Kamis, 10 Juni 2010

konsep kebenaran ilmu

BAB I
PENDAHULUAN

Perkembangan peradaban manusia jauh lebih cepat dibandingkan dengan makluk lainnya di dunia ini. Sejak kelahirannya di dunia manusia terus berkembang dan mengembangkan dirinya demi mencapai kenikmatan, kesenangan, kesejahteraan, dan berbagai keindahan hidup lain, yang bisa jadi tidak pernah dinikmati oleh binatang, atau makluk lain ciptaan Allah SWT. Peradaban yang terus berkembang pada dasarnya didorong oleh hasrat manusia yang tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Manusia selalu ingin mendapatkan lebih dari apa yang dimiliki. Hasrat ini, disatu sisi mendorong manusia untuk terus berusaha melakukan perubahan dan menemukan hal-hal baru, namun di sisi lain sering mendorong manusia terjerumus ke dalam “jurang” yang tidak berujung.
Peradaban manusia pada hakikatnya adalah hasil dari proses upaya manusia untuk menemukan sesuatu yang baru untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Berbagai upaya yang dilakukan manusia berbeda, karena tuntutan kebutuhan yang berbeda. Bisa juga perbedaan tersebut diakibatkan oleh cara dan proses yang dilakukan antara satu manusia dengan manusia lainnya berbeda. Justru perbedaan inilah yang menghasilkan dan memperkaya peradaban manusia tersebut.
Salah satu wujud peradaban manusia yang sangat cepat berkembang adalah dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan pada bidang ini selain mendorong dirinya untuk berkembang juga mendorong bidang lain untuk terus juga ikut berkembang, seperti kemajuan dalam bidang teknologi komunikasi dan informasi yang sangat mengagumkan. Sama halnya dengan bidang lain, sudah menjadi sunatullah, bidang inipun dalam perkembangannya beragam dan bervariasi. Keberagaman ini disebabkan oleh banyak factor diantaranya disebabkan oleh cara, proses, asal-usul, dan hubungannya (epistemology) dengan manusia dalam mengembangkan ilmu dan pengetahuan yang menjadi minat dan perhatiannya yang juga berbeda.
Masing-masing bidang tentu memberi dampak dan manfaat yang berbeda bagi kehidupan manusia; masing-masing memberi kepuasan dengan jenis dan tingkat yang berbeda. Sehingga satu bidang ilmu pengetahuan dan teknologi tidak bisa mengklaim bahwa hanya bidangnyalah yang paling benar, paling bermanfaat, dan paling penting dalam kehidupan manusia. Dalam hal ini diperlukan keterbukaan sikap pada setiap individu yang mengembangkan suatu bidang atau disiplin ilmu pengetahuan dan teknologi dan memperhatikan prinsip holistik dalam upaya mencari kebenaran ilmu yang diusungnya.
Keragaman dan perbedaan antara satu pengetahuan dengan pengetahuan lain sering bertentangan atau dipertentangkan. “Pertentangan” antar-ilmu pengetahuan ini disebabkan karena cara, proses, dan sumber (epistemology) ilmu pengetahuan sendiri yang berbeda memang tidak bisa dihindari. Dilihat dari sumbernya, berbagai kategori telah berkembang, seperti sumber ilmu pengetahuan yang berasal dari barat dan timur, ilmu pengetahuan tradisional dan modern, dan kategori lainnya. Sumber ilmu pengetahuan barat yang berasal dari proses pemikiran yang rasional dan empiris, berbeda dengan sumber ilmu pengetahuan timur yang berasal dari intuisi dan wahyu; Sebagai contoh, teori kepribadian barat yang dinilai bersifat relatif dan tidak mutlak, berbeda dengan teori sufis dari timur yang dinilai bersifat mutlak.
“Pertentangan” antarkedua kutub terus berlangsung, masing-masing merasa yang paling benar. Hal ini disebabkan oleh karena kedua “kutub” masing-masing menggunakan terminology dan indicator yang berbeda dalam menentukan kebenaran dari ilmu yang dikembangkannya. Teori kepribadian sufis, misalnya, menilai dirinya sebagai teori yang universal karena tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, dan dapat diterjemahkan ke dalam realitas kehidupan. Sedangkan teori saintifik modern lebih terbatas oleh waktu, tertutama bila tidak didukung oleh penemuan-penemuan terbaru.
Para filosof Islam, misalnya, meyakini bahwa Islam memiliki sejumlah pilar utama dalam pencarian kebenaran (epistemologi), salah satunya adalah tasawuf. Aspek epistemologi Islam ini dapat dijadikan sebagai alternatif di jaman modern ini dimana kebanyakan manusianya telah dikuasai oleh hegemoni paradigma ilmu pengetahuan positivistic-empirisme dan budaya barat yang materialitik dan sekularistik. Al-Hussaini menilai bahwa filsafat pengetahuan barat yang hanya menilai keabsahan ilmu pengetahuan semata-mata yang bersifat induktif-empiris, rasional-deduktif, dan pragmatis, serta menafikkan atau menolak ilmu pengetahuan non-empiris dan non-positivisme, merupakan suatu masalah yang akut. Karena pada saat paradigma ini berhasil menemukan cabang disiplin suatu ilmu, maka penemuannya sering mereduksi sebuah kenyataan menjadi hanya kumpulan fakta dan bersifat material. Adam Smith, misalnya, pada saat bicara teori ekonomi, ia bicara tentang prinsip “mekanisme pasar”, dan Charles Darwin dalam biologi berbicara tentang “mekanisme evolusi”. Jelas ini menampikkan peran Penguasa, Tuhan Yang Maha Kuasa, yang telah mengatur seluruh sendi kehidupan manusia. Dengan kata lain, paradigam mekanistik-materialistik telah mengesampingkan Tuhan dari wacara keilmuan dan mempromosikan sekularisme (Al-Hussaini, 2007).
KondiSI tersebut mendorong digunakannya berbagai cara, proses dan sumber ilmu (epistemologi) yang menyeluruh (holistik) dan komprehensif. Dengan demikian, maka pengembangan epistemology berwawasan holistik akan kebenaran pengetahuan selalu bersifat intersubjektif, dimana keberadaan suatu ilmu tidak direduksi ke dalam satu aspek kebenaran dan kepastian tertentu saja. Hal ini sejalan dengan esensi dari epistemologi, yaitu suatu usaha membiarkan pikiran untuk mencapai pengenalan akan esensinya sendiri, dan berusaha mengekspresikan dan menunjukkan kepada dirinya sendiri tentang dasar-dasar kepastian yang sifatnya utuh, kokoh, dan holistik (Watloly, 2001).
Namun dari semuanya ini, tetap saja konsep kebenaran ilmu hanya akan didapat dari Al-Quran dan Sunnah Rasul.





















BAB II
PEMBAHASAN

Ayat Kauniah dan Kauliah merupakan dua ayat yang menjadi dasar dari konsep kebenaran ilmu. Kebenaran ilmu semuanya bersumber dari Al-Qur’an yang merupakan sumber dari segala sumber. Dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul terdapat nyata wahyu Allah yang mutlak. Ayat tersebut disebut Ayat Kauliah, ayat yang dimana Allah menetapkan wahyu-wahyunya, dan ketetapan yang tersirat akan kejadian atau segala seseuatu yang dikandung ayat tersebut merupakan Ayat Kauniah.
Ayat-ayat kauliah dan kauniah keduanya memerlukan integrasi yang sangat penting. Ayat kauliah adalah ayat-ayat yang tertulis sedangkan ayat kauniah adalah yang tidak tertulis. Ayat kauniah menguatkan ayat-ayat kauliah. Ilmu kauniah Allah mempunyai sifat tak terbatas, seperti fisika modern, mekanika, ilmu-ilmu kedokteran, dll. Korelasi antara kauliah dan kauniah, bahwa kauliah adalah syarat untuk ayat kauniah sedangkan kauniah merupakan bukti untuk ayat kauliah.
Pada hakikatnya, mempelajari ayat ini, adalah kewajiban bagi manusia sebagai seorang yang beriman dan berilmu.
Beberapa contoh ayat-ayat kauniah diantaranya:
Dalam surat An-Nissa ayat 56:
•           •          
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat kami, kelak akan kami masukkan mereka ke dalam neraka. setiap kali kulit mereka hangus, kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Surat Yunus ayat 32:
             
Artinya: “Maka (Zat yang demikian) Itulah Allah Tuhan kamu yang Sebenarnya; Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?”
Ayat ini merupakan ayat tentng nasib Fir’aun. Dr. Masbukhair seorang dokter spesialis bedah yang membuktikan bahwa Fir’aun meninggal dengan cara tenggelam, ternyata benar. Bahwa dalam paru-paru dan ususnya ditemukan ganggang merah yang khas laut merah.
Sedangkan gambaran ayat kauliah salah satunya dapat dilihat dalam Al-Qur-an surat Al-Zalzalah, dan bisa kita renungkan :
                  •       ••                  
Artinya: “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), Dan bumi Telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, Dan manusia bertanya: "Mengapa bumi (menjadi begini)?", Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, Karena Sesungguhnya Tuhanmu Telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.”

Kandungan ayat ini, yaitu apabila bumi diguncangkan dengan dahsyat, dan bumi mengeluarkan kandungannya, dan manusia bertanya mengapa jadi begini ? Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah mewahyukan yang demikian kepadanya. Maka semua yang terjadi di bumi yang kita huni ini, berupa bencana yang tidak dapat kita lupakan, yang selalu membuat kita bertanya kenapa ini terjadi? Sesungguhnya semua itu adalah ketetapan Allah yang telah diwahyukannya dalam Al-Qur’an.
Bumi telah memuntahkan isinya itu diantaranya, di Lapindo dan tempat-tempat lain, bumi guncang sejak Tsunami, Gempa Yogya, dan goncangan-goncangan lain yang hampir tidak ada hentinya. Sungguh makna-makna yang tersurat dari ayat kauliah di atas telah dipaparkan melalui ayat Kauniah. Secara tersirat, kegoncangan-kegoncangan kehidupan manusia di muka bumi ini juga semakin nyata, krisis global, AIDS yang tak kunjung mereda, sudah disusul SARS, Flu Burung dan Flu Babi. Belum lagi Global Warming, dan Black Hole yang semakin menganga.
Semuanya ini akan mendorong hati kita untuk bertanya, ada apa ini ? Zoonosis baru, krisis global, dan berbagai fenomena alam adalah ayat-ayat kauniyah yang sudah barang tentu sangat sarat Hikmah. Tinggal pilihan kita, akankah kita melanjutkan melangkah di bumi ini berbekal hikmah yang kita terima, ataukah dengan langkah pongah, tetap bersujud pada syahwat duniawiah dan karakter syaithoniah ?
Dalam berbagai bencana yang terjadi tersebut, seperti bencana gempa dan lainnya, kita perlu merenung kembali tentang hakekat penciptaan alam semesta ini. Karena pada prinsipnya Sunnatullah berjalan sesuai keseimbangan yang telah ditetapkan. Ada siang, ada malam, ada panas, ada dingin dst. Jika keseimbangan itu terganggu maka Allah akan menyeimbangkan kembali melalui acara yang tidak dapat kita duga. Segala sesuatu kejadian di muka bumi merupakan ketetapan Allah.
Dengan melihat ayat-ayat tersebut, sebenarnya pemanahaman akan ayat kauniah akan membuat manusia lebih takut kepada Allah. Ayat Kauliah sendiri bertujuan untuk mengetahui Allah dengan tepat dan akurat sedangkan kauniahnya untuk memperluas dan memperdalam pemahaman tersebut.
Ayat kauliah dan kauniah dipadukan secara kuat oleh Ibu Sina. Ayat-ayat yang ada dalam Al-Qur’an diperkuat dengan pembuktian-pembuktian dalam dunia kedokteran, yang akan membuat manusia kagum dengan ayat-ayat yang tertulis dalam Al-Qur’an.
Ayat-ayat lainpun banyak yang merupakan ayat-ayat kauniah dan kauliah ini, misalnya:
Surat Al-Baqarah ayat 147:
     •   
Artinya: “Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.”
Surat Yunus ayat 51
            
Artinya: “Kemudian apakah setelah terjadinya (azab itu), Kemudian itu kamu baru mempercayainya? apakah sekarang (baru kamu mempercayai), padahal sebelumnya kamu selalu meminta supaya disegerakan?”
Dan masih banyak ayat Al-Qur’an lainnya, misalnya tentang hujan, siklus hidrologi, pembentukan sungai, dan lain-lain.
Ayat kauliah dan kauniah yang merupakan pembentuk konsep kebenaran ilmu ini haruslah menjadi dasar kebenaran, yang mana adalah teori consensus yaitu apapun yang disetujui bersama kebenaran agama. Karena semua yang tertuang itu bersifat mutlak yang merupakan pengukur kebenaran, yang mana jika terjadi keraguanpun jika itu terjadi karena bertentangan dengan kebenaran yang nisbi (relative dan eksperimentatif). Jika terjadi keraguan dan menyebabkan pertentangan maka diuji kembali kesimpulan yang didapat tersebut atau menguji kembali pemahaman manusia terhadap wahyu. Pada dasarnya, wahyu dan alam semesta berasal dari Allah SWT, dan mustahil menjadi pertentangan.




















BAB III
PENUTUP

Perkembangan peradaban umat manusia didorong oleh adanya perkembangan ilmu pengetahuan yang beragam baik jenis maupun lingkupnya. Keragaman ilmu pengetahuan tersebut diakibatkan oleh fokus, proses, dan cara pengembangannya yang berbeda, dan dikembangkan untuk mengatasi masalah hidup manusia yang juga berbeda. Kondisi ini justru menghasilkan peradaban manusia menjadi lebih beragam dan kaya. Perkembangan ilmu yang beragam menghasilkan bipolaritas dalam ilmu itu sendiri. Pengkategorian ilmu tidak bisa dihindari, seperti sumber ilmu pengetahuan yang berasal dari barat dan timur; ilmu pengetahuan tradisional dan modern; ilmu yang bersifat induktif-empiris, rasional-deduktif, dan pragmatis. Aspek epistemologi Islam mengingatkan bahwa di jaman modern ini kebanyakan manusia telah dikuasai oleh hegemoni paradigma ilmu pengetahuan positivistic-empirisme dan budaya barat yang materialistik dan sekularistik, serta menampikkan peran Penguasa, Tuhan Yang Maha Kuasa, yang telah mengatur seluruh sendi kehidupan manusia. Kemajemukan dan keanekaragaman karakteristik hidup dan kehidupan manusia, memerlukan ilmu yang berbeda yang saling bekerja sama secara komprehensif.
Tetapi kebenaran konsep ilmu tetap saja yang paling utama yaitu bergantung pada ilmu Allah yaitu ayat kauliah dan kauniah sebagai patokannya, yang menjadi kewajiban manusia untuk memahami dan mempelajarinya, karena wahyu Allah yang tidak pernah diragukan tidak akan menimbulkan pertentangan, dan semua wahyu Allah jelas bukti kebenarannya.











DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an
Abu Zaid, Nashr Hamid. Mafhum al-Nas. Tekstualitas al-Qur’an ; terj. Khoiron Nahdliyyin. 2005. Yogyakarta: LkiS.
masyhur, Kahar. Pokok-Pokok Ulumul Qur’an. 1992. Jakarta: Rineka Cipta.
http://www.ilmupendidikan.net/2008/04/22/bijakkah-kita-melihat-kebenaran-ilmu.php
http://www.radartegal.com/Pahami-Makna-Hidup-dari-Ayat-Kauliah-danKauniah.html
http://gusrial58.blogspot.com/2009/05/ayat-allah-kauniyah-dan-kauliyah.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar