Kamis, 10 Juni 2010

laporan ilmu tanah dan pemupukan: fosfor,kapur,nitrogen

I. Judul : Penetapan Fosfor Tersedia (Metode Bray I)
II. Prinsip :
 fosfat diekstraksi dengan larutan NH4Cl-HC encer. Pada penambahan larutan asam molibdat, sebagai reduksi agent digunakan asa ascorbic. Kemudian diukur dengan kalor meter pada panjang gelombang 660 nm.
 Dengan penambahan NaHCO3 0,5 M pH 8,5, maka senyawa c-P akan dikomplekskan sehingga dapat dibebaskan. Dengan penambahan pereaksi P maka akan terbentuk warna biru.
 Dengan penambahan HCl 25%, maka akan bentuk P-tersedia dan P-cadangan pada tanah akan dibebaskan ke dalam lautan. Dengan penambahan pereaksi pewarna fosfor (Reagen P), maka akan terbentuk warna biru
III. Dasar Teori :
Fosfor ialah zat yang dapat berpendar karena mengalami fosforesensi (pendaran yang terjadi walaupun sumber pengeksitasinya telah disingkirkan). Fosfor berupa berbagai jenis senyawa logam transisi atau senyawa tanah langka seperti zink sulfida (ZnS) yang ditambah tembaga atau perak, dan zink silikat (Zn2SiO4)yang dicampur dengan mangan. Kegunaan fosfor yang paling umum ialah pada ragaan tabung sinar katoda (CRT) dan lampu fluoresen, sementara fosfor dapat ditemukan pula pada berbagai jenis mainan yang dapat berpendar dalam gelap (glow in the dark). Fosfor pada tabung sinar katoda mulai dibakukan pada sekitar Perang Dunia II dan diberi lambang huruf "P" yang diikuti dengan sebuah angka.
Fosfor memainkan peranan yang sangat diperlukan seperti satu bahanb baker yang sangat universal untuk semua aktifitas biokimia dalam sel hidup. Ikatan Adenosin Trifosfat (ATP) yang berenergi tinggi melepaskan energi untuk kerja bila diubah menjadi Adenosin Difosfat ( ADP). Fosfor merupakan unsur yang sangat penting untuk tulang dan gigi. Hubungan fosfor dalam tanah dan tanaman untuk kesehatan hewan yang digembalakan diketahui dengan baik. Disini, perhatian akan dipusatkan pada perkembangan pengertian keadaan alami fosfor dari tanah dan kondisi yang mengendalikan pengambilan fosfor dari tanah oleh tanaman.
Biasanya fosfor membatasi pertumbuhan tanaman. Masalah utama dalam pengambilan fosfor dari dalam tanah oleh tanaman adalah daya larut yang rendah dari sebagian besar senyawa fosfor yang mengakibatkan konsentrasi yang rendah untuk dapat digunakan dalam larutantanah pada suatu waktu. Dan fosfor yang tersedia kebanyakan terdapat sebagai H2PO4- dalam larutan tanah. H2PO4- diimobolosasi oleh tanamandan jasad renik dan sejumlah fosfor yang nyata dalam tanah diubah menjadi bentuk organic dimineralisasi.
Siklus Fosfor dalam Tanah
Kulit bumi mengandung kira-kira 0,1 % fosfor. Berdasarkan hal ini, fosfor dalam satu hektas irisan alur kebanyakan tanah dapat menghasilkan 50.000 bushel biji-bijian ( 20.000 bushel per are ). Ini tidak termasuk v yang dapat diabsorbsi oleh akar pada kedalaman dibawah lapisan bajak. Fosfor bagaimanapun umumnya membatsi pertumbuhan tanaman. Masalah utama dalam pengambilan fosfor dari tanah oleh tanaman adalah kelarutan yang rendah dari sebagian besqar campuran fosfor dan konsentrasi fosfor yang dihasilkan sangat rendah dalam lapisan tanah pada setiap waktu tertentu. Sebagian besar fosfor dalam batuan beku dan bahan induk tanah terjadi sebagai apatit.. Apatit menahan perlahan-lahan dan fosfor tersedia terjadi sebagian besar H2POS- dalam larutan tanhah. H2PO4- diimobilisas oleh tanaman dan mikroorganisme; jumlah fosfor yang nyata dalam tanah diubah ke dalam bentuk organic selam pembentukan tanah. Seperti halnya dengan nitrogen fosfor organic dimineralisasi m( proses 3) untuk melengkapi sub siklus dari keseluruhan siklus fosfor di atas.
Fosfor di dalam tanah dapat dibedakan dalam dua bentuk yaitu P-organik dan P-anorganik. Kandungannya sangat bervariasi tergantung pada jenis tanah, tetapi pada umumnya rendah , Gambar 20 menunjukkan bagian dunia yang kekuranagn P. Posfor organik di dalam tanah terdapat sekitar 50% dari P total tanah dan bervariasi sekitar 15-80% pada kebanyakan tanah. Bentuk-bentuk fospat ini berasal dari sisa tanaman, hewan dan mikrobia. Di sini terdapat sebagai senyawa ester dari asam orthofospat yaitu inositol , fosfolipid, asam nukleat, nukleotida, dan gula posfat. Tiga senyawa yaitu inositol fospolopid dan asam nukleat amat dominan dalam tanah.Inositol fospat dapat mempunyai satu sampai enam atom P setiap unitnya, dan senyawa ini dapat ditemukan dalam tanah atau organisme hidup (bakteri) yang dibentuk secara enzimatik. Asam nukleat sebagai DNA dan RNA menyusun 1-10% P-organik total. Sel-sel mikrobia (bakteri) sangat kaya dengan asam nukleat. Jika organisme tersebut mati maka asam nukleatnya siap untuk dimineralisasi.
Ketersediaan P-organik bagi tanaman sangat tergantung pada aktivitas mikrobia untuk memineralisasikannya. Namun seringkali hasil mineralisasi ini segera bersenyawa dengan bagian-bagian anorganik untuk membentuk senyawa yang relatif sukar larut. Enzim fostafase berperan utama dalam melepaskan P dari ikatan P-organik. Enzim ini banyak dihasilkan dari mikrobia tanah,terutama yang bersifat heterotrof. Aktivitas fosfatase dalam tanah meningkat dengan meningkatnya C-organik,tetapi juga dipengaruhi oleh pH , kelembaban temperatur dan faktor lain.Dalam kebanyakan tanah total P-organik sangat berkorelasi dengan C-organik tanah, sehingga mineralisasi P meningkat dengan meningkatnya C-organik. Semakin tinggi C-organik dan semakin rendah P-organik semakin meningkat immobilisasi P.
Ada 3 macam penetapan fosfor dalam tanah, yaitu:
1. Penetapan fosfor tersedia
Mengukur jumlah fosfor tersedia yang dapat diserap (absorbs) oleh tanaman dengan mempergunakan ekstrak Bray dan Kurtz I (HCl 0,025 N + NH4F 0,03 N) serta Bray II 9HC 0,1 N + NH4F 0,03 N), khususnya metode ini dikembangkan untuk tanah-tanah masam tetapi baik juga untuk tanah netral. Sedangkan metode olsen untuk tanah alkalis/ berkapur.
2. Penetapa fosfor cadangan (P potensial)
Penetapan ini terutama untuk mengukur jumlah P-tersedia dan tidak tersedia yang terikatoleh kompleks jerapan.
3. Penetapan fosfor total
Mengukur jumlah P-keseluruhan di dalam tanah dengan pengekstrak (double acid) adalah dengan larutan pengekstrak 0,05N Hcl di dalam 0,025n H2SO4. Sangat cocok diterapkan pada tanah berpasir masam dengan kapasitas tukar kation (KTK) rendah.




IV. Alat dan Bahan :
Alat:
• Botol kocok 50 ml
• Corong saring
• Labu Erlenmeyer 100 ml
• Labu ukur 25 ml
• Mesin pengocok
• Pipet ukur 1 ml dan 5 ml
• Tabung reaksi
• Spektrofotometer dengan filternya yang mempunyai panjang gelombang 600 nm
Bahan:
• Tanah
• Pengekstrak Bray I
• Reagen fosfor

V. Cara Kerja :
1. Timbang 2 gram contoh tanah ke dalam botol kocok, tambahkan 20 ml larutan engekstrak Bray I
2. Kocok selama 5 menit, kemudian cepat saring dengan kertas saring dan filternya ditamoung ke dalam labu Erlenmeyer yang bersih dan kering
3. Pipet 5 ml filtrate tsb ke dalam tabung reaksi, kemudian tambahkan 5ml reagen fosfor (P), biarkan +15 menit
4. Selanjutnya ukur absorbancenya pada spectrophotometer dengan panjang gelombang (λ) 660 nm, pengukuran dilakukan setelah mengukur larutan standar (ppm P2O5)
5. Catat hasil pengukurannya (nilai absorbancenya)






VI. Pengamatan, Perhitungan dan Pembahasan:
ppm P2O5 = ppm P2O5 dalam larutan contoh x 20
2
Ket: ppm P2O5 dalam larutan contoh dicari dengan menggunakan regresi linier
Ŷ = a + bx
No X
(ppm P2O5/ standar )
Y
(Nilai Absorbance) X2 Y2 XY
1 0 0 0 0 0
2 0,25 0,09 0,0625 0,0081 0,0225
3 0,50 0,13 0,25 0,019 0,065
4 1 0,06 1 0,0036 0,06
5 2 0,25 4 0,0625 0,5
6 4 0,42 16 0,14 1,68
7 6 0,58 36 0,3364 3,48
8 8 0,82 64 0,6724 6,56
εn= 8 εX=21,75 εY=2,35 εX2=121,313 εY2=1,2763 εXY=12,375
Persamaan regresi linear Ŷ = a + bx  (x) = Ŷ – a
b
Ŷ= 0,1
Untuk mencari nilai a dan b digunakan rumus:
b = εXY – (εX) (εY)
n_____
εX2 – (εX)2
n
a = εY – b (εX)
n n
criteria hasil penilaian hasil analisis
Hasil analisis Sangat rendah rendah sedang tinggi Sangat tinggi
P2O5 Bray (ppm) <10 10-15 10-25 26-35 >35
Dari percobaan diatas dapat dihitung:
b = 12,375 – (21,75) (2,35)
8______
121,313 – (21,75)2
8
= 12,3675 – 6,4
121,313 – 59,1
= 5,9675 = 0,09
62,213
a = 2,35 – 0,09 (21,75)
8 8
= 0,3 – 0,24 = 0,06
Ŷ= 0,1
0,1 = 0,06 + 0,09 X
X = 0,1 – 0,06 = 0,44
0,09

VII. Kesimpulan
Dari hasil pengujian dan perhitungan pada contoh tanah dapat diketahui bahwa kadar P-tersedia adalah sangat rendah.
I. Judul : Penetapan Kebutuhan Kapur Tanah di Laboratorium (Metode Hudig)
II. Prinsip : tanah masam dititer dengan KOH 0,1 N, kemudian pH tanahnya ditetapkan secara elektromagnetis dengan pH meter

III. Dasar Teori :
Kapur dalam tanah memiliki asosiasi dengan keberadaan kalsium dan magnesium tanah. Hal ini wajar, karena keberadaan kedua unsur tersebut sering ditemukan berasosiasi dengan karbonat. Secara umum pemberian kapur ke tanah dapat mempengaruhi sifat fisik dan kimia tanah serta kegiatan jasad renik tanah. Bila ditinjau dari sudut kimia, maka tujuan pengapuran adalah menetralkan kemasaman tanah. Perlu diketahui bahwa tanah yang memiliki kandungan kapur yang tinggi, belum tentu tanah tersebut juga memiliki tingkat kesuburan yang tinggi. bisa terjadi suatu kapur itu menjadi racun karena kapur akan menyerap unsur hara dari dalam tanah, dimana unsur hara tersebut dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhannya
Kadar kapur tertinggi sampai terendah adalah tanah alfisol, entisol, vertisol, rendzina, dan ultisol. Bahan induk pada tanah alfisol ialah kapur dengan jeluk air sekitar 50 m. Adapun bahan induk pada tanah vertisol ialah kapur dan gamping. Kemudian pada tanah rendzina bahan induknya juga kapur, karena pengangkatan karst. Bahan induk tanah entisol dan ultisol berturut-turut ialah abu vulkan serta konglomerat dan breksi.
Kandungan Ca dan mg yang tinggi dalam tanah berhubungan dengan taraf perkembangan tanah tersebut, semakin kuat pelindian / semakin tua tanahnya, akan semakin kecil pula kandungan kedua zat tersebut. Kadar tinggi berkaitan dengan pH yang netral atau agak kalis. Sebagai unsur hara makro Ca dan Mg mempunyai fungsi yang penting pada tanaman. Kalsium (Ca) berperan sebagai penyusun dinding sel tumbuhan dan sering pula menjonjotkan / menetralkan bahan racun dalam jaringan tanaman. Magnesium (Mg) merupakan komponen dari klorofil dan berperan pula dalam pembentukan lemak dan minyak pada tumbuhan. Kekurangan kedua zat ini dalam tanah dapat menghambat perkembangan normal pad jaringan muda.
Kandungan kapur dari setiap jenis tanah berbeda-beda. Bahkan kandungan kapur dari lapisan atas tentu berbeda dengan lapisan di bawahnya. Hal ini disebabkan oleh adanya proses pelindian kapur pada lapisan atas oleh air yang akan diendapkan pada lapisan bawahnya. Selain itu keberadaan kapur tanah sangat dipengaruhi oleh batuan induk yang ada disuatu lokasi. Dalam percobaan ini dilakukan analisis kapur dengan menggunakan metode gravimetric yang dikenal dengan penetapan kadar kapur setara tanah dengan menggunakan alat calcimeter dan khemikalia HCl. CO2 yang menguap dalam penentuan kapur akan diukur menurut reaksi :
CaCO3 + 2 HCL CaCl2 + H2O + CO2
Perbedaan kadar kapur pada berbagai jenis tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain komposisi bahan induk dan iklim. Kedua faktor ini berhubungan dengan kadar lengas tanah, terbentuknya lapisan-lapisan tanah, dan tipe vegetasi. Faktor-faktor ini merupakan komponen dalam perkembangan tanah. Pada umumnya batuan kapur/ kwarstik lebih tahan terhadap perkembangan tanah. Pelarutan dan kehilangan karbonat diperlukan sebagai pendorong dalam pembentukan tanah pada batuan berkapur. Garam-garam yang mudah larut (seperti Na, K, Ca, Mg-Klorida dan sulfat, NaCO3) dan garam alkali yang agak mudah larut ( Ca, Mg ) memiliki karbonat yang akan berpindah bersama air, dan bergantung besarnya air yang dapat mencapai kedalaman tanah tertentu. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya pengayaan garam/ kapur pada horison tertentu dan besarnya sangat bervariasi. Karena terdapat perbedaan kelarutan dan mobilitas tersebut maka yang terendapkan lebih dahulu adalah karbonat. Pada kondisi yang ekstrem kerak garam dan kapur dapat terbentuk di permukaan tanah. Dari sini menunjukan bahwa kadar kapur tanah dapat berbeda-beda.
Pengaruh iklim terhadap pembentukan dan perkembangan profil tanah sangat bergantung pada besarnya air yang mampu melewati tanah atau terjadi evaporasi yang besar sehingga air tanah naik dari lapisan tanah dalam ke permukaan tanah. Peristiwa ini berpengaruh terhadap kadar lengas tanah. Besar kecilnya kadar lengas tanah ini bergantung pada daya infiltrasi air ke dalam tanah, kemampuan tanah mengikat air, permeabilitas tanah, dan evaporasi alihan tanah dengan tanaman. Hal tersebut akan mempengaruhi pola vegetasi yang tumbuh.
Tinggi rendahnya kadar kapur dalam tanah berpengaruh terhadap tingkat kesuburan tanah. Sebagai contoh pada tanaman vanili yang dalam pertumbuhannya memerlukan kalsium yang cukup banyak. Kalsium di sini berfungsi sebagai pengikat daya serap akar terhadap zat-zat hara sehingga dalam pemilihan tanah untuk budidaya vanili harus memperhatikan keadaan kalsium yang terkandung dalam tanah.
Tanah berkapur dengan sifat basa yang tinggi sangat berkebalikan dengan tanah yang kaya akan bahan organik. Bahan organik memiliki sifat asam yang sangat tinggi sehingga kurang baik untuk pertumbuhan tanaman. Kalau kedu hal ini dipadukan maka hasilnya akan saling melengkapi kekurngan kedua jenis tanah tersebut. Tanah akan menjadi kaya bahan mineral dan ber pH netral yang baik untuk pertanaman.
Adapun reaksi penetralan pH tanah oleh kapur (contoh CaCO3) : Akan tetapi disisi lain jika suatu tanah kandungan kapur terlalu tinggi tanaman yang tumbuh di tanah berkapur kadang-kadang kekurangan Besi, Mangan, Seng, Temabaga, dan Boron. Seharusnya untuk mengatasi hal ini Kalsium Karbonat / Kapur harus dihilangkan, tapi hal ini belum bisa dilakukan, akibatnya tanaman dipupuk dengan unsur-unsur yang ada yang defisiensi atau dilakukan pemilaihan jenis tanaman yang cocok dan dapat beradaptasi pada tanah-tanah alkalin. Hal itu satu-satunya cara praktis yang dapat dilakukan untuk mengatasi tanah dengan kelebiahn kapur.
Dengan mengetahui kandungan kapur dalam tanah maka dapat ditentukan kesuburan tanah yang sangat berpengaruh terhadap pengelolan lahan, sehingga dapat mengoptimalkan potensi lahan untuk budidaya pertanian.
Pada pH 6,5 tersediannya semua unsur hara dalam tanah untuk pertumbuhan tanaman adalah terbesar, oleh karena itu selalu diusahakan pH tanah sekitar 6,5 untuk pertumbuhan tanaman yang optimal. Banyaknya kapur yag diperlukan untuk menaikan pH tanah menjadi 6,5 tergantung pada tekstur tanah, bahan organik tanah, kapasitas tukar kation (KTK), kejenuhan basa (KB), kebutuhan tanaman akan kalsium dan mutu kapur
Untuk menentukn banyaknya kapur yang diperlukan setiap hektarnya bisa dipergunakan beberapa cara antara lain metode: Corey, SMP (Schoemaker, McLean, dan Pratt), Knooti (1957), ALdd (E. J. Kamprath, 1970), titer (Hudig dan Scheibler).





IV. Alat dan Bahan :
Alat:
• Botol kocok
• Pipet 10 ml
• Pipet filler
• timbangan
• beaker glass
• gelas ukur
• pH meter
Bahan:
• contoh Tanah halus
• larutan KOH 0,1 N
• larutan HCl 0,1 N

V. Cara Kerja :
1. Siapkan 5 buah botol kocok yang kering dan bersih, kemudian ke dalam masing-masing botol tsb dimasukan 10 gram contoh tanah halus I
2. Selanjutnya tambahkan ke dalam:
Botol kocok I : 25 ml aquadest & 0 ml KOH 0,1 M
II: 23ml 2 ml
III: 21 ml 4ml
IV: 17 ml 8 ml
V: 13 ml 12 ml
3. Ke lima botol tsb ditutup rapat, kemudian dikocok dengan mesin pengocok + 30 menit, kemudian diamkan sampai larutannya mengendap.
4. Selanjutnya ukur dengan menggunakan pH meter yaitu dengan cara memasukan elektroda gelas ke dalam masing-masing botol kocok tersebut yang berisi cairanberbentuk suspense dan catat nilai pH-nya.
5. Dari data nilai pH kelima botol tsb buat persamaan regresi linear Ŷ = a + b x. yaitu untuk mengitung secara ekstrapolasi beberapa ml banyaknya KOH 0,1 N (=X) yang diperlukan untuk menaikan pH tanah menjadi 6,5 (=Ŷ)
6. Setelah diketahui dari perhitungan dari no 5, yaitu banyaknya ml KOH 0,1 N yang diperlukan untuk menaikan pH tanah menjadi 6,5. Maka hitung pula berapa ml KOH 0,1 N yang dierlukan? Dan dari angka ini dapat dihitung berapa kg banyaknya CaCO3 (kapur) yang diperlukan untuk menaikan pH tanah, menjadi 6,5. Untuk menghitung banyaknya me KOH digunakan rumus:
me KOH = ml KOH yang diperlukan x normalitas KOH
7. Banyaknya CaCO3 yang diperlukan perhektar:
jika berat tanah dianggap 2 x 106 kg
banyaknya CaCO3 (kg/ ha) = me KOH x 104 kg

VI. Pengamatan, Perhitungan, dan Pembahasan:
persamaan regresi linier
Ŷ = a + bx
No X
(ml KOH )
Y
(Nilai pH) X2 Y2 XY
1 0 5,4 0 29,16 0
2 2 5,7 4 32,49 11,4
3 4 6,14 16 37,6996 24,56
4 8 6,8 64 46,24 54,4
5 12 6,82 144 46,5124 81,84
εn= 5 εX=26 εY=30,86 εX2=228 εY2=192,1020 εXY=172,20
Persamaan regresi linear Ŷ = a + bx  (x) = Ŷ – a
b
Untuk mencari nilai a dan b digunakan rumus:
b = εXY – (εX) (εY)
n_____
εX2 – (εX)2
n
a = εY – b (εX)
n n

Dari percobaan diatas dapat dihitung:
b = 172,20 – (26) (30,86)
5______
228 – (26)2
5
= 172,20 – 160,5
228 – 135,2
= 11,7 = 0,13
92,8
a = 30,86 – 0,13 (26)
5 5
= 6,17 – 0,67 = 5,5
Ŷ= 6,5
6,5 = 5,5 + 0,13 (X)
X = 6,5 – 5,5 = 7,7
0,13
me KOH = 7,7 x 0,1 = 0,77
CaCO3 = 0,77 x 104 = 770

VII. Kesimpulan
Dari hasil pengujian dan perhitungan pada contoh tanah dapat diketahui bahwa banyaknya KOH yang diperlukan untuk menaikan pH tanah menjadi 6,5 adalah 7,7. Banyaknya me KOH adalah 0,77 dan banyaknya CaCO3 kg/ ha adalah 770 kg/ ha.

I. Judul : Penetapan N Total Tanah dengan cara Kjedahl
II. Prinsip : Adanya peristiwa oksidasi bahan organic tanah, sehingga N dilepaskan, kemudian diubah menjadi amoniak, dan amoniak yang terbentuk ditentukan dengan titrasi.
III. Dasar Teori :
Nitrogen atau Zat lemas adalah sebuah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang N dan nomor atom 7. Biasanya ditemukan sebagai gas tanpa warna, tanpa bau, tanpa rasa dan merupakan gas diatomik bukan logam yang stabil, sangat sulit bereaksi dengan unsur atau senyawa lainnya. Dinamakan zat lemas karena zat ini bersifat malas, tidak aktif bereaksi dengan unsur lainnya.
Nitrogen adalah 78,08% persen dari atmosfir Bumi dan terdapat dalam banyak jaringan hidup. Zat lemas membentuk banyak senyawa penting seperti asam amino, amoniak, asam nitrat, dan sianida.
Nitrogen merupakan unsur kunci dalam asam amino dan asam nukleat, dan ini menjadikan nitrogen penting bagi semua kehidupan. Protein disusun dari asam-asam amino, sementara asam nukleat menjadi salah satu komponen pembentuk DNA dan RNA. Polong-polongan, seperti kedelai, mampu menangkap nitrogen secara langsung dari atmosfer karena bersimbiosis dengan bakteri bintil .
Bersama unsur fosfor (P) dan kalium (K), nitogen (N) merupakan unsur hara yang mutlak dibutuhkan oleh tanaman. Bahan tanaman kering mengandung sekitar 2 sampai 4 % N; jauh lebih rendah dari kandungan C yang berkisar 40 %. Namun hara N merupakan komponen protein (asam amino) dan khlorofil. Bentuk ion yang diserap oleh tanaman umumnya dalam bentuk NO3¯ dan NH4+ bagi tanaman padi sawah.
Begitu besarnya peranan N bagi tanaman, maka penyediaannya sangat diperhatikan sekali oleh para petani. Surnber N utama tanah adalah dari bahan organik melalui proses mineralisasi NH4+ dan NO3¯. Selain itu N dapat juga bersumber dan atmosfir (78 % NV melalui curah hujan (8 -10 % N tanah), penambatan (fiksasi) oleh mikroorganisme tanah baik secara sembiosis dengan tanaman maupun hidup bebas. Walaupun sumber ini cukup banyak secara alami, namun untuk memenuhi kebutuhan tanaman maka diberikan secara sengaja dalam bentuk pupuk, seperti Urea, ZA, dan sebagainya maupun dalam bentuk pupuk kandang ataupun pupuk hijau.
siklus nitrogen di bumi dicirikan oleh suatu tiga ikatan atom-atom nitrogen yang sangat tahan terhadap reaksi dengan unsur-unsur lainnya. Tanaman-tanaman tinggi mampu menggunakan N2. proses konversi N2 menjadi bentuk-bentuk yang dapat digunakan tanaman berpembuluh adalah fiksasi nitrogen. Fiksasi nitrogen disebabkan oleh mikroorganisme ( terutama bakteri dalam tanah dan lagae adalam air) dan peristiwa atmosfir tertentu, termasuk kilat. Bakteri denitifikasi dalam tanah mengubah nitrogen tanah yang tersedia kembali menjadi N2 dalam proses yang disebut denitrifikasi. Dua proses diatas, fiksasi dan denitrifikasi kira-kira sama dan bertanggungjawab pada keseimbangan semua antara nitrogen dan atmosfir dan nitrogen dalam tanah dan lautan.
Suatu sub siklus yang terdapat dalam tanah, meliputi nitrogen dalam bahan organic tanah dan organisme-organisme tanah yang terdiri dari proses-proses 2, 3, dan 4. Mineralisasi nitrogen organic berakibat dalam ketersediaan nitrogen seperti ammonium (NH4+). Nitrifikasi menghasilkan nitrogen tersedia seperti nitrat ( NO3-). Imobilisasi, pengambilan nitrogen oleh akar dan mikroorganisme, menggabungkan nitrogen kembali ke dalam bentuk organic.
Dari empat belas unsur esensial yang diperoleh tanaman dari tanah, enam diantaranya digunakan dalam jumlah yang relative besar; karena itu unsur inilah yang pertama-tama mendapat perhatian. Unsur tersebut ialah nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, magnesium dan sulfur. Karena digunakan oleh tanaman dalam jumlah relative besar, untuk mudahnya mereka disebut unsur hara makro.
Siklus nitrogen adalah kompleks dan kompertemen organik merupakan bagian yang dominan, beberapa macam bakteri terlihat dalam pengubahan NH4+ menjadi NO3+ (Nitrobacter, Nitrosomonas, Nitrosococcus adalah yang paling penting), tetapi kedua bentuk itu dapat diambil oleh banyak tanaman dengan fasilitas yang sama.
Lebih penting lagi adalah produksi NH4+ yang dihasilkan dari bahan organik yang dibawa oleh bermacam-macam fungsi dan bakteri. Perombak dekomposisi ini juga membutuhkan N, tetapi jika bahan mempunyai kandungan N rendah, bahan itu akan dipesatukan ke dalam biomassa dan tidak dibebaskan, sampai penyediaan karbon berkurang.
Dasar penetapan N total tanah yaitu bahwa senyawa N dari bahan organic dioksidasikan oleh asam sulfat membentuk (NH4)2SO4. Ammonium sulfat yang terbentuk bila disulingkan akan membebaskan NH3 yang selanjutnya akan diikat oleh asam borak dan dapat dititer dengan HCl maupun H2SO4.
Reaksi yang terjadi dalam penetapan N total tanah sebagai berikut:
Campuran
Senyawa-N + H2SO4 (NH4)SO4 + H2O + CO2
Selenium
(NH4)2SO4 + NaOH Na2SO4 + 2NH3 + 2H2O
NH3 + H3BO3 NH4H2BO3
NH4H2BO3 + HCl (NH4)Cl + H3BO3

IV. Alat dan Bahan :
Alat:
• Labu ukur “pyrex 100 ml”
• Spatula
• Labu destilasi
• Botol Erlenmeyer
Bahan
• Tanah yang lolos saringan 0,5 mm
• Selenium mixture (SI)
• H2SO4 pekat
• Aquadest
• NaOH 40%
• Uap NH3
• H3BO3 3%
• Asam borat
• HCl 0,01 N





V. Cara Kerja :
1. Timbang 1 gram tanah halus yang lolos saringan 0,5 mm. kemudian dimasukan ke dalam labu ukur “pyrex 100 ml”
2. Selanjutnya tambahkan 1 sendok spatula selenium mixture (S1) dan tambahkan 4 ml H2SO4 pekat
3. Panaskan di ruang asam, mula-mula dengan api kecil selanjutnya nyala api dibesarkan sampai cairan mendidih dan jernih serta tidak mengeluarkan asap lagi
4. Kemudian dinginkan, setelah dingin ke dalam labu tersebut ditambahkan 25 ml aquadest
5. Kemudin pindahkan ke dalam labu destilasi sambil dibilas beberapa kali menggunakan NaOH 40% sebanyak 20 ml
6. Lakukan destilasi (disuling)
7. Uap NH3 (hasil destilasi) di tamping ke dalam botol Erlenmeyer yang berisi larutan H3BO3 3% sebanyak 10 ml (asam borat) dan ditambah 3 tetes indicator N
8. Destilasi dihentikan kalau destilat sudah mencapai 10 ml (berwarna hijau)-dinginkan
9. Kemudian titrasi dengan HCl 0,01 N sampai warnanya berubah menjadi merah muda
10. Catat HCl 0,01 N yang terpakai (ml)

VI. Pengamatan, Perhitungan dan Pembahasan:
Rumus perhitungan:
%N = ml HCl x (N) HCl x 14 x 100%
1000
Criteria penilaian N total tanah
Sifat tanah Sangat rendah rendah sedang tinggi Sangat tinggi
N% <0,1 0,1-0,2 0,21-0,5 0,51-0,75 >0,75

Dari hasil praktikum HCl yang terpakai sebanyak 1,8 ml jadi:
%N = 1,8 x 0,01 x 14 x 100% = 0,0252%
1000
VII. Kesimpulan :
Dari data hasil perhitungan yang dilakukan dari hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa kadar N yang ada dalam tanah yang diuji adalah sangat rendah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar