Kamis, 10 Juni 2010

makalah tauhid dan sains

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sains Islam adalah keseluruhan dari matematika dan ilmu-ilmu alam, termasuk psikologi dan sains-sains kognitif, yang tumbuh dalam kebudayaan dan peradaban Islam selama lebih dari satu millenium, dimulai sejak abad ketiga Islam (abad kesembilan Kristen).
Sains-sains ini Islam bukan hanya karena dihasilkan oleh orang-orang Islam. Pada kenyataannya, banyak orang non- Muslim yang ikut memberikan kontribusi besar pada pertumbuhan dan perkembangan sains Islam. Tetapi, sains ini pantas dinamai ”sains Islam” krena sains tersebut, secara konseptual, terkait secara orisinal dengan ajaran Islam yang fundamental, yang paling penting di antaranya adalah prinsip tauhid.
Sains Islam bersifat ilmiah sekaligus religius dalam pengertian bahwa ia secara sadar didasarkan pada prinsip-prinsip metafisik, kosmologis, epitemologis, etis dan prinsip moral Islam. Dari sudut pandang konsepsi spiritual dan moral tentang alam, sains Islam mengambil tujuan dan prinsip-prinsip metodologis yang berbeda dalam beberapa aspek dari sains modern. Dalam kebudayaan Islam kedudukan sains dalam hubungannya dengan cabang-cabang pengetahuan lain seperti ilmu agama dan sosial agak berbeda dengan yang kita lihat dalam kebudayaan Barat modern.
1.2 Tujuan
Sains dan tauhid berupaya untuk mengungkapkan berbagai dimensi hubungan organik yang ada antar tauhid dan sains sebagaimana yang terlihat melalui pandangan ilmiah seorang Muslim.















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Masalah Metodologi dalam Sains Islam
Metodologi adalah salah satu masalah pokok yang membutuhkan perhatian khusus dan perlu ditangani dan dipecahkan secara menyeluruh dalam setiap upaya untuk menghidupkan tradisi ilmiah Islam di dunia kontemporer, atau menciptakan sebuah sains tentang alam semesta yang sekaligus baru dan tradisional. Hal ini menjadi masalah pokok karena, pada kenyataannya terdapat perbedaan-perbedaan fundamental antara konsepsi metodologi sains dalam Islam, atau dalam semua peradaban tradisional lainnya, misalnya peradaban Cina atau India, dengan konsepsi metodologi dalam sains modern.
Salah satu yang banyak dipersoalkan adalah metode ilmiah, yaitu banyaknya pendapat yang mengatakan bahwa sains modern diciptakan dengan menggunakan satu metodologi saja. Gagasan bahwa hanya satu enis sains tentang alam yang mungkin ada, yakni melalui penggunaan metode ilmiah, sangat mempengaruhi seluruh cara pandang kita mengenai sains-sains pra modern, termasuk sains islam. Tingkat penerapan metode ilmiah menjadi alat ukur universal bagi masyarakat ilmiah dalam menentukan derajat kreativitas ilmiah dan ”kemurnian” pemikiran pra-modern.
Prinsip-prinsip Metodologi dalam Sains Islam
Berbicara tentang metodologi berarti berbicara tentang cara-cara atau metode-metode yang dengannya manusia dapat memperoleh pengetahuan tentang Realitas, baik dalam sebagian maupun keseluruhan aspeknya. Oleh karena itu berbicara tentang metodologi pertama-tama adalah berbicara tentang manusia yang merupakan kutub subyektif pengetahuan, maksunya subyek yang mengetahui. Kutub ini terdiri atas semua fakultas dan kekuatan untuk mengetahui yang ada pada manusia, yang pada dasarnya bersifat hirarkis. Dengan kata lain, manusia memiliki berbagai tingkat kesadaran. Selanjutnya berbicara tentang metodologi berarti berbicara tentang Alam semesta, yang merupakan kutub objektif pengetahuan, maksudnya objek yang dapat diketahui, dan yang juga bersifat hirarkis. Dengan kata lain, Alam semestea memiliki berbagai tingkat wujud atau eksistensi. Metodologi pengetahuan (al-’ilm) islam tepatnya berkaitan dengan hubungan esensial antara hirarki Alam semesta, dan dengan prinsip-prinsip yang mengatur hubungan itu.
Dari sejarah intelektual Islam, kita mewarisi sejumlah besar literatur yang membahas persoalan-persoalan pengetahuan. Semua mazhab intelektual yang berbeda-beda dalam Islam, seperti mazhab-mazhab dalam ilmu kalam, mazhab-mazhab dalam filsafat Islam: masysya’iyyah (peripatetik), isyraqiyyah (iluminasionis) dan al-hikmat al-muta’aliyah(teosofi transenden), dan juga mazhab-mazhab dalam ma’rifah (gnosis), yang sering dikaitkan dengan para sufi, telah menyentuh persoalan yang sama, tetapi dari perspektif yang berbeda dengan titik-titik penekanan yang berbeda dan berakhir pada pandangan, serta dengan derajat kehebatan intelektual, kecanggihan, dan keajegan yang berbeda pula.
Banyak sejarahwan dan filosof sains masa kini menekankan bahwa serangkaian fenomena yang dipilih untuk dipelajari oleh kelompok ilmiah tertentu sebenarnya ditentukan oleh pandangan tertentu tentang realitas, yang btelah diterima secara a priori oleh kelompok tersebut. Dalam kasus sains modern, satu-satunya realitas yang diperhatikan adalah realitas Cartesian yang telah direduksi menjadi pikiran dan materi, dipandang sebagai dua subtansi yang seutuhnya berbeda dan terpisah, yang bagi mainstream sains tersebut dan bagi filsafat modern Barat secara umum, menjadi sebuah fakta yang diterima dalam kasus sains Islam, seluruh kosmos yang menjadi perhatiannya memperlihatkan kekayaan kuallitatif dan realitas yang jauh lebih besar daripada sains modern, meski sains dengan sombong mengklaim dirinya sebagai semesta yang tidak terbatas.
2.2 Kesatuan antara Sains dan Pengetahuan Spiritual: Pengalaman Islam
Sains, yang dipahami dalam arti terbatas sebagai pengetahuan objektif, tersusun, dan teratur tentang taranan alam semesta, bukanlah produk pikiran modern semata. Bentuk-bentuk pengetahuan seperti ini juga tumbuh secara ekstensif dalam peradaban pramodern seperti Cina, India, dan peradaban Islam. Sains-sains pra modern ini berbeda dengan sains modren dalam hal tujuan, metodologi, sumber-sumber inspirasi, dan asumsi-asumsi filosofis mereka tentang manusia, pengetahua, dan realitas alam semesta.
Pengetahuan utama lainnya antara sains pra-modern dan modern adalah mengenai posisi sains dalam hubungannya dengan jenis pengetahuan yang lain. Pengetahuan spiritual adalah pengetahuan mengenai tatanan spiritual. Esensi pengetahuan spiritual adalah pengetahuan tentang dunia ruh. Dalam islam pengetahuan ini merujuk pada pengetahuan tentang Yang Esa, tentang Tuhan dan Keesaan-Nya.
Pengetahuan spiritual tidak terbatas pada dunia ruh suci semata. Ia juga berkaitan dengan manifestasi ruh dalam berbagai tingkat realitas yang membentuk jagad raya.
Al-Qur’an sebagai Sumber Sains dan Pengetahuan Spiritual
Al-Qur’an merupakan sumber intelektualitas dan spiritualitas Islam. Ia merupakan basis bukan hanya bagi agama dan pengetahuan spiritual tetapi bagi semua jenis pengetahuan. Ia merupakan sumber utama inspirasi pandangan Muslim tentang keterpaduan sains dan pengetahuan spiritual.
Menurut pandangan pandangan Al-Qur’an, pengetahuan manusia tentang benda-benda maupun hal-hal ruhaniah menjadi mungkin karena Tuhan telah memberinya fakultas-fakultas yang dibutuhkan untuk mengetahui. Banyak filosof dan ilmuwan Muslim berkeyakinan bahwa dalam tindakan berpikir dan mengetahui, akal manusia mendapat pencerahan dari akal Ilahi. Al-Qur;an bukanlah kitab sains. Tetapi ia memberikan pengetahuan tentang prinsip-prinsip sains, yang selalu dikaitannya dengan pengetahuan metafisik dan spiritual.
Menurut seorang ilmuwan Muslim yang termasyhur, Ibn Sina, sebuah sains disebut sains yang sejati jika ia menghubungkan pengetahuan tentang dunia dengan pengetahuan tentang Prinsip Ilahi.
Alam sebagai Sumber Sains dan Pengetahuan Spiritual
Alam merupakan sumber berbagai jenis pengetahuan: Matematiks, fisika, dan Metafisika, ilmiah dan spiritual, kualitatif dan kuantitatif, praktis dan estetis. Sesuai dengan konsepsi ilmiahnya tentang alam dan pandangan dunia reduksionis dan materialistiknya, sains modern mengabaikan, meremehkan atau menyangkal segala aspek metafisik, spiritual, kualitatif, dna estetis alam semesta. Eddington dan Whitehead telah dengan tepat memberi penekanan bahwa sains modern adalah jenis pengetahuan yang dipilih secara subyektif karena ia hanya berurusan dengan aspek-aspek realitas alam semesta yang mampu untuk dipelajari oleh apa yang mereka sebut sebagai metode ilmiah.
Tujuan sains Islam adalah unuk memperlihatkan kesatuan alam semesta, yaitu kesalinghubungan seluruh bagian dan aspeknya. Oleh karena itu,, sains Islam berupaya untuk mengkaji semua aspek alam semesta yang beraneka ragam dari sudut pandang yang menyatu dan terpadu. Alam juga merupakan sumber pengetahuan spiritual dan metafisik karena ia tidak semata-mata bersifat ” alamiah ”. Alam juga memiliki aspek ”supranatural”. Dalam Islam, yang alamiah dan yang spiritual saling terkait erat.
Alam sebagai Sumber ”Hukum-hukum Ilahi”
Salah satu aspek utama dari sains modern adalah keberhasilannya untuk semakin banyak menemukan apa yang dalam sejarah intelektual barat disebut sebagai ” hukum-hukum alam”. Dalam Islam, tidak pernah ada perpecahan antara ”hukum-hukum alam” dengan ’ hukum-hukum Tuhan” . ”Hukum alam” juga hukum Ilahi. Semua hukum merupakan refleksi dari prinsip Ilahi. Tuhan adalah pemberi hukum. Ia mewujudkan Kehendak-Nya baik di kosmos maupun di wilayah manusia melalui hukum-hukum. Di wilayah manusia, Tuhan telah menetapkan sebuah hukum (syariah) untuk setiap orang. Syariah Islam adalah hukum terakhir yang di wahyukan. Sementara terdapat banyak Hukum Tuhan yang diturunkan pada umat manusia dalam sejarahnya , yang disebut dalam Islam sebagai nawamis al-anbiya’ (hukum-hukum nabi), namun hanya ada satu Hukum Tuhan yang mengatur seluruh makhluk.
Pengetahuan Kosmologis sebagai Sumber Kerangka Konseptual bagi Kesatuan Sains dan Pengetahuan Spiritual
Dalam pembahasan yang lalu, telah membicarakan sebagian dari ajaran-ajaran islam yang penting, yang memberi justifikasi filosofi dan religius yang diperlukan bagi kesatuan sains dan pengetahuan spiritual. Menekankan bahwa kesatuan ini didasari ketika setiap sains partikuler secara organik dikaitkan dengan pengetahuan puncak tentang tauhid. Tetapi apa yang dimaksud dengan ”hubungan organik” ini dan sikap konkret untuk dapat mencapainya membutuhkan penjelasan lebih lanjut.
Yang dimaksud dengan pernyataan bahwa sains berhubungan secara organik dengan pengetahuan metafisika tentang tauhid adalah bahwa sains secara konseptual terpadu ke dalam jenis pengetahuan yang disebut belakangan itu. Sains-sains partikular dapat dipadukan secara konseptual ke dalam sains metafisika tentang tauhid karena Prinsip Ilahi merupakan sumber metafisik bagi keanekaragaman dunia yang menjadi pokok pembahasan sains-sains partikular itu. Namun ”perangkat konseptual” yang dibutuhkan untuk integrasi itu perlu diturunkan dari kosmologi.
Kosmologi memberi kita pengetahuan tentang keterkaitan alam ini. Alam spiritual merupakan dasar bagi alam subtil dan alam subtil merupakan dasar bagi alam fisik. Kosmologi oleh karena itu menghendaki agar dunia fisik diperlakuakan bukan sebagai wilayah otonom yang terputus dari tingkat realitas yang lebih tinggi. Ia menurut adanya relevasi entitas spiritual dan subtil dalam kajian tentang dunia fisik. Sebagai contoh, ”eter” (suatu substansi yang mengisi seluruh ruang alam semesta menurut fisika lama) adalah nonfisik, entitas subtil. Pengetahuan mengenai ”eter” esensial bagi pemahaman tentang asal-usul kosmos fisik.
2.3 Pengaruh Sains Islam terhadap Konsepsi Kristen Abad Pertengahan tentang Alam
Dunia ilmu modern telah mengumpulkan bukti-bukti yang memperlihatkan tanpa ragu bahwa pengaruh sains islam di barat mulai mewujudkan dirinya sejak abad keempat/kelima, dan melebar hingga periode pasca-Renaisains. Dalam bahasan kali ini menandai puncak aktivitas gerakan penerjemahan periode abad pertengahan, yang berupaya untuk mendapatkan naskah-naskah para sarjana Muslim yang berbahasa arab ke bahasa latin. Dan kedua, dalam abad inilah terjadi perubahan intelektual terbesar di barat, perubahan yang sangat erat kaitannya dengan perkembangan ilmiah barat setelah itu.
Filsafat Alam di Barat Kristen Sebelum Masuknya Pengaruh Islam
Setiap tradisi religius yang integral memiliki dimensi teologis maupun gnostik dan metafisik. Kristen pun demikian. Dalam setiap kajian menyangkut pengetahuan tentang alam dalam agama Kristen pada awal abad Pertengahan,ada dua istilah dimensi yang secara berurutan diistilahkan sebagai eksoterik dan esoterik. Jenis sains tentang alam yang betul-betul Kristiani, baik dalam tujuan maupun anggapan-anggapannya, lebih diasosiasikan dengan dimensi kontemplatif dan metafisik Kristen ketimbang dimensi teologisnya. Perlu ditekankan di sini bahwa yang dimaksud dengan gnosis bukanlah jenis gnostisisme yang dilarang sebagai bid’ah oleh Dewan Kristen, tetapi lebih sebagai pengetahuan yang terpadu dan tercerahkan yang memiliki fungsi penyelamat dan tidak dapat dipisahkan dari cinta kepada Tuhan sebagai pengalaman religius dan spiritual. Dan yang dimaksud dengan teologi adalah pertahanan rasional terhadap ajaran-ajaran keimanan.
Penyebaran Sains Islam ke Barat Latin
Selama periode penyebaran yang pertama, yaitu abad kesepuluh dan kesebelas, hanya beberapa naskah astronomi dan matematika yang diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahas Latin. Sumber-sumber naskah ini adalah Spanyol dan aktivitas penerjemahan itu sendiri terkait dengan perguruan-perguruan Lorraine di Jerman.
Periode berikutnya, yang dapat dikatakan sebagai periode pertengahan dan yang mencakup seluruh abad kedua belas, terdapat publikasi dan penyebaran ekstensif semua jenis karya ilmiah berbahasa Arab, termasuk karya tentang alkemi. Periode ini juga menyaksikan awal penerjemahan karya-karya filosofis Muslim. Pusat utama aktivitas penerjemahan adalah Spanyol dan Italia dan tokoh-tokoh utama yang dihubungkan dengan hal itu adalah Gundisalvi, gerard dari Cremona dan Plato dari Trivoli. Nama-nama Adelard dari Bath dan Stephen dari Pisa juga harus disebutkan.
Kemudian, periode akhir yang merentang dari abad ketiga belas dan seterusnya. Ini merupakan periode reproduksi karya-karya Muslim yang terus menerus dalam hampir semua cabang ilmu hingga nyaris semua tulisan yang dinilai berharga oleh Barat telah diperoleh dalam bahasa Latin. Selama periode ini, sekolah penerjemahan di Toledo, yang merupakan salah satu yang paling penting pada abad kedua belas, menjadi lebih aktif dan menjadi sekolah yang terkemuka untuk beberapa waktu. Michael Scot mungkin merupakan tokoh termasyhur selama periode ini.
Tanggapan Umum terhadap Sains Islam
Sebagian besar karya ilmiah dan filosofis yang disebarkan bersifat rasionalistik. Unsur-unsure nonrasionalistik, seperti alkemi dan ilmu-ilmu gaib linnya, tidak menemukan jalannya ke Barat tetapi terbatas pada berbagai organisasi rahasia. Akibatnya, kesan umum yang tercipta di Barat latin adalah bahwa sains dan filsafat Islam merupakan penubuhan sepenuhnya rasionalisme Yunani klasik. Pemahaman dan potret sains Islam seperti ini membantu kebangkitan rasionalisme di Eropa pad abad ketiga belas.
2.4 Tanggapan Intelektual Muslim terhadap Sains Modern
Pertemuan Pertama antara Dunia Islam dan Sains Modern
Sains modern adalah model pengkajian alam semesta yang dikembangkan oleh para filosof dan ilmuwan Barat sejak abad ketujuh belas, termasuk seluruh aplikasi praktisnya di wilayah teknologi. Secara signifikan, kurang dari empat abad setelah kelahirannya, sains modern tiba-tiba berada dalam keadaan yang sangat kritis, paling tidak berkenaan dengan fondasi filosfisnya. Hasil pengamatan mengatakan, sejumlah karya yang muncul di Barat, berulang-ulang membicarakan tema tentang model alternatif bagi ilmu-ilmu alam serta model-model alternatif bagi teknologi.
Pencarian model-model baru telah ditumbuhkan oleh tiga faktor utama. Pertama, kemajuan-kemajuan besar di ujung-ujung batas penelitian sains. Kedua, krisis ekologi kontemporer telah membawa perhatian utama pada persoalan tentang hubungan keseluruhan antar manusia dan alam serta isu-isu teknologi yang tepat. Dan ketiga, disiplin sejarah sains telah memampukan manusia Barat untuk memperoleh pengetahuan yang lebih baik tentang ilmu alam dan pengetahuan teknis yang dikembangkan oleh peradaban lain sebelum periode modern, yang tidak direduksi begitu saja sebagai antisipasi terhadap sains modern.
Islamisasi ilmu-ilmu alam kini banyak dibahas di dunia Islam hanya akan berarti jika dipandang dalam konteks bangkitnya kesadaran dikalangan orang Islam tentang karakter khusus dan sains modern ini.
Awal Mula Pengaruh Umum Barat terhadap Dunia Muslim
Awal pengaruh Barat secara umum terhadap dunia Islam, yaitu merujuk pada saat tertentu dalam sejarah dunia islam ketik ia tidak lagi memiliki kekuatan batin dan dinamisme untuk menahan tantangan eksternal yang dihadapkan oleh peradaban Barat.
Benar bahwa sebelum periode ini ide-ide dan pengaruh-pengaruh barat yang asing bagi kebudayaan Islam telah menembus Kekaisaran Utsmaniyah dan beberapa bagian penting wilayah islam yang jatuh ke tangan kekuasaan barat. Mesir diduduki oleh Napoleon pada 1798. Malaka, yang segera setelah konversinya ke islam pada awal abad kelima belas telah menjadi pusat perdagangan dunia islam serta pusat penyebaran ajaran islam di dunia melayu, telah dikuasi secara bergantian sejak 1511 oleh portugis, belanda, dan inggris hingga paruh kedua abad kedua puluh.
Tantangan yang diharapkan oleh barat kepada dunia islam selama periode ini terdapat pada semua level eksistensi – militer, politis, ekonomi, sosial, budaya dan intelektual. Pada awalnya dominasi barat terhadap dunia islam adalah bidang militer, polotik, dan ekonomi. Orang muslim telah ditaklukan secara militer, ditundukan secara politis, langsung atau tidak langsung, dan dieksploitasi secara ekonomis. Dominasi ini menyebabkan perubahan besar pada stuktur politik dunia islam, penggerak administratif dan hukumnya, sistem pendidikan, tentara dan seluruh susunan organisasi sosioekonomisnya.
Dampak Pertama Sains Modern terhadap Dunia Muslim
Abad ke-18 menyaksikan bangkitnya Eropa sebagai tempat kelahiran bangkitnya eropa sebagai tempat kelahiran berbagai inovasi dan prestasi-prestasi teknologi. Selama paruh kedua abad yang sama, teknologi eropa mulai menyebar ke masyarakat Utsmaniyah melalui dua saluran-sektor militer dan industri. Namun rentang inovasi yang diperkenalkan dalam kedua bidang ini tidak cukup lebar untuk mengaduk kesadaran rasa rendah diri dikalangan orang Muslim terhadap orang-orang eropa. Dampaknya terhaap organisasi lama di Kekaisaran Utsmaniyah dan struktur tradisional ekonomi Muslim mau tidak mau cukup besar dan sangat signifikan.

2.5 Islam, Sains dan Teknologi: Kegemilangan Masa Lalu, Kesuraman Masa Kini dan Pembentukan Masa Depan
Kaum muslimin dewasa ini hidup dalam masa yang sulit dan menentang. Berbicara secara demografis, mereka merupakan kekuatan besar yang harus diperhitungkan. Hanpir semiliar jiwa atau seperlima dari seluruh manusia saat ini adalah muslim. Potensi ekonomi mereka besar. Negara-negara mereka yang memiliki bagian tanah tak dihuni luas dianugerahi dengan sumber daya alam yang kaya. Namun demikian pengaruh mereka terhadap urusan ekonomi dan politik dunia serta kemajuan ilmiah dan teknologi masih marginal. Secara meliter mereka juga masih lemah. Kini mereka masih belum memainkan peran yang signifikan dalam menentukan sejarah dunia.
Sejak kaum muslimin sadar akan kemunduran dan kemandegan peradaban mereka, khususnya setelah kekalahan militer mereka terhadap urusan ekonomi dan budaya mereka pada tangan kekuasaan penjajah barat, mereka telah beruapaya untuk mengenal akar-akar penyebab, menganalisis masalah-maslah yang besar, dan memberikan obat yang efektif bagi keadaan yang tidak mengenakan itu. Perdebatan serta diskusi-diskusi tentang masalah ini masih berlanjut terus hingga saat ini, pada tingkat popular maupun akademis.
Namun jauh dari mencapai konsensus umum, kaum mislimin justru terpecah tentang isu-isu mendasar. Upaya-upaya masa lalu untuk mencari solusi bagi masalah keterbelakangan dan kemandegan kaum muslimin, dipelopori oleh kelompok tradisionalis maupun modernis, hanya berhasil secara parsial.
Perkembangan signifikan di barat yang lain adalah munculnya berbagai kelompok dan pergerakan intelektual dan sosio-kultural yang sangat kritis terhadap rasionalitas barat dan keyakinan barat terhadap sains dan teknologi sebagai obat mujarab bagi seluruh penyakit umat manusia.
Dalam upaya kita saat ini untuk membangun kembali peradaban islam adalah wajar jika kita melakukan evaluasi kritis tentang kegagalan dan kesuksesan masa lalu di dunia muslim maupun barat di samping mengambil tindakan terhadap situasi kontemporer, khususnya pada tingkat ide-ide.
Tantangan-tantangan Kontemporer dan Kesulitan-kesulitan Masa Kini
Obsesi terhadap sains dan teknologi dengan mengenyampingkan nilai-nilai moral dan spiritual yang dijunjung tinggi merupakan salah satu kemalangan terbesar di zaman kita ini. Kemalangan itu lebih besar lagi jika obsesi tersebut menyangkut kekuasaan material semata. Meskipun khususnya selama paruh terakhir abad ini terjadi kemerosotan iman secara perlahan ditengah kemampuan mukjizat sains dan teknologi untuk memecah persoalan-persoalan kemanusiaan yang mengguncang, apalagi untuk menciptakan surga di bumi, seiring dengan semakin banyak efek-efek destruktif penemuan sains dan teknologi yang dapat dilihat, perkembangan sains dan teknologi terus dibentuk oleh mereka yang mengakui atau mengikuti garis pemikiran diatas.
Pandanagan secular dan duniawi dari sains dan teknologi yang baru kami uraikan itu sama sekali asing bagi pandangan dunia islam dan ajaran-ajaran Al-Quran tentang peradaban manusia, kemajuan dan perkembangan Al-Quran menyatakan dengan tegas : Kamu adalah bangsa (ummah) yang terbaik dari seluruh manusia; mengajak kepada apa-apa yang baik, mencegah kemungkaran, dan beriman pada Allah.
Ayat di atas adalah satu di antara sekian banyak ayat dalam Al-Quran yang member kaum muslimin rumusan eksplisit untuk keberhasilan menciptakan peradaban yang gemilang dan berdasarkan fondasi spiritual dan moral, yang mengemukakan kroterian untuk menilai kualitas peradaban manusia. Rumusan dan criteria yang dipersoalkan terkandung dalam tiga prinsip universal yang fundamental, yaitu (1) pengembangan, penenman dan penyokongan apa-apa yang baik, benar dan berguna, serta segala sesuatu yang disebut dan dikatakan dengan istilah ma’ruf dalam Al-Quran, (2) mengecam dan mencegah kemungkaran dan keburukan serta segala sesuatu yang disebut dengan istilah munkar, dan (3) iman pada Tuhan Yang Esa.
Kegelisahan Masa Silam : Sebuah Sumber Inspirasi
Selama beberapa abad-dari abad kesembilan hingga abad kelima belas- kaum muslimin merupakan pemimpin intelektual di bidang sains dan teknologi. Sebagai muslim, kita tentunya bangga akan lintasan-lintasan yang gemilang dalam sejarah peradaban islam itu. Kini memandang islam kembali kegemilangan kebudayaan atau peradaban masa silam seseorang bisa menjadi sesuatu yang baik atau buruk tergantung pada maksud yang dikandungnya. Jika gagasan untuk mengagungkan prestasi-prestasi masa lalu semata demi pengagungan diri atau untuk menenggelamkan diri dalam sejenis eskapisme dari realitas masalah-masalah kaum dewasa ini, maka itu takkan ada gunanya bagi perkembangan masyarakat muslim kotemporer. Tetapi jika gagasan itu adalah untuk mengilhami kaum muslimin untuk sekali lagi mencapai kehebatan itu dengan mengikuti langkah-langkah positif para pendahulu mereka dalam barisan mereka menuju kemajuan, maka itu adalah tindakan yang bermanfaat.
Meskipun hingga kini belum ada karya yang komprehensif dan definitive tentang bangkit dan mundurnya sains dan teknologi islam, tersedia bahan-bahan historis yang memadai untuk memampukan kita mengidentifikasi yang berkut ini sebagai factor-faktor utama yang menentukan kebangkitan dan kegemilangan sains islam selama zaman keemasan itu:
1. Peran kesadaran religius sebagai daya dorong untuk menuntut sains dan teknologi.
2. Ketaatan pada syariah mengilhami studi atas berbagai ilmu.
3. Kelahiran dan kebangkitan gerakan penerjemahan besar-besaran yang bertahan selama beberapa abad.
4. Suburnya filsafat yang ditujukan pada pengajaran, kemajuan, dan pengembangan ilmu.
5. Luasnya santunan bagi aktivitas sains dan teknologi oleh para penguasa dan wazir
6. Adanya iklim intelektual yang sehat sebagaimana yang diilustrasikan oleh fakta bahwa para sarjana dari berbagai mazhab pemikiran (hokum, teologi, filosofis, dan spiritual) melangsungkan debat intelektual secara jujur dan rasional tetapi dalam semangat saling menghormati.
7. Peran penting yang dimainkan oleh lembaga-lembaga pendidikan dan ilmiah, terutama dengan adanya unversitas-universitas.
8. Keseimbangan yang dicapai oleh perspektif-perspektif intelektual islam yang utama.
Membentuk Masa Depan
Kaum muslimin masa kini harus berpegang teguh pada gagasan untuk membuat islam sebagai daya dorong utama bagi pengembangan ilmiah dan teknologi mereka. Orang dapat terilhami untuk mempelajari dan menguasai sains dan teknologi karena berbagai alasan, antara lain agama, ideologis, ekonomi, dan polotis. Menurut pandangan kami, motif yang paling baik dan paling bertahan lama adalah motif religius. Gagasan kami tentang “religius” ini mencakup alasan-alasan spiritual, etika, dan filosofis. Motif-motif materialistic dan duniawi, jika sejarah sains dan teknologi dapat menjadi petunjuk bagi kita, telah terbukti tidak tahan lama. Dalam konteks ini, marilah kita memperhatikan bahwa sains modern berusia kurangdari empat abad. Dan lama periode dimana motif materalistik muncul sebagai motif yang paling dominan jauh lebih singkat lagi!
































BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Tauhid secara mendasar berkaitan dengan fondasi dan perangkat metodologi untuk menghasilkan pengetahuan ilmiah dan teknologi, fondasi etikanya, kegunaannya, aplikasinya yang luas dan beragam, serta signifikansi dan konsekuensinya praktisnya terhadap kehidupan manusia dan lingkungan.





























DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar