Kamis, 10 Juni 2010

laporan praktikum dasar-dasar agronomi

Laporan praktikum
Dasar-dasar agronomi

TEKNIK PENENTUAN SIFAT-SIFAT TANAH DI LAPANGAN SECARA PRAKTIS
TANAH SEBAGAI MEDIA TUMBUH
GRAFTING (SAMBUNG BATANG DAN OKULASI)









Disusun oleh:
MEILYA NUROKHMAH 208700989

AGROTECHNOLOGY SEMESTER IV
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2010

I. Judul : TEKNIK PENENTUAN SIFAT-SIFAT TANAH DI LAPANGAN SECARA PRAKTUS
II. Tanggal : 2 April 2010
III. Tujuan : - Mengetahui Kapasitas Tukar Kation (KTK)
- Mengetahui kandungan Bahan Organik
- Mengetahui pH tanah
- Mengetahui Bobot Isi tanah
- Mengetahui Warna Tanah
IV. Dasar Teori :
Kualitas tanah ditentukan oleh sifat-sifat kimia, fsika, dan biologi tanah yang saling mempengaruhi satu sam lain. Penentuan sifat-sifat tanah dapat dilakukan dengan 2 analisis di laboratorium yang akan mendapatkan data kuantitatif dan akurat dan 2 penilaian cara di lapangan yang akan menghasilkan data kuantitatif.
pH tanah atau tepatnya pH larutan tanah sangat penting karena larutan tanah mengandung unsur hara seperti Nitrogen (N), Potassium/kalium (K), dan Pospor (P) dimana tanaman membutuhkan dalam jumlah tertentu untuk tumbuh, berkembang, dan bertahan terhadap penyakit.
Jika pH larutan tanah meningkat hingga di atas 5,5; Nitrogen (dalam bentuk nitrat) menjadi tersedia bagi tanaman. Di sisi lain Pospor akan tersedia bagi tanaman pada Ph antara 6,0 hingga 7,0.
Beberapa bakteri membantu tanaman mendapatkan N dengan mengubah N di atmosfer menjadi bentuk N yang dapat digunakan oleh tanaman. Bakteri ini hidup di dalam nodule akar tanaman legume (seperti alfalfa dan kedelai) dan berfungsi secara baik bilamana tanaman dimana bakteri tersebut hidup tumbuh pada tanah dengan kisaran pH yang sesuai.
Sebagai contoh, alfalfa tumbuh dengan baik pada tanah dengan pH 6,2 hingga 7,8; sementara itu kedelai tumbuh dengan baik pada tanah dengan kisaran pH 6,0 hingga 7,0. Kacang tanah tumbh dengan baik pada tanah dengan pH 5,3 hingga 6,6. Banyak tanaman termasuk sayuran, bunga dan semak-semak serta buah-buahan tergantung dengan pH dan ketersediaan tanah yang mengandung nutrisi yang cukup.
Jika larutan tanah terlalu masam, tanaman tidak dapat memanfaatkan N, P, K dan zat hara lain yang mereka butuhkan. Pada tanah masam, tanaman mempunyai kemungkinan yang besar untuk teracuni logam berat yang pada akhirnya dapat mati karena keracunan tersebut.
Herbisida, pestisida, fungsisida dan bahan kimia lainnya yang digunakan untuk memberantas hama dan penyakit tanaman juga dapat meracuni tanaman itu sendiri. Mengetahui pH tanah, apakah masam atau basa adalah sangat penting karena jika tanah terlalu masam oleh karena penggunaan pestisida, herbbisida, dan fungisida tidak akan terabsorbsi dan justru akan meracuni air tanah serta air-air pada aliran permukaan dimana hal ini akan menyebabkan polusi pada sungai, danau, dan air tanah.

V. Alat dan Bahan :
NO ALAT BAHAN
1 Tabung reaksi Tanah
2 Lakmus Air
3 Munsell Soil Colour Chart H2O2 10%
4 akuades

VI. Cara Kerja :
a. Kapasitas Tukar Kation (KTK)
1. Campur 5 gram tanah dan 100 ml air ke dalam tabung reaksi.
2. Kocok dan biarkan.
3. Tanah mengendap (terflokulasi): KTK tinggi dan bila tanah tidak mengendap (terdeptasi): KTK rendah
b. Bahan Organik
1. Basahi 5 gram masa tanah dengan 5 ml H2O2 10%.
2. Kandungan bahan organic tinggi ditandai dengan banyaknya buih.
c. pH
1. masukan 5 gram tanah dalam tabung reaksi
2. tambahkan 5 ml akuades lalu kocok selama 10 menit dan diamkan.
3. Celupkan lakmus pada cairan benih di atas lumpur tanah.
4. Sesuaikan warna lakmus dengan chart warna di kotak lakms dan catat nilai pHnya.
d. Bobot Isi
1. Menggali tanah lalu ditimbun kembali.
2. Bobot isi tinggi ditandai dengan timbunan tidak penuh (cekung) dan bobot isi rendah timbunan penuh (cembung)
VII. Hasil Pengamatan :
a. Kapasitas Tukar Kation (KTK)
Tanah setelah dikocok dan dibiarkan hasilnya mengendap.
b. Bahan Organik
Tanah yang telah dibasahi berbuih banyak.
c. pH
pH setelah dicocokan adalah 6,5.
d. Bobot Isi
Timbunan penuh (cembung).

VIII. Pembahasan :
Tanah mengendap (terflokulasi) ketika dibiarkan setelah dikocok berarti KTK-nya tinggi, ketika dibasahi dengan H2O2 10% hasilnya yaitu berbuih banyak berarti kandungan bahan organicnya tinggi, dan dalam pengujian pH hasilnya lakmus menunjukan pH 6,5 dan timbunan tanah yang penuh (cembung) artinya memiliki bobot isinya rendah.
IX. Kesimpulan :
Tanah yang diamati memiliki:
1. KTK tinggi
2. Bahan Organik tinggi
3. pH 6,5
4. Bobot Isin rendah



I. Judul : TANAH SEBAGAI MEDIA TUMBUH
II. Tanggal : 9 April 2010
III. Tujuan : - Mengetahui adanya horizon tanah
- Mengetahui pengaruh perbedaan horizon tanah terhadap pertumbuhan tanaman
- Mengetahui pengaruh pemberian bahan organic terhadap pertumbuhan tanaman
IV. Dasar Teori :
Tanah merupakan media tumbuh tanaman. Di dalam tanah terdapat unsure-unsur yang berguna untuk mendukung pertumbuhan tanaman, yaitu unsure hara, air dan udara. Komposisi ketiga unsure tersebut adalah 50% yang terbagi menjadi mineral 45% dan bahan organic 5%, udara dan air masing-masing 25%.
Kemampuan tanah di dalam mendukung pertumbuhan tanaman diukur dengan kesuburan tanah. Kesuburan tanah terdiri dari kesuburan fisik yang meliputi tekstur, struktur, pori-pori tanah dan sebagainya. Kesuburan kimia yang meliputi pH, unsure hara, kapasitas tukar kation (KTK), dan sebagainya. Dan biologi tanah terdiri dari berbagi makhluk hidup dalam tanah yang berpengaruh terhadap sifat-sifat tanah dan pertumbuhan tanaman.
Karakteristik fisik tanah, kimia tanah, dan biologi tanah dapat berbeda-beda antar jenis tanah yang satu dengan jenis tanah lain, bahkan pada tanah yang sama namun kedalamannya berlainan, seperti antara top soil dan sub soil.
Sebagai media tanam, tanah menyediakan faktor-faktor utama untuk pertumbuhan tanaman, yaitu unsur hara, air, dan udara dengan fungsinya sebagai media tunjangan mekanik akar dan suhu tanah. Semua faktor tersebut haruslah seimbang agar pertumbahan tanaman baik dan berkelanjutan.
Unsur hara tanah yang diperlukan terdiri dari unsur makro (yang diperlukan dalam jumlah banyak) meliputi N, P, K, Ca, Mg, dan S, dan unsur mikro (yang diperlukan dalam jumlah sedikit) meliputi Fe, Mn, B, Mo, Cu, Zn, dan Cl.
Selain kandungan unsur makro dan mikro, tanah juga harus mengandung air. Daya simpan air pada jenis tanah tertentu akan berbeda, hal ini tergantung dari struktur tanahnya. Yang diperlukan dari media yang baik adalah jenis tanah yang dapat menyimpan air tetapi tidak berlebih, sesuai dengan kebutuhan tanaman dengan kondisi musim apapun.
Selain itu, tanah juga memiliki pH (derajat keasaman). Faktor ketersediaan air berpengaruh terhadap tingkat keasaman tanah. Kisaran pH tanah untuk daerah basah adalah 5-7 dan kisaran untuk daerah kering adalah 7-9. Hal ini berpengaruh juga terhadap pemilihan jenis tanaman. Untuk daerah basah (ph 5-7) pilihlah tanaman yang dapat tumbuh subur di kisaran ph seperti itu. Begitu juga halnya dengan ph yang lainnya.
Hal yang juga penting adalah kandungan udara. Keberadaan udara pada tanah akan mempengaruhi kerapatan dan kepadatan struktur tanah. Perkembangan akar yang sehat serta proses pernafasan udara oleh akar menjadi tolak ukur dari baik atau tidaknya aerasi udara pada struktur tanah tertentu.
Lainnya, terkait dengan faktor luar seperti keberadaan struktur bangunan, keberadaan jenis gulma yang parah, keberadaan tanah yang rawan longsor, serta faktor-faktor lainnya.

V. Alat dan Bahan :
NO ALAT BAHAN
1 Sekop dan cangkul Bahan organic (pupuk kandang) dan pupuk anorganik
2 Meteran dan caliper Andosol dan Latosol
3 pH meter atau pH universal Benih tanaman (sayuran, palawija,buah)
4 Polibag dan plastic lembar
5 Sprayer dan embrat
6 Kawat ram
7 Spidol dan label
8 timbangan
9 Munsel Colour Chart

VI. Cara Kerja :
1. Bersihkan permukaan tanah dari tanamn dan benda-benda laim menggunakan cangkul.
2. Gali tanah dengan ukuran 60 x 60 x 60 cm.
3. Amati penampang tegak tanah berdasarkan warna dan tekstur tanah untuk mengetahui horizon tanah.
4. Gunakan pita meter untuk mengukur lebar horizon tanah atas (top soil).
5. Ambil tanah dari horizon top soil dan sub soil, kemudian hancurkan bongkahan tanah agar menjadi halus dan saring dengan kawat ram untuk mendapatkan tanah yang homogeny. Selanjutnya hamparkan pada plastic terpisah kemudian simpan di tempat teduh selam satu minggu.
6. Campurkan top soil dan subsoil dengan pupuk kandang dengan perbandingan pupuk kandang : sub soil = 1:1 dan 1:2 (v/v), dan untuk control hanya top soil dan subsoil saja. Masing-masing 2 polibag.
7. Masukan campuran media tersebut kedalam polibag dan cantumkan notasi perlakuannya.
8. Tanam benih/ bibit, beri pupuk dan siram.
9. Pelihara tanaman tersebut dengan cara menyiram.
10. Amati diameter dan tinggi tanaman per minggu.
VII. Hasil Pengamatan :
no Tgl pengamatan tinggi diameter
Top soil* Sub soil* Sub soil 1:1* Subsoil 1:2* Top soil* Subsoil* Sub soil 1:1* Subsoil 1:2
1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2
1 16-04-2010 6,5 7,5 8 6,5 6,5 5,5 7,5 7 0,6 0,34 0,34 0,29 0,29 0,39 0,29 0,29
2 23-04-2010 7 13 9,5 10 16,5 7,5 11 8,5 0,72 0,4 0,42 0,33 0,31 0,4 0,32 0,33
3 07-05-2010 9 19,5 12,5 17 27,5 12 15 10 0,74 0,42 0,47 0,36 0,33 0,42 0,35 0,37
*dalam cm
VIII. Pembahasan :
Dari praktikum yang kami lakukan dapat dilihat dalam pengamatan selama 3 minggu pertambahan tinggi tanaman terdapat pada media tanam subsoil yang dicampur pupuk kandang dengan perbandingan untuk masing-masing yaitu 1:1, sementara untuk diameter yang paling besar ukurannya ada pada media tanam berupa top soil.
Berarti dapat diketahui bahwa karakteristik tanah pada sub soil memiliki karakter yang bagus. Selain itu proses peniraman pun sangat penting dalam proses pertumbuhan tanaman ini, karena air merupakan factor penting dalam pertumbuhan tanaman. Smemtara untuk pupuk perbandingan yang bagus yang dapat dilihat dari praktikum ini adalah bahwa perbandingan yang bagus yaitu perbandingan yang seimbang.









IX. Kesimpulan :
1. Karakteristik tanah yang baik terdapat dalam sub soil.
2. Air merupakan factor utama dalam proses pertumbuhan tanaman.
3. Perbandingan pupuk dengan tanah, yang baik adalah perbandingan yang seimbang.
















I. Judul : GRAFTING
II. Tempat : BALAI PENGEMBANGAN BENIH DAN HORTIKULTURA DAN ANEKA TANAMAN PASIR BANTENG
III. Tujuan : Mengenal dan membedakan benih berdasarkan morfologi eksternalnya.
IV. Dasar Teori :
Grafting adalah penggabungan batang bawah dan batang atas dari tanaman yang berbeda sehingga tercapai persenyawaan, dimana tanaman gabungan ini akan tumbuh terus sebagai tanaman baru. Grafting terbagi dalam beberapa cara :
1. Sambung batang
a). sambung pucuk
b). penyusuan
2. Sambung mata tunas (okulasi).
Pada awalnya tujuan grafting ini antara lain untuk :
1. Memperoleh bibit tanaman dengan kualitas hasil yang pasti (dapat diketahui).
2. Memperoleh bibit tanaman yang cepat berproduksi.
3. Memperoleh tanaman yang kokoh pada batang bawahnya dan kualitas buah/bunga yang baik pada batang atasnya.
4. Memperbaiki jenis tanaman yang telah tumbuh dengan jenis yang diinginkan dengan mengganti pucuk tanaman tersebut.
Sekarang grafting juga bertujuan untuk menghasilkan sebuah tanaman dengan berbagai macam jenis buah atau bermacam-macam warna bunga. Sebuah pohon mangga misalnya dapat menghasilkan buah dngan jenis mangga gadung, goleg, manalagi dan arum manis sekaligus atau sebatang pohon bougenvile dengan bunga berwarna merah, putih, kuning dan pink sekaligus.
Ada beberapa jenis tanaman yang dapat dihasilkan dengan grafting seperti contoh di atas :
1. Tanaman buah antara lain :
a. Mangga dengan berbagai jenisnya termasuk kesturi, kuini dan hambawang.
b. Jeruk dengan berbagai jenisnya seperti jeruk sambal, jeruk manis, jeruk siam, jeruk nipis, jeruk besar dan lain-lain.
c. Jambu air dengan berbagai warna buahnya.
2. Tanaman hias antara lain :
a. Bogenvil dengan berbagai warna bunganya.
b. Kembang sepatu dengan berbagai warna bunganya.
c. Beringin dengan berbagai bentuk dan warna daunnya.
d. Soka dengan berbagai warna bunganya.
Pilihlah batang bawah tanaman yang mempunyai keunggulan seperti kokoh, tahan terhadap kondisi tanah yang tidak menguntungkan dan tahan terhadap hama dan penyakit yang berasal dari dalam tanah. Sedangkan batang atas pilihlah yang akan menjadikan tanaman menjadi menarik dan yang terpenting antara batang atas dan batang bawah haruslah masih dalam satu kedekatan keluarga, misalnya mangga tidak akan mau menyatu dengan jambu. Makin dekat sifat kekeluargaannya, makin besar tingkat keberhasilan penyambungannya.
Dengan teknik grafting ini kita dapat menghasilkan tanaman buah atau tanaman hias yang bernilai seni tinggi.

V. Alat dan Bahan :
NO ALAT BAHAN
1 Pisau atau cutter Bibit alpukat
2 Tali Plastic Bibit durian
3 penghapus
4 Penggaris

VI. Cara Kerja :
a. Sambung batang
1. Tanaman alpukat yang akan di grafting untuk calon batang bawah sambungan dibelah setengah bagian menuju ke pucuk. Panjang belahan antara 1-1,5 cm diukur dari pucuk.
2. Tanaman calon batang atas sebaiknya memiliki diameter sama dengan batang atasnya.
3. Tajuk calon batang atas dipotong dan dibuang, kemudian disayat sampai runcing. Bagian yang runcing di sisipkan kebelahan calon batang bawah yang telah dipersiapkan.
4. Supaya calon batang atas tidak mudah lepas, sambungannya harus diikat kuat-kuat dengan tali plastic sampai terbebat.
Catatan: jika tanaman yang kita grafting berhasil maka akan tumbuh pucuk dari batang atas setelah 2-3 minggu dan tersambung secara sempurna.
b. okulasi
1. siapkan entres yang diambil dari pucuk muda durian yang terpilih dengan panjang sekitar 4-5 cm dengan sayatan miring pada pangkal entres.
2. Buat jendela pada rootstock menggunakan pisau kira-kira seukuran sayatan miring pada entres.
3. Tempelkan sayatan pada entres yang telah dibuat tadi dan entres segera dibebat dengan menggunakan tali plastic sampai menutupi seluruh bagian permukaan entres.
4. Siram tanaman secara teratur.
VII. Hasil Pengamatan :
a. Sambung batang
- Batang atas dan bawah patah
- Tidak ada pucuk tumbuh
b. Okulasi
- Batang kering







VIII. Pembahasan :
Pada tanaman yang saya praktikan hasilnya gagal karena terjadi kesalahan pada proses grafting sambung batang durian yang dilakukan, yaitu ketidaksterilan tanaman yang akan dijadikan batang atas yang telah disayat, keungkinan terkena tanah sehingga kotor. Dan ketidak samaan diameter juga berpengaruh sehingga batang yang diikat patah.
Pada tanaman yang digrafting secara okulasi kesalahan terjadi karena kurangnya penyiraman sehingga terjadi kekeringan.

IX. Kesimpulan :
1. Pada grafting secara sambung batang yang harus diperhatikan adalah kesterilan dan kesamaan diameter.
2. Factor penting yaitu air sangat berpengaruh terhadap keberhasilan grafting secara sambung batang ataupun okulasi.

DAFTAR PUSTAKA : http://wikipedia.com/tanah-sebagai-media.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar