Kamis, 10 Juni 2010

pemuliaan tanaman pepaya

BAB I
PENDAHULUAN

Pepaya memiliki nilai strategis untuk dikembangkan karena memiliki daya terima (aceptable) yang luas dan dikonsumsi oleh semua lapisan masyarakat. Pepaya memiliki manfaat yang sangat bervariasi, dapat digunakan untuk membuat rujak buah, minuman penyegar, agar-agar, selai, asinan, kue-kue dan buah beku. Disamping itu, getah pepaya dapat dimanfaatkan dalam industri farmasi, kosmetik maupun pelunak daging. Di Indonesia, penanaman pepaya dengan system monokultur masih belum banyak dilakukan. Umumnya pepaya diusahakan pada area yang relatif sempit.
Beberapa permasalahan yang dihadapai dalam pengembangan pepaya adalah :
1. Produktivitas pepaya yang ada saat ini yang masih rendah (30 - 40 kg/pohon), varietas unggul yang ada kebanyakan buahnya berukuran terlalu besar (1.5 – 5 kg). Introduksi varietas Solo yang mempunyai sifat acceptable global karena berukuran kecil serta warna dagingnya kuning ditolak disebabkan adanya konotasi dengan pepaya makanan burung.
2. Masalah lain yang sekarang ini dihadapi adalah varietas unggul yang bersifat genjah dan berpohon pendek masih jarang, kadar kemanisan buah masih rendah, dan belum ada pembakuan varietas; benih tidak berupa galur murni, kebenaran nama varietas tidak terjamin, serta vigor juga tidak selalu tinggi.
3. Kemampuan adaptasi tanaman pepaya terhadap cekaman kekeringan/ kegenangan juga merupakan kendala yang masih harus dihadapi, karena dapat merubah sex pohon, ataupun adanya “skip” pada beberapa buku sehingga tidak berbuah.
4. Pengembangan budidaya tanaman pepaya secara intensif dalam skala luas masih banyak kendala terutama serangan penyakit.
5. Teknologi penyadapan getah pepaya serta pemrosesan papain belum dikuasai petani.

Salah satu peluang pemecahan masalah yang paling tepat adalah melalui pemuliaan tanaman pepaya untuk mendapatkan varietas unggul yang mempunyai karakter a.l. kualitas buah yang disukai konsumen, produktivitas tinggi, tahan terhadap serangan penyakit. Dengan demikian, dalam jangka panjang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan daya saing pepaya Indonesia dalam agribisnis buah-buahan.
Secara rinci tujuan kegiatan tersebut meliputi hal-hal berikut :
1. Merakit varietas unggul baru yang memiliki sifat pohon dwarf, masa pembungaannya cepat (genjah), produktivitasnya tinggi dan tahan penyakit.
2. Sifat-sifat yang berhubungan dengan kualitas buah untuk konsumsi segar antara lain : berukuran kecil-medium (0.5 –1.0 kg/buah) atau besar (< 3 kg), warna daging buah jingga sampai merah, mempunyai warna kulit hijau dengan warna merah-jingga diselanya, rongga buah kecil (edible portion tinggi), kulit buah halus, buah berbentuk lonjong (oblong), bertekstur padat (firm), rasanya manis dan tidak ada pahitnya atau rasa getah, self life tinggi, dan beraroma khas.
3. Sifat-sifat yang diinginkan terdapat pada varietas unggul untuk tujuan industri papain antara lain : mempunyai ukuran buah besar, kandungan getah dan kualitas papainnya tinggi, kulit buah halus, daging buah tebal, dan bentuk buahnya memanjang.























BAB II
PEMBAHASAN

Kegiatan pengembangan pepaya unggulan Indonesia pada tahun 2002 dilakukan oleh RUSNAS yaitu National Strategic Priority Research, merupakan kelanjutan dan penyempurnaan kegiatan yang telah dilakukannya pada tahun 2001. Secara umum lingkup kegiatan RUSNAS meliputi tiga aspek, yaitu Pengembangan Varietas, Pengembangan atau Perbaikan Teknologi Produksi, serta Pengembangan Agro-technological Cluster.
Pengembangan varietas yang merupakan metode pemuliaan papaya, telah dilakukan penataan, rekonsolidasi dan peningkatan koleksi serta karakterisasi plasma nutfah pepaya; analisis genetic pepaya; melakukan pemurnian koleksi pepaya terpilih sebagai bahan dasar pembentukan varietas unggul.
Pengembangan varietas kegiatannya meliputi:
2.1 Koleksi Plasma Nutfah dan Pemanfaatannya
Pengembangan varietas pepaya diawali dari pengumpulan plasma nutfah pepaya dengan cara eksplorasi ke berbagai daerah dan introduksi dari luar negeri. Plasma nutfah tersebut ditanam/dikoleksi di Kebun Percobaan IPB (Tajur, Cikabayan dan Pasir Kuda). Selanjutnya dilakukan evaluasi, karakterisasi, dan seleksi untuk dimanfaatkan dalam program pemuliaan seterusnya.
Koleksi plasma nutfah telah dimulai sejak tahun pertama dan terus berlanjut sampai saat ini. Hasil kegiatan eksplorasi RUSNAS tahun 2001 ke daerah Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur, serta hasil pemuliaan pepaya BALITBU Solok, telah ditanam di Kebun Percobaan IPB Tajur, Cikabayan dan Pasir Kuda. Tanaman pepaya yang dikoleksi tersebut digunakan untuk tujuan pemuliaan dan penelitian yang terkait dengan pemuliaan pepaya. Selain itu, untuk melestarikan koleksi yang telah ada, dilakukan selfing dan menyimpan benih hasil selfing tersebut di seed storage.
Kegiatan koleksi plasma nutfah pepaya terus berlanjut, sehingga jumlah nomor koleksi/aksesi terus bertambah. Pada tahun 2002 diperoleh tiga varietas introduksi dari Malaysia dan Thailand serta enam varietas lokal dari Bengkulu, Pontianak, Blitar, Magelang, Boyolali dan pepaya Semangka Paris. Kegiatan pemeliharan koleksi yang ada terus dilakukan di Kebun Percobaan IPB Tajur, Pasirkuda dan Cikabayan.
Koleksi plasma nutfah pepaya ini sekaligus juga dimanfaatkan untuk promosi kepada pengusaha dan petani yang berkunjung ke Kebun Koleksi dan berminat mengembangkan usaha produksi agribisnis pepaya.
Sampai saat ini, para pengusaha dan petani pepaya yang telah mengunjungi Kebun Koleksi dan berminat mengembangkan agribisnis papaya sebanyak lima orang. Empat diantaranya sudah mencoba untuk mengembangkan agribisnis pepaya di Bandung, Cisarua, Bogor, dan Lampung. Pemanfaatan dan pengembangan plasma nutfah ini sekaligus merupakan pengujian awal dari hasil seleksi genotipe yang telah dimurnikan.
2. 2 Pembentukan Populasi Dasar
Populasi dasar yang dibentuk dari bahan/koleksi plasma nutfah yang telah ada, dapat melalui persilangan di antara genotipe-genotipe terpilih, atau melakukan selfing untuk mengekalkan karakter yang terdapat pada populasi tersebut. Benih hasil selfing maupun crosssing yang sudah didapat akan digunakan dalam program pemuliaan selanjutnya, tergantung tujuan dan metode yang digunakan.
Pembentukan populasi dasar pemuliaan bertujuan untuk memperoleh populasi tanaman pepaya yang memiliki keunggulan-keunggulan tertentu. Populasi dasar ini berfungsi sebagai working collection yang merupakan sumber genetik (plasma nutfah) yang dapat dimanfaatkan dalam program pemuliaan.
Tanaman yang digunakan sebagai working collection ini dapat berupa tanaman hasil selfing maupun crossing.
2.3 Karakterisasi Morfologis dan Molekuler Plasma Nutfah
Karakterisasi plasma nutfah pepaya yang potensial masih terus dilakukan baik secara pengamatan morfologi (konvensional) dan marka molekuler.
Berdasarkan karakterisasi morfologi yang telah dilakukan terhadap koleksi tersebut, diperoleh sebanyak 39 genotipe yang teridentifikasi dengan jelas. Sementara itu, berdasarkan karakterisasi dengan menggunakan marka dari 5 genotipe yang berbeda, ternyata hanya 2 yang menunjukkan perbedaan nyata.
Deskripsi morfologi tersebut dia atas dilakukan dalam 3 tahap terhadap plasma nutfah yang dikoleksi oleh PKBT. Hal ini dikarenakan plasma nutfah yang diperoleh juga secara bertahap. Tahap pertama, deskripsi morfologi tanaman meliputi lima kultivar yang dilanjutkan dengan pengujian terhadap kualitas buah dari 4 kultivar yang diuji. Tahap kedua, karakterisasi morfologi dilakukan terhadap 15 kultivar yang berasal dari hasil eksplorasi dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pengujian ketiga dilakukan terhadap 19 nomor pepaya hasil pemuliaan Balai Penelitian Buah-buahan (BALITBU) Solok, yang dilanjutkan dengan pengujian kualitas buahnya (pengujian tengah berlangsung). Disamping itu, saat ini masih berlanjut deskripsi morfologi terhadap 10 nomor koleksi PKBT yang baru diperoleh dari eksplorasi ke berbagai daerah.
Metode karakterisasi molekuler yang digunakan adalah Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD). Digunakan metode ini karena mempunyai beberapa kelebihan antara lain, metodenya sederhana, relatif cepat dapat dilihat hasilnya, DNA yang diperlukan sangat sedikit dan tidak perlu terlalu murni, tidak menggunakan radioisotop maupun DNA probe, serta sesuai digunakan untuk sampel yang banyak dengan hanya menggunakan satu primer saja. Lima genotipe telah diidentifikasi dengan RAPD, empat genotipe berasal dari species Carica papaya (GM, NM203, KD dan DTM) dan satu aksesi dari species Carica candamarcencis (Dieng) yang merupakan koleksi dari plasmanutfah PKBT. Metode yang digunakan meliputi isolasi DNA dan Analisis RAPD. Isolasi DNA menggunakan metode CTAB dari Doyle and Doyle (1987) dengan sedikit modifikasi. Dengan menggunakan 6 random primer berhasil di identifikasi 40 fragmen dengan kandungan GC lebih dari 60 % di tiap primernya. Jumlah frgamen berkisar antara 5 sampai 8 dengan rata-rata 6.7 fragmen per primer. Dendogram berdasarkan metode UPGMA dengan persamaan Nei dan Li (1979) dan plot hasil analisis komponen utama (AKU) memisahkan aksesi-aksesi yang diuji kedalam dua kelompok. Spesies Carica papaya (GM, NM203, KD dan DTM) berada pada satu kelompok sedangkan spesies Carica candamarcencis
(Dieng) berada pada kelompok yang lain. Hasil tersebut menunjukkan bahwa Carica papaya dan Carica candamarcencis memiliki karakter genetik yang berbeda.
2.4 Perakitan Varietas Hibrida
Kegiatan dalam program pembentukan varietas hibrida, diawali dengan eksplorasi, introduksi dan koleksi plasma nutfah yang telah dilaksanakan pada tahun pertama. Selanjutnya, koleksi plasma nutfah yang telah ditanam di Kebun IPB Bogor, dikarakterisasi berdasarkan sifat morfologi dan diseleksi untuk membentuk populasi dasar yang akan digunakan untuk program pemuliaan seterusnya. Genotipe yang terpilih, kemudian di’selfing’ untuk memurnikan zuriatnya. Sebanyak 19 genotipe pepaya telah diseleksi kemudian di’selfing’. Benih hasil selfing akan ditanam dan dievaluasi pada musim berikutnya. Pembentukan varietas hibrida diawali dengan pembentukan galur murni dari koleksi plasma nutfah hasil eksplorasi PKBT dan introduksi. Beberapa varietas introduksi merupakan galur murni, seperti Sunrise Solo dan Eksotika.
Pembentukan F1 hibrida memerlukan persilangan antara tetua / tanaman betina dan tetua jantan yang terpilih. Secara teknis, akan mudah melakukan persilangan tetua betina dari tanaman tipe gynoecious (Q), namun persilangan yang dibuat akan menghasilkan tanaman betina dalam jumlah yang banyak. Keadaan ini tidak diinginkan, karena tanaman betina akan menghasilkan bentuk buah yang kurang disukai (bulat). Oleh karena itu, persilangan dilakukan pada tipe tetua hermaphrodite, meskipun harus melakukan emaskulasi sebelum pelaksanaan persilangan. Tanaman / bunga hermaphrodite akan menghasilkan benih yang akan menjadi tanaman hermaphrodite dengan persentase yang lebih banyak.
2.5 Evaluasi Genotipe Pepaya untuk Produksi Papain
Kegiatan penelitian penyadapan getah pepaya ini ditujukan untuk memperoleh metode penyadapan papain yang efisien, mengetahui genotype pepaya yang menghasilkan getah tinggi dan menganalisis kandungan enzim papain yang berasal dari getah tersebut. Sementara ini, hasil yang diperoleh adalah produksi getah dan hasil papain dari empat genotipe yang diuji yaitu Morezati, Sukaraja I, Sukaraja II, dan Bozza.
Penelitian dilanjutkan dengan menguji beberapa genotipe yang potensial untuk memproduksi getah dan menganalisis kandungan papainnya (sedang berlangsung).






















BAB III
PENUTUP

Keberhasilan pemuliaan tanaman papaya ini akan memberikan dampak positif pada beberapa aspek dalam mata rantai agribisnis buah-buahan, yaitu:
1. Industri Benih/Bibit
Varietas baru yang dihasilkan diharapkan dapat meningkatkan produksi benih/bibit berkualitas. Peningkatan produksi benih/bibit akan menyebabkan kegiatan bisnis benih dan pembibitan akan lebih berkembang.
2. Produksi dan Kualitas Buah
Varietas baru yang dihasilkan dari industri benih/pembibitan berpotensi untuk meningkatkan produksi maupun kualitas hasil yang lebih baik secara luas. Selain itu perbaikan teknologi yang dihasilkan akan mendukung proses produksi lebih baik melalui perbaikan/peningkatan efisiensi, kualitas, produktivitas maupun diversifikasi produksi, baik diversifikasi waktu maupun jenis.
3. Industri Pengolahan Buah
Perusahaan processing akan menampung produksi dari perusahaan produsen primer. Dengan adanya varietas baru maka produk yang dihasilkan oleh produsen primer akan lebih baik sehingga berpotensi untuk memberikan kualitas produksi yang lebih baik kepada perusahaan pengolahan buah. Selain itu proses produksi juga menjadi lebih efisien karena seleksi bahan baku lebih mudah karena lebih seragam. Demikian juga dengan teknologi yang diperbaiki diharapkan mendukung kegiatan produksi secara umum lebih baik.
4. Industri Jasa dan Perdagangan
Produk baru yang dihasilkan memiliki kualitas lebih baik dan harga yang lebih bersaing daripada produk sebelumnya. Perbaikan kualitas dan tingkat harga menyebabkan peluang pasar terbuka lebih luas. Misalnya dengan terbukanya peluang perdagangan ke segmen konsumen lebih tinggi dan terbukanya peluang ekspor ke negara-negara lain yang mensyaratkan produk dengan kualitas tinggi. Dengan demikian volume maupun perdagangan buah nasional, baik segar maupun olahan akan meningkat. Sebagai contoh adalah Pepaya Eksotika dari Malaysia dengan perbaikan varietas dapat meningkatkan volume perdagangan hingga 900 persen.


DAFTAR PUSTAKA

http:/pkbt.ipb.ac.id/pemuliaan-tanaman-buah-pepaya
katalog.ipb.ac.id/jurnale/files/Karsinah_KeragamanGenetikPlasma.pdf
http://www.find-pdf.com/cari-pemuliaan+tanaman.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar