuk fosfat alam mengandung phosphor (P) yang merupakan salah satu dari tiga unsur makro atau esensial selain Nitrogen dan Kalium, yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Unsur tersebut tersedia di alam berupa batuan fosfat, yang biasanya digunakan dalam pertanian sebagai pupuk buatan (Suciati, 2004). Unsur P diperlukan dalam pertumbuhan tanaman, kekurangan unsur hara makro ini maka tanaman akan mengurangi kemampuan tanaman untuk mengabsorbsi unsur hara lainnya (Soepardi, 1983). Menurut Buckman & Brandy (1982) unsure P dalam tanaman antara lain digunakan untuk: pembelahan sel, pembentukan lemak, pembungaan, pembuahan, perkembangan akar, memperkuat batang, kekebalan terhadap penyakit dan lain sebagainya. Dengan banyaknya manfaat dari unsur P ini, maka pupuk fosfat alam merupakan produk yang banyak digunakan oleh petani.
Pada kondisi pasar bebas bagi perdagangan pupuk seperti sekarang ini, petani dihadapkan pada berbagai pilihan jenis dan merek pupuk yang jumlahnya semakin banyak dengan mutu yang sangat beragam. Walaupun jenis dan merek pupuk semakin beragam, namun Menteri Pertanian, melalui Surat Keputusan No. 238/Kpts/OT.210/4/2003, menganjurkan untuk menggunakan pupuk yang telah mencantumkan tanda SNI (Standar Nasional Indonesia), pada kemasannya. Dengan adanya tanda SNI tersebut diharapkan mutu pupuk lebih terjamin sesuai dengan persyaratan mutu yang telah ditentukan. Salah satu jenis pupuk yang telah ada Standar Nasional Indonesia (SNI) adalah pupuk fosfat alam untuk pertanian.
Berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI No. 140 /MPP/Kep/3/ 2002, pupuk fosfat alam untuk pertanian SNI 02–3776– 1995 merupakan salah satu produk yang wajib memenuhi persyaratan sesuai dengan SNI tersebut, bila produk pupuk tersebut akan diperjualbelikan. Menurut definisi SNI 02–3776– 1995 pupuk fosfat alam adalah bahan galian yang sebagian besar mengandung kalsium fosfat berbentuk bubuk yang dipergunakan untuk penggunaan langsung dalam pertanian.
























BAB II
PEMBAHASAN

2.1 SNI PRODUK PUPUK FOSFAT ALAM UNTUK PERTANIAN
Berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI No. 140 /MPP/Kep/3/ 2002, pupuk fosfat alam untuk pertanian SNI 02–3776– 1995 merupakan salah satu produk yang wajib memenuhi persyaratan sesuai dengan SNI tersebut, bila produk pupuk tersebut akan diperjualbelikan. Menurut definisi SNI 02–3776– 1995 pupuk fosfat alam adalah bahan galian yang sebagian besar mengandung kalsium fosfat berbentuk bubuk yang dipergunakan untuk penggunaan langsung dalam pertanian.
Spesifikasi persyaratan mutu pupuk fosfat alam untuk pertanian berdasarkan SNI 02-3776-1995 terdapat 3 jenis kualitas, yaitu kualitas A, kualitas B dan kualitas C dengan spesifikasi peryaratan mutu yang berbeda.
Sebagai gambaran spesifikasi persyaratan mutu berdasarkan SNI 02–3776–2005 dapat dilihat pada Tabel 2.
Sedang hasil analisis 20 sampel pupuk fosfat alam untuk pertanian dapat dilihat pada Tabel 3. Berdasarkan hasil analisis yang disajikan pada Tabel 3, ternyata dari 20 sampel pupuk fosfat alam untuk pertanian tersebut hanya sebanyak 3 sampel (15%) yang telah memenuhi peryaratan sebagai pupuk fosfat alam untuk pertanian dengan kriteria mutu C dan sebanyak 17 sampel (85%) masih belum memenuhi persyaratan mutu sebagai pupuk fosfat alam untuk pertanian, berdasarkan SNI 02–3776–1995 seperti pada Tabel 1.

Tabel 1 Spesifikasi Persyaratan Mutu Fosfat Alam untuk Pertanian (SNI 02–3776–1995)














Tabel 2 Spesifikasi Persyaratan Mutu Fosfat Alam untuk Pertanian (SNI 02–3776–2005)

















Tabel 3 Hasil Analisis Parameter Pupuk Fosfat Alam yang Tidak Memenuhi Persyaratan Sesuai SNI 02–3776–1995




























2.2 PUPUK FOSFAT ALAM SEBAGAI PUPUK ALTERNATIF
Pupuk P ini dapat menjadi pupuk alternative pengganti SP-36. Agar penggunaannya efektif, sifat pupuk dan cara pemberiannya perlu diketahui. Kondisi keasaman tanah juga menentukan efektivitas pupuk.
Pupuk P-alam merupakan bahan baku pembuatan SP-36 dan superfosfat lainnya. Pupuk ini dapat digunakan sebagai alternative pengganti SP-36 yang kini semakin mahal dan kadang sulit didapat.
Deposit pupuk P-alam di Indonesia tidak banyak, sehingga impor pupuk P-alam dari luar negeri (Maroko, Tunisia, dan Cina) tidak bisa dihindari. Namun, perlu dipertimbangkan agar impor pupuk P-alam tersebut tidak hanya untuk menperjuangkan pemikiran tentang kapitalisasi P, yaitu pemberian pupuk P-alam sekaligus takaran tinggi (1 t/ha) untuk beberapa musim tanam, karena kepemilikan modal petani angat terbatas. Sebelum pupuk P-alam dipromosikan secara besar-besaran, terlebih dahulu perlu dikaji karakteristik pupuk dan interaksinya dengan tanah,reaktivitasnya, metode dan waktu pemberian yang tepat, takarannya, pengguanaannya untuk rehabilitasi tanah sulfat asam.
a. Karakteristik dan Interaksi Pupuk Fosfat Alam dengan Tanah
Karakteristik pupuk P-alam dapat diketahui melalui pengamatan tentang mineralogy, kristalografi, dan analisis kimia, sehingga unsure utama dan cara pembentuknnya dapat diketahui. Pupuk P-alam didominasi oleh mineral apatit (50-90%) dengan bahan ikutannya berupa kuarsa, liat, besi, dan alumunium oksida, kalsit, dolomit, dan gypsum. Kalsium apatit yang berasal dari batuan sedimen termasuk pupuk P-alam reaktif sehingga dapat langsung digunakan sebagai sumber P, sedangkan fluor apatit yang kelarutannya rendah termasuk pupuk P-alam dikatakan reaktif bila kombinasi sifat pupuk dan sifat tanah dapat meningkatkan kelarutan P. bila kelarutan P sangat rendah, maka P-alam dikatakan tidak aktif.
Efektivitas kelarutan P-alam reaktif pada tanah masam termasuk rendah terutama bila pH tanah <4,5 dan konsentrasi P larutan tanah awal sangat rendah. Jika pH <4,5 maka tanah perlu diberi kapur untuk menaikan pH sampai 4,5 untuk padi atau 5,0 untuk kedelai. Kelarutan pupuk P-alam juga menurun bila pH tanah lebih dari 6,0.
Kapasitas tukar kation tanah juga harus tinggi dengan kandugan C-organik tanah sedang smpai tinggi (sekitar 5%) dan kejenuhan kation Ca rendah. Kondisi tersebut memungkinkan ion P dari pupuk P-alam dapat ditahan di daerah pertukaran. Ion P tersebut selanjutnya diserap akar melalui difusi dan aliran masa. Menurut hasil penelitian, sebagian besar (98%) ion P diserp akar tanaman melalui difusi.

b. Reaktivitas Pupuk Fosfat Alam
Reaktivitas merupakan kemampuan pupuk P-alam untuk melepaskan P. kemampuan ini dipengaruhi oleh kombinasi sifat pupuk seperti komposisi kimia, jenis-jenis mineral, dan ukuran partikel. Luas permukaan sangat berpengaruh terhadap kelarutan pupuk P-alam. Semakin halus ukuran partikel, semakin banyak kemungkinan kontak antara pupuk P-alam dan tanah sehingga kelarutannya semakin tinggi pula.
Bahan organic tanah juga dapat meningkatkan ketersediaan P dari P-alam. Keadaan ini disebabkan bahan organic, dapat memasok proton dan terbentuknya senyawa kompleks Ca dan anion organic. Senyawa kompleks ini dapat mencegah peningkatan konsentrasi Ca dalam larutan tanah dan peningkatan pH pada permukaan apatit. Jadi, kelarutan pupuk P-alam dapat berlangsung dengan baik bila konsentrasi Ca dalam larutan tanah lebih rendah daripada konsentrasi Ca di bagian selaput yang mengelilingi partikel pupuk. Kapasitas daya sangga pH tanah untuk memasok proton juga sangat mempengaruhi kelarutan pupuk P-alam.
Reaktivitas pupuk P-alam meningkat dengan semakin kecilnya ukuran partikel. Pupuk P-alam berukuran 0,1 mm mempunyai luas permukaan spesifik lebih luas daripada yang berukuran 0,5 mm. pelepasan, gerakan, dan pengisian P dalam tanah sangat ditentukan oleh ukuran partikel P-alam. Jadi semakin halus ukuran partikel pupuk P-alam, semakin banyak P yang diserap tanaman. Ukuran partikel juga sangat menentukan harga pupuk dan kesempurnaan pencampurannya dengan tanah yang mempunyai tekstur yang berlainan.
c. Metode dan Waktu Pemberian serta Takaran Pupuk
Setelah karakteristik pupuk P-alam dan interaksinya dengan tanah serta reaktivitasnya diketahui, selanjutnya efisiensi pemberiannya ditingkatkan dengan cara mempertimbangkan metode, waktu, dan takarannya. Kelarutan pupuk P-alam umumnya rendah karena ukuran partikel yang relative besar. Oleh karena itu, ketersediaan P dalam tanah perlu ditingkatkan dengan cara menambah takaran pupuk P-alam. Pupuk dicampur merata di lapisan olah dan kelembapan tanahnya dipertahankan. Dengan takaran yang tinggi dan cara pemberian yang demikian diharapkan P berdifusi untuk mencapai volume tanah yang lebih besar. Untuk menghindari adsorpsi P pada tanah dengan kapasitas sangga P yang tinggi, pupuk diberikan beberapa minggu sebelum tanam.
d. Penggunaan Pupuk Fosfat Alam sebagai Investasi Modal
Penggunaan pupuk P-alam pada tanah masam kahat P sebagai investasi modal bertitik tolak dari pemikiran bahwa tanah harus dikelola sedemikian rupa, sehingga cadangan haranya dapat mempertahankan sifat fisik dan kimia tanah yang berkelanjutan tanpa merusak tanah dan mencemari lingkungan. Analisis kelayakan ekonomi juga diperlukan untuk mengetahui kelayakan investasi pupuk P-alam, baik bagi petani maupun dalam rangka menciptakan pertumbuhan ekonomi suatu wilayah.
Pemberian pupuk P-alam tidak dianjurkan dilakukan terus menerus, karena akumulasi logam berat cadmium (Cd) dalam tanah dan hasil panen dapat berdampak negative terhadap kesehatan mekhluk hidup. Oleh karena itu, penggunaan pupuk P-alam dan SP-36 harus dibarengi dengan program uji tanah sehingga kerusakan tanah dan pencemaran lingkungan dapat sekecil mungkin. Uji tanah bertujuan untuk mengetahui hubungan P tersedia dengan P yang diserap tanaman yang berasal dari berbagai sumber P (pupuk P-alam, SP-36). Uji tanah dapat dilakukan di rumah kaca dengan cra memberikan berbagai takaran pupuk P-alam dan SP-36. Setelah tanaman dipanen, P yang diserap tanaman dihitung serta diukur nilai uji tanahnya, misalnya untuk P-Bray 1. Uji tanah dengan menggunakan pengekstrak HCl-25% tidak dianjurkan karena pengekstrak tersebut sangat masam sehingga dapat melarutkan bentuk P lainnya dari pupuk P-alam yang tidak larut oleh pengekstrak lemah (Al-Jabri).
2.3 BAKTERI PELARUT FOSFAT
Fosfor merupakan unsur esensial kedua setelah N yang berperan penting dalam proses pertumbuhan tanaman, serta metabolisme dan proses mikrobiologi tanah. Fosfor dalam tanah dibedakan atas fosfor organic dan fosfor anorganik. Fofor organic terdapat dalam humus dan bahan organic lainnya, sedangkan fosfor anorganik berupa fosfor terlarut dalam bentuk ion.
Fosfor dalam tanah, 70% berada dalam keadaan tidak larut (Foth, 1990), hal tersebut sangat berpengaruh terhadap serapan hara lain, khususnya pada saat unsur P menjadi factor pembatas (Foth dan Ellis, 1988). Ketersediaan unsur P dalam tanah ternyata sangat bergantung pada aktivitas mikroorganisme dalam tanah (Amarisi dan Olsen, 1973), seperti adanya aktivitas dari kelompok bakteri pelarut fosfat/BPF (Rao, 1982).
Bakteri pelarut fosfat (BPF) merupakan bakteri tanah yang bersifat non patogen dan termasuk dalam katagori bakteri pemacu pertumbuhan tanaman. Bakteri tersebut menghasilkan vitamin dan fitohormon yang dapat memperbaiki pertumbuhan akar tanaman dan meningkatkan serapan hara (Glick, 1995). Bakteri pelarut fosfat merupakan satu-satunya kelompok bakteri yang dapat melarutkan P yang terjerap permukaan oksida-oksida besi dan almunium sebagai senyawa Fe-P dan Al-P (Hartono, 2000). Bakteri tersebut berperan juga dalam transfer energi, penyusunan protein, koenzim, asam nukleat dan senyawa-senyawa metabolik lainnya yang dapat menambah aktivitas penyerapan P pada tumbuhan yang kekurangan P (Rao, 1994).
Ada dua jenis mikroba pelepas atau pelarut fosfat, yaitu mikoriza (mikroba pelepas fosfat simbiotik) dan bakteri pelarut fosfat nonsimbiotik.
1. Mikoriza
Di alam terdapat berbagai bentuk simbiosis yang secara tidak langsung dapat meningkatkan produktivitas tanaman, diantaranya ialah cendawan mikoriza. Cendawan ini sering disebut mikoriza vesikula arbuskula (MVA) karena dapat membentuk struktur vesikula pada korteks akar tanaman yang terinfeksi. Vesikula merupakan sruktur seperti kantung di ujung hifa yang mengandung banyak butiran lemak. Vesikula berfungsi sebagai organ penyimpanan. Namun, karena tidak semua cendawan mikoriza berbentuk vesikula, maka beberapa ahli kemudian menyebutnya mikoriza arbuskula (MA).
MA merupakan bentuk hubungan simbiosis mutualisme antara cendawan dengan perakaran tanaman tingkat tinggi. Hubungan simbiosis mutualisme antara inang dengan cendawan meliputi penyediaan fotosintat (karbohidrat) oleh tanaman inang. Sebaliknya, tanaman inang mendapatkan tambahan nutrient yang diambil oleh cendawan dari tanah.
Berdasarkan perkembangannya, cendawan MA dibagi menjadi dua golongsn, yaitu endomikoriza dan ektomikoriza. Endomikoriza adalah cendawan MA simbion obligat sehingga tidak dapat dibiakkan tanpa keberadaan tanaman inang. Hingga saat endomikoiza belum dapat ditumbuhkan dalam medium buatan. Oleh karena itu, penggunaan pupuk mikroba MA golongan endomikoriza masih sangat terbatas. Sementara ektomikoriza dapat dikembangbiakkan dalam medium buatan tanpa inang sehingga peluang penggunaannya secara luas lebih besar. Beberapa contoh cendawan MA yang sudah banyak dimanfaatkan dan dikembangkan adalah dari kelas Zygomycetes antara lain Glomus, Gigaspora, Acaulospora, dan Sclerocystis.
Perkembangan cendawan MA pada umumnya dipengaruhi oleh kondisi rizosfer dan spora cendawan. Kondisi rizosfer adalah kondisi di sekitar perakaran seperti suhu, pH, dan eksudat akar. Sementara kondisi spora cendawan adalah dormansi dan kematangan spora. Pada asosiasi ini infeksi cendawan akar tidak menyebabkan penyakit, tetapi meningkatkan penyerapan unsure hara bagi pertumbuhan tanaman. Infeksi cendawan MA sangat membantu pertumbuhan tanaman, terutama untuk tanah miskin hara.
MA akan dapat menyerap unsure P lebih tinggi 10-27% dibanding tanaman tanpa MA yang hanya 0,3-13%. Cendawan MA pun diketahui dapat meningkatkan kandungan unsure hara lain seperti N, K, S, Zn, Cu, dan Si. Meningkatnya serapan unsure hara tersebut disebabkan oleh adanya hifa eksternal di luar akar yang dapat menjangkau unsure hara yang berada jaun di dalam tanah.
Pada tanah masam yang unsure fosfatnya diikat oleh unsure-unsur logam, penggunaan cendawan MA akan mampu mengonversi fosfat terikat menjadi fosfat tersedia bagi tanaman. Tingginya penyerapan unsure P oleh tanaman dipengaruhi oleh spesies tanaman inang, kandungan P dalam tanah, tingkat infeksi cendawan MA, dan efektivitas jenis cendawan MA.
Sekain meningkatkan penyerapan unsure hara dalam tanah, cendawan MA pun dilaporkan dapat bermanfaat sebagai berikut.
1. Cendawan MA menghasilkan hormone dan zat pengatur tumbuh seperti auksin, sitokinin, dan giberelin. Auksin berfungsi mencegah atau memperlambat penuaan akar sehingga fungsi akar sebagai penyerap unsure hara dan air dapat diperpanjang.
2. Cendawan MA menghasilkan zat antibiotic yang dapat berfungsi sebagai pelindung terhadap pathogen akar.
3. Lapisan hifa yang menyelimuti akar melindungi fisik tanaman, terutama
4. Cendawan MA merangsang aktivitas mikroorganisme tanah yang menguntungkan.
5. Cendawan MA dapat memperbaiki struktur agregasi tanah.
6. Tanaman akan lebih tahan terhadap kekeringan air dan cepat pulih kembali setelah periode kekurangan air.
7. Pemakaian pupuk anorganik menjadi hemat.
Penggunaan cendawan MA di lapangan masih terbatas, terutama golongan endomikoriza. Sementara cendawan ektomikoriza saat ini sudah banyk digunakan pada tanaman kehutanan seperti pinus dan eucalyptus.
2. Bakteri Pelarut Fosfat
Di dalam tanah, ketersediaan unsure P sangat dipengaruhi oleh pH. Pada pH rendah (asam), fosfor (P) akan terikat oleh alumunium (Al) dan besi (Fe). Sementara pada pH tinggi (di atas 7), kalsium (Ca) dan Magnesium (Mg) akan mengikat P. Dengan terikatnya ion P dalam bentuk senyawa fosfat maka unsure ini akan kurang tersedia bagi tanaman, baik pada tanah asam maupun tanah basa. Ketersediaan P berada pada kisaran pH 5,5-7,0.
Untuk meningkatkan ketersediaan P bagi tanaman, selama ini dilakukan pemupukan P seperti TSP dan SP-36 dalam jumlah besar. Artinya, pupuk yang diberikan jauh lebih banyak dibanding yang dibutuhkan tanaman.
Beberapa bakteri tanah yang hidup di sekitar akar (rizofer) mampu mengekskresikan asam-asam organic seperti asam formiat, asam propianat, asam laktat, dan asam fumarat serta membentuk kelat dengan ion Ca2+, Mg2+, Fe3+, dan Al3+ sehingga mampu membebaskan ion fosfat terikat menjadi fosfat yang dapat diserap oleh tanaman. Kelompok bakteri ini disebut bakteri pelarut atau pembebas fosfat.
Bakteri pelarut fosfat tersebar di daerah rizofer karena adanya eksudat akar berupa senyawa karbohidrat dan senyawa bernitrogen. Hal ini menyebabkan populasi bakteri lebih banyak berada di daerah tersebut. Komposisi dan jumlah senyawa yang diekskresikan akar menentukan jumlah dan jenis bakteri.
Keefektifan bakteri pelarut fosfat dapat ditingkatkan dengan cara pemberian kompos. Bakteri akan menggunakan kompos sebagai sumber energy untuk mendukung pengembangbiakan dan peningkatan aktivitas. Dari beberapa penelitian dikemukakan bahwa sebagian besar bakteri pelarut fosfat termasuk dalam genus Pseudomonas, Bacillus, Micrococcus, Enterobacter, Corynebacterium, Mycobacterium, dan Flavobacterium.
Produk inokulan bakteri pelarut fosfat biasanya dikombinasikan dengan bakteri lain seperti rhizobium atau bakteri pelarut kalium. Bakteri pelarut fosfat yang dikombinasikan dengan rhizobium diaplikasikan untuk perlakuan benih, sedangkan kombinasi dengan bakteri pelarut kalium diaplikasikan ke lubang tanam.











BAB III
PENUTUP

Pupuk fosfat wajib memenuhi persyaratan sesuai dengan SNI tersebut, bila produk pupuk tersebut akan diperjualbelikan. Menurut definisi SNI 02–3776– 1995 pupuk fosfat alam adalah bahan galian yang sebagian besar mengandung kalsium fosfat berbentuk bubuk yang dipergunakan untuk penggunaan langsung dalam pertanian.
Pupuk P ini dapat menjadi pupuk alternative pengganti SP-36. Agar penggunaannya efektif, sifat pupuk dan cara pemberiannya perlu diketahui. Kondisi keasaman tanah juga menentukan efektivitas pupuk.
Fosfor merupakan unsur esensial kedua setelah N yang berperan penting dalam proses pertumbuhan tanaman, serta metabolisme dan proses mikrobiologi tanah. Fosfor dalam tanah dibedakan atas fosfor organic dan fosfor anorganik. Fofor organic terdapat dalam humus dan bahan organic lainnya, sedangkan fosfor anorganik berupa fosfor terlarut dalam bentuk ion.
Fosfor dalam tanah, 70% berada dalam keadaan tidak larut (Foth, 1990), hal tersebut sangat berpengaruh terhadap serapan hara lain, khususnya pada saat unsur P menjadi factor pembatas (Foth dan Ellis, 1988). Ketersediaan unsur P dalam tanah ternyata sangat bergantung pada aktivitas mikroorganisme dalam tanah (Amarisi dan Olsen, 1973), seperti adanya aktivitas dari kelompok bakteri pelarut fosfat/BPF (Rao, 1982).
Bakteri pelarut fosfat (BPF) merupakan bakteri tanah yang bersifat non patogen dan termasuk dalam katagori bakteri pemacu pertumbuhan tanaman. Bakteri tersebut menghasilkan vitamin dan fitohormon yang dapat memperbaiki pertumbuhan akar tanaman dan meningkatkan serapan hara (Glick, 1995). Bakteri pelarut fosfat merupakan satu-satunya kelompok bakteri yang dapat melarutkan P yang terjerap permukaan oksida-oksida besi dan almunium sebagai senyawa Fe-P dan Al-P (Hartono, 2000). Bakteri tersebut berperan juga dalam transfer energi, penyusunan protein, koenzim, asam nukleat dan senyawa-senyawa metabolik lainnya yang dapat menambah aktivitas penyerapan P pada tumbuhan yang kekurangan P (Rao, 1994).
Ada dua jenis mikroba pelepas atau pelarut fosfat, yaitu mikoriza (mikroba pelepas fosfat simbiotik) dan bakteri pelarut fosfat nonsimbiotik.



DAFTAR PUSTAKA

Musnamar, Ismawati Effi. PUPUK ORGANIK: cair dan padat, pembuatan, aplikasi. 2008. Bogor: Penebar Swadaya.
http://pustaka.bogor.net/PupukFosfatAlamsebagaiPupukAlternatif.
SNI 02 – 3776 – 1995. Pupuk Fosfat Alam untuk Pertanian. Badan Standardisasi Nasional, Jakarta.
SNI 02–3776–2005. Pupuk Fosfat Alam untuk Pertanian. Badan Standardisasi Nasional.
Jakarta.
Jornal of Aidi Noor: The Effect of Rock Phosphate and Combination of Phosphate-Solubilizing Bacteria and Farm Yard Manure on Soil Available P and Soybean Growth on Utisol
Journal of Sri Widawati Suliasih: Augmentation of potential phosphate solubilizing bacteria (PSB) stimulate growth of green mustard (Brasica caventis Oed.) in marginal soil
Jurnal oleh Eddy Sapto Hartanto: PENERAPAN SNI PRODUK PUPUK FOSFAT ALAM UNTUK PERTANIAN OLEH INDUSTRI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar