Kamis, 10 Juni 2010

karakter anggrek

BAB I
PENDAHULUAN

Spathoglottis merupakan anggrek tanah yang paling umum dijumpai dan banyak dibudidayakan sebagai tanaman taman. Biasanya Spathoglottis ditanam secara massal di dalam bedengan sebagai tanaman pembatas atau tanaman tepi. Warna bunga Spathoglottis bervariasi dari ungu tua, ungu muda, pink, kuning sampai putih. Kurang lebih 40 spesies diketahui tersebar dari Cina selatan, India bagian utara, di Asia Tenggara, Australia, Samoa dan Papua Nugini. Tujuh diantaranya bersifatindigeneus di Filipina. Hasil eksplorasi anggrek Spathoglottis berhasil dikoleksi beberapa spesies anggrek yag berasal dari Jawa, Sulawesi dan Papua. Sebagian besar koleksi anggrek Spatholgottis diperoleh di daerah Jawa. Dari daerah Sulawesi diperoleh spesies anggrek Spathoglottis berwarna putih. Selain dikoleksi anggrek dari Indonesia, juga dikoleksi anggrek yang berasal dari luar Indonesia. Sebagian besar koleksi anggrek dari luar Indonesia berupa hibrid-hibrid yang berasal dari Singapura dan Filipina. Spesies-spesies yang berhasil dikoleksi adalah Spatholgottis plicata dengan variasi warna dan ukuran bunga, mulai dari warna putih, pink, ungu muda, dan ungu tua, S. unguiculata yang berwarna ungu tua bertangkai bunga pendek, S. vanoverbergii berwarna kuning dengan ukuran bunga kecil dan tangkai bunga pendek, S. aurea yang berwarna kuning dengan ukuran bunga besar, S. augustorum yang berwarna putih, dengan ukuran bunga besar. Keragaman karakter Spathoglottis terletak pada tangkai bunga, bunga dan bagian-bagian bunga, sedangkan pada daun tidak terdapat keragaman karakter. Namun terdapat keragaman pada ukuran daun. S. unguiculata dan S. vanoverbergii merupakan sumber tetua untuk tangkai pendek. Sebagian besar koleksi sudah di karakterisasi, dan sudah dimanfaatkan dalam kegiatan hibridisasi. Hasil persilangan antar spesies dan dalam spesies menghasilkan keturunan dengan keragaman corak dan warna bunga yang sempit.
Anggrek secara luas dikategorikan berdasarkan pertumbuhannya: 1) anggrek epifit yang tumbuh menempel di pohon atau bebatuan (litofit), 2) anggrek tanah yang bisanya dikenal dengan terestrial, dengan struktur akar yang dapat tumbuh di tanah. Namun sebagian ada yang dikenal sebagai anggrek semi-terestrial. Anggrek dibedakan dalam dua tipe pertumbuhan yaitu monopodial dan sympodial. Salah satu contoh anggrek tanah adalah Spathoglottis. Spathoglottis merupakan anggrek tropis, terrestrial yang memiliki anggota spesies kurang lebih 40 yang tersebar luas dari Cina bagian selatan, India bagian selatan, Asia Tenggara, Australia, Samoa sampai Kepulauan Pasifik. Duapuluh satu spesies terdapat di Papua Nugini dan tujuh di antaranya bersifat indigenous di Filipina (Holtum, 1972).
Daun Spathoglottis berbentuk seperti palem yang muncul dari pseudobulb (batang semu). Tangkai bunga muncul dari pangkal daun yang bertumpu pada batang semu. Bunga berbentuk tandan, dengan tangkai silindris, yang muncul setiap saat dalam jangka waktu 2 – 3 bulan, dengan kemekaran bunga dimulai dari atas ke bawah.
Warna bunga Spathoglottis bervariasi dari ungu tua, ungu muda, merah ungu, pink, orange, kuning, coklat, putih dan campuran. Ciri lain dari anggrek ini adalah panjang tangkainya, beberapa jenis memiliki panjang tangkai melebihi tinggi tanaman, sedangkan yang lain rangkaian bunga sembunyi di bawah kanopi tanaman karena tangkai bunganya yang pendek. Bunga mekar tidak serempak dalam satu rangkaian bunga, setelah 2-3 hari bunga layu dan diganti dengan bunga yang lain secara berurutan. Jumlah bunga yang mekar pada saat yang sama bervariasi dan jumlah bunga per tangkai bervariasi antara 6-30 bunga/tangkai.
Spathoglottis plicata merupakan spesies yang paling banyak dijumpai. Nama generik Spathoglottis berasal dari bahawa Yunani “spathe” berarti pedang dan “glossa” atau “glotta” yang berarti lidah, mengacu pada karakteristik labellum dari genus (Davis and Steiner, 1982). Nama spesifik :plicata” diperoleh dari penampilan atua lekukan daun yang plicated (karakterisstik botanik yang digambarkan sebagai plicate).
Di Indonesia, Spathoglottis dapat tumbuh di dataran rendah yang panas atau di dataran tinggi yang dingin tergantung speciesnya. Spa. plicata banyak dijumpai di dataran rendah atau sedang, sedangkan Spa. aurea dan Spa. affinis tumbuh baik di dataran tinggi yang dingin (Anonim, 1976).
Tujuan koleksi plasma nutfah adalah untuk menyediakan sumber genetik yang luas. Dari koleksi tersebut pemulia tanaman dapat memperoleh sifat genotipe yang diinginkannya. Dengan demikian agar koleksi plasma nutfah tersebut bermanfaat di bidang pemuliaan, maka data karakterisasi dan data evaluasinya harus tersedia (Engle, 1993).
Plasma nutfah dapat diartikan sebagai investasi dalam pemanfaatan aneka ragam bahan baku industri florikultura di masa mendatang. Oleh karena itu untuk membangun plasma nutfah tanaman hias perlu disosialisasikan untuk merangsang keterlibatan masyarakat luas dalam penghayatan dan pemahaman akan pelestarian plasma nutfah dan teknologi pemanfaatannya industri florikultura Indonesia.
Berdasarkan kegunaannya Spathoglottis merupakan tanaman taman maupun tanaman pot. Meskipun demikian anggrek ini pernah merupakan bunga potong andalan Singapura pada era 30-40 an (Parker, 1994). Sebagai tanaman taman biasanya ditanam secara masal di dalam bedengan, sebagai tanaman pembatas atau tanaman tepi. Oleh karena itu pembuatan suatu taman diperlukan dalam jumlah yang banyak untuk setiap jenisnya.
Pihak swasta di Indonesia kurang berminat menangani jenis anggrek ini, sehingga hibrida baru kebanyakan berasal dari luar negeri terutama Singapura dan Malaysia. Hibrida baru pada umumnya merupakan hasil persilangan antara hibrid yang sudah ada dengan spesies dan sedikit antara hibrida dengan hibrida. Persilangan intergenerik, misalnya dengan Phaius atau dengan anggota sub-tribe Bletiinae belum banyak dilakukan (Comber, 1990). Pada saat ini konsumen menginginkan anggrek Spathoglottis yang memiliki panjang tangkai bunga sedang (+ 50 cm ) agar tidak mudah rebah, berbunga indah serta rajin berbunga. Penelitian ini bertujuan melakukan koleksi dan karakterisasi, guna menyediakan informasi karakteristik anggrek Spathoglottis yang akan digunakan dalam program pemuliaan. Hipotesis : tersedia informasi karakteristik koleksi plasma nutfah anggrek Spathoglottis.















BAB II
PEMBAHASAN

Metode penelitian adalah metode survey yang dilakukan ke petani-petani anggrek, penggemar anggrek atau tukar-menukar dengan instansi lain. Materi yang dikumpulkan merupakan materi koleksi yang memiliki potensial (sebagai tetua) dalam arti memiliki karakteristik unggul sebagai bunga potong, taman maupun bunga pot, dengan sepal/petal tebal, tahan hama dan penyakit serta cekaman lingkungan. Koleksi dalam bentuk tanaman hidup yang dilengkapi dengan data paspor.
Pengamatan karakter tanaman meliputi pengamatan karakter morfologi yang meliputi bentuk bunga dan daun anggrek menurut Bechtel et al. (1981), Cameron dan Chase (1999), Holtum (1972). Hasil pengamatan ditentukan dalam bentuk skor/nilai kategori yang mengacu pada penelitian Tatineni et al. (1996) yang dimodifikasi. Pengamatan karakter agronomi meliputi perhitungan jumlah bunga, pengukuran bagian-bagian bunga. Untuk mengurangi pengaruh skala pengukuran dan kategori yang berbeda dari karakter-karakter yang berbeda digunakan prosedur standardisasi, dengan mentransformasi data melalui prosedur STAND pada program NTSYS, yang pada prinsipnya adalah nilai observasi setiap karakter dikurangi nilai rata-rata karakter tersebut dibagi standard deviasi (Beer et al., 1993; Autrique et al., 1996; Tatineni et al., 1996; Rohfl, 1993). Analisis data yang sudah ditransformasi, menggunakan fungsi Similarity Interval (SIMMINT) pada program NTSYS berdasar koefisien DIST / rata-rata jarak taksonomi:

Keterangan : Eij:rata-rata jarak taksonomi ;i dan j :dua genotipe yang dibandingkan;k:fenotipe; X: nilai pengamatan; :jumlah genotip

A. Koleksi
Hasil eksplorasi plasma nutfah anggrek Spathoglottis di Jawa, Sulawesi dan Papua diperoleh beberapa spesies anggrek Spathoglottis. Sebagian besar koleksi anggrek Spatholgottis diperoleh di daerah Jawa. Dari daerah Sulawesi diperoleh varietas anggrek Spathoglottis berwarna putih.
Beberapa spesies anggrek Spathoglottis yang sudah terkoleksi adalah Spa. plicata. Spa. aurea, Spa. vanoverbergii, Spa. unguiculata dan Spa.augustorum. Spa. plicata warna ungu merupakan anggrek tipe standard yang memiliki penyebaran yang sangat luas dari Sumatera - Philipina, Jenis anggrek ini merupakan spesies anggrek yang banyak dibudidayakan, dengan variasi dalam ukuran dan warna bunga. Variasi warna anggrek ini mulai yang berwarna putih, ungu muda sampai warna ungu tua dan dengan ukuran bunga yang bervariasi (Gambar 1). Anggrek tanah berwarna ungu merupakan anggrek yang umum dijumpai. Sedangkan anggrek Spa. plicata warna putih banyak variasi bentuk dan ukuran, namun sangat jarang dijumpai. Spesies anggrek dengan warna putih banyak terdapat di Sulawesi dan dapat tumbuh baik di tempat koleksi.



Gambar 1. Variasi bunga anggrek Spathoglottis plicata (Variability of Spathoglottis plicata flower)

Spathoglottis sp. (Gambar 2c), bunga kuning pucat, dengan bagian permukaan belakang bercorak warna ungu, keping sisi lebar, membulat di bagian ujung. Spa. vanoverbergii berbunga kuning, agak kecil, berasal dari Pegunungan di Luzon (Filipina), kadang-kadang bersifat deciduous, petal lebih besar dari sepal (lebar petal 1,2-1,3 cm,, sepal 0,7-0,8 cm) (Gambar 2). Spa. aurea, daunnya bercorak keunguan, lebar 4 cm, panjang tangkai daun 10-20 cm. Lebar bunga 6-7 cm warna kuning emas, sepal dan petal berukuran sama, keping sisi dan bibir berbintik merah, calli dan pangkal bibir berbintik merah tersusun secara longitudinal, bibir sempit (lebar 4 mm).

Gambar 2. Koleksi anggrek Spathoglottis berwarna kuning-orange : Spathoglottis aurea, Spatahoglottis Venoverbergii, Spathoglottis sp.dan Spathoglottis unguiculata (Collection of yellow-orange Spathoglottis : Spathoglottis aurea, Spatahoglottis Venoverbergii, Spathoglottis sp. dan spahoglottis unguiculata)

Spathoglottis unguiculata (Gambar 2d), tangkai bunga tegak, kokoh dan pendek. Bunga tidak mengalami perpuntiran, sehingga menghadap ke arah dalam/ke atas pada saat mekar. Warna ungu tua, ukuran kecil. Karakter ini dapat diperbaiki dengan menyilangkannya dengan Spa. plicata. Hasil persilangan dua tetua ini dijelaskan dalam pemanfaatan plasma nutfah.

B. Karakterisasi
Koleksi Spathoglottis yang ada sekarang baru mengarah pada tetua-tetua yang memiliki keragaman karakter panjang tangkai bunga dan warna. Dari 12 nomor aksesi genus Spathoglottis yang sudah terkarakterisasi, terdapat keragaman karakter kualitatif pada bunga terutama bentuk sepal, petal dan warna bunga, sedangkan karakter-karakter pada daun tidak terdapat keragaman (Tabel 1). Hasil analisis yang dilakukan pada 12 aksesi Spathoglotis diperoleh tingkat keragaman karakter-karakter morfologi sebesar 26%. Nilai keragaman karakter tersebut tergolong kecil. Peningkatan keragaman morfologi perlu dilakukan, misalnya dilakukan persilangan dengan genus-genus lain yang kompatibel, contohnya seperti Calanthe dan Bletila/Bletia. Dilihat dari warna bunga, terdapat warna dominan yaitu ungu, kuning, pink dan putih. Namun masing-masing warna memiliki gradasi warna dan keragaman yang luas.


Tabel 1. Keragaman karakter morfologi Spathoglottis (Morphology characters of Spathoglottis)
No. Karakter fenotipik (phenotypic characteristic) Keragaman karakter fenotipik (variability of pehnotipic charactreristic)
1 Bentuk daun (leaf shape) Subulate
2 Bentuk sepal lateral (lateral sepal shape) Acuminate
3 Bentuk ujung daun (apex leaf shape) Plicate
4 Penampang melintang daun (leaf cross section) Glabrouse
5 Tekstur permukaan daun (leaf of surface texture) Entire
6 Tipe tepi daun (leaf margin) Green group : 137B, 146A
7 Warna daun (leaf color) Star
8 Bentuk bunga (flower shape) Elliptic, ovate, lanceolate
9 Bentuk sepal dorsal (dorsal sepal shape) Elliptic, ovate, lanceolate
10 Bentuk petal (petal shape) Elliptic, ovate
11 Bentuk ujung sepal dorsal (dorsal sepal apex shape) Acute, obtuse
12 Bentuk ujung sepal lateral (lateral sepal apex shape) Acute, obtuse
13 Bentuk ujug petal (petal apex shape) Acute, obtuse
14 Posisi lekuk bibir (lip lobe position) Pangkal/base
15 Arah menghadap bunga (flower direction) Segala arah, satu arah ke atas/all direction/one way
16 Mekar bunga (flatness of flower) Flat, non flat
17 Corak bunga (color pattern of flower) Polos, bergaris/berbintik
18 Resupinasi (resupination) Ada, tidak ada/present, absent
19 Ada/tidaknya spur (present/absent of spur) Tidak ada/absent
20 Tipe pembungaan (inflorescence type) Racemose
21 Posisi pembungaan (inflorescence position) Basal


Hasil analisis kuantitatif berdasarkan ukuran bunga dan panjang tangkai bunga diperoleh tiga kelompok ukuran bunga (Tabel 2.). Ukuran bunga besar didominasi oleh hibrid-hibrid. Sedang bunga tipe standar, panjang tangkai bunga berkisar antara kecil sampai sedang. Informasi ini diperlukan apabila akan dirakit tanaman Spathoglottis pot dengan tangkai bunga yang pendek. Namun karakter panjang tangkai bunga belum tentu diwariskan pada keturunannya, apabila karakter tersebut dikendalikan oleh banyak gen. Sehingga informasi mengenai kendali genetik sangat diperlukan sebelum melakukan persilangan.
Selain dikoleksi anggrek dari Indonesia, juga dikoleksi anggrek yang berasal dari luar Indonesia. Sebagian besar koleksi anggrek dari luar Indonesia berupa hibrid-hibrid yang berasal dari Singapura dan Filipina. Sebagian besar koleksi tersebut bertangkai panjang. Beberapa spesies seperti Spa. plicata dan Spa. aurea telah dimanfaatkan dalam persilangan. Balithi telah berhasil melepas 3 varietas dari hasil persilangan interspesifik anggrek tanah tersebut.
Tabel 2. Pengelompokan aksesi berdasarkan ukuran bunga dan panjang tangkai bunga (Accession cluster based on flower size and length of peduncle)
No. Karakter (Character) Pengelompokan aksesi (accession clustering)*
Besar/Panjang (big/length) Sedang (medium) Kecil/Pendek (small/short)
1. Ukuran bunga (flower size) Ag171-011, Ag171-023, Ag171-016, Ag171-022 Ag171-003, Ag171-004, Ag171-020, Ag171-007, Ag172-001, Ag171-021-1, Ag171-021-2, Ag171-021-3
2. Panjang Tangkai bunga (length of peduncle) Ag171-023 Ag172-001, Ag 171-020, Ag171-022 Ag171-007, Ag171-021-2, Ag171-003, Ag171-021-3
Kerterangan : * pengelompokan berdasarkan rata-rata jarak taksonomi yang distandardkan(Remark :* clustering based of standardized Average Taxonomic Distance)

Sebagian besar anggrek tanah ini tidak tahan genangan, sehingga media yang digunakan sebaiknya yang memiliki drainase yang baik. Terlalu banyak air menyebabkan tanaman cepat mengalami pembusukan terutama tanaman yang masih muda. Pengganggu tanaman yang sering dijumpai adalah lalat putih yang biasanya menempel pada permukaan bawah daun. Serangan hama yang hebat menyebabkan tanaman mati.









BAB III
PENUTUP

Pemanfaatan plasma nutfah untuk kegiatan pemuliaan dalam hal ini untuk mendapatkan klon-klon baru, telah dilakukan pada tanaman Spathoglottis, dan sebagian varietas baru sudah dilepas.

Gambar 3. Klon-klon hasil persilangan antara Spa. plicata dengan Spa. unguiculata (Clones from Spa. plicata and Spa. unguiculata crossing)
Persilangan antara Spa. plicata dengan Spa. unguiculata dilakukan untuk mendapatkan klon-klon dengan karakteristik tangkai bunga kokoh, dengan warna bunga ungu cerah, dengan jumlah tangkai bunga yang banyak yang merupakan warisan dari Spa. unguiculata. Hasil persilangan kedua tersebut disajikan pada Gambar 3. Karakter warna bunga Spa. unguiculata sangat kuat diwariskan ke keturunannya. Hal ini terlihat dari sebagian besar keturunannya memiliki warna bunga ungu tua. Karakter non resupinasi pada Spa. unguiculata dapat dieliminasi dengan seleksi klon-klon. Bentuk sepal dan petal yang bulat pada umumnya dimiliki klon-klon yang bertangkai bunga panjang. Sedangkan bentuk bunga bintang dimiliki oleh klon-klon bertangkai bunga pendek.
Persilangan lain juga dilakukan dengan mengkombinasikan warna bunga kuning dari Spa. aurea dengan S. plicata yang berwarna ungu tua dan diperoleh klon-klon dengan warna kombinasi keduanya (Gambar 4).

Gambar 4. Hasil persilangan antara Spa. aurea dengan Spa. plicata (Pedigree from Spa. aurea and Spa. plicata cossing)
Karakter warna bunga Spa. aurea mendominasi keturunan-keturunan yang dihasilkan, namun sebagian besar intensitas warna kuning berkurang. Spa. plicata mewariskan warna ungu pada labellum di keturunannya. Hasil persilangan tidak memberikan variasi corak bunga. Sebagian besar corak bunga adalah tipe splash, dan polos dengan warna ungu di tepi petal serta ketebalan warna ungu yang bervariasi,

DAFTAR PUSTAKA

http://perhimpunananggrekindonesia/koleksi-dan-karakteristik/blogspot.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar