Kamis, 10 Juni 2010

vegetasi

BAB I
PENDAHULUAN

Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang erat, baik diantara sesama individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme lainnya sehingga merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis (Marsono, 1977).
Ossting (1982), mengklasifikasikan vegetasi terdiri dari 7 macam yaitu vegetasi pantai, vegetasi mangrove/rawa, vegeasi payau, vegetasi gambut, vegetasi dataran rendah, vegetasi dataran tinggi, dan vegetasi pegunungan.
Vegetasi pegunungan merupakan Vegetasi yang tumbuh diketinggian antara 1500-2500 m di atas permukaan laut (Departemen Kehutanan). Terdapat di bukit-bukit yang lebih rendah atau di lereng gunung.
Salah satunya adalah tanaman teh dan bunga Eidelweis. Teh dihasilkan oleh perkebunan besar dan perkebunan rakyat, di daerah pegunungan yang subur dan banyak turun hujan. Selain itu tanaman kopi juga dapat tumbuh di daerah pegunungan. Tanaman tembakau dapat juga tumbuh di daerah ini namun hanya dapat pada musim kemarau.
Setiap gunung, memiliki vegetasi yang berbeda tergantung keadaan tempat dan kebutuhan vegetasi itu. Banyak sekali vegetasi yang dapat tumbuh di daerah pegunungan, seperti pohon pinus, pohon jati, dan lain sebagainya. Dan dalam makalah ini akan dibahas mengenai vegetasi di gunung Bromo dan di Taman Nasional Kerinci Seblat.









BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Vegetasi Gunung Bromo
Karakteristik suatu areal dari sudut ekosistem lebih ditentukan oleh vegetasi yang tumbuh di atasnya, oleh karena itu mengetahui kondisi penutupan dan penyebaran vegetasi di atas lahan dapat membantu dalam penentuan tipe vegetasi suatu areal dan penentuan zonasi untuk kepentingan pengelolaan lahan.
Perkembangan dan kemajuan ekonomi pada masyarakat mengakibatkan perubahan tata guna lahan sehingga kawasan resapan berubah menjadi kawasan pemukiman dan industri. Perubahan tersebut dapat mengakibatkan menurunnya kemampuan tanah untuk meresapkan air.
Penurunan daya resap tanah terhadap air dapat juga terjadi karena hilangnya vegetasi penutup tanah (terbukanya tanah akibat kurang lebatnya vegetasi). Akibat dari penurunan daya resap tanah terhadap air ini berakibat pada penurunan volume air tanah yang meresap dan meningkatkan air larian (surface runoff), sehingga mempercepat terjadinya erosi dan dapat menyebabkan keruntuhan lereng (shallow slides). Air larian akan mengalir terus ke daerah yang lebih rendah (sungai, danau, laut) yang dapat mengakibatkan banjir dan longsor. Untuk menyikapi banyaknya gejala proses alam kebumian yang terjadi dengan cepat dan dalam jumlah volume air yang besar, maka sudah selayaknya perlu ditinjau ulang regulasi dan alokasi kawasan alam pegunungan yang ada.
Di gunung Bromo terdapat beberapa macam tipe ekosistem. Macam-macam tipe ekosistem utama adalah tipe ekosistem hutan primer, hutan sekunder, laut pasir, danau, lahan terbuka, pemukiman, semak belukar, dan tegalan.
1. Ekosistem hutan primer merupakan ekosistem yang secara fisik belum terganggu, atau hanya sedikit yang terganggu oleh aktivitas manusia. Ciri umum ekosistem hutan primer adalah tidak terpengaruh oleh musim, memiliki keanekaragaman spesies hewan dan tumbuhan yang sangat tinggi, strukturnya sangat kompleks dan relatif stabil.
2. Ekosistem hutan sekunder muda mudah dibedakan dari ekosistem hutan primer dengan terdapatnya komposisi spesies dan struktur. Walaupun demikian sulit membedakan antara hutan sekunder tua dan hutan primer sejati.
3. Ekosistem laut pasir dideskripsikan mirip dengan ekosistem gurun. Tumbuhan herba berkembang saat curah hujan cukup, memiliki daun yang kecil dan seringkali tertutup bulu seperti tumbuhan herba di gurun. Bagian terbesar tumbuhan adalah efemeral, yang menyelesaikan daur hidupnya dalam waktu yang sangat singkat, dalam jangka waktu sau bulan atau kurang. Herba yang tidak efemeral kebanyakan berupa perennial akar yang selamat dari musim kering dalam bentuk umbi.
4. Ekosistem danau dapat dibagi menjadi tiga zona yaitu zona litoral,zona limnetik dan zona profundal. Danau adalah bentuk geologi sementara yang terbentuk karena bencana alam, menjadi “dewasa” dan “mati” dengan tenang dan perlahan-lahan. Danau lahir akibat bencana alam pada zaman es atau periode aktivitas tektonik dan vulkanik yang intensif. Danau di daerah tropika mempunyai suhu permukaan yang tinggi (20-30°C) dan memperlihatkan penurunan suhu yang kecil dengan bertambahnya kedalaman.
5. Ekosistem lahan terbuka adalah ekosistem lahan akibat perambahan dan aktivitas manusia atau akibat alam. Komunitas vegetasi pegunungan (subalpine) tropis pada ketinggian di atas 2500 meter berupa pohon kerdil dan ditumbuhi lumut kerak.
6. Ekosistem pemukiman adalah ekosistem tempat manusia hidup dan bermukim.
7. Ekosistem semak belukar meliputi savana yang merupakan daerah peralihan antara hutan dan padang rumput. Savana terjadi karena keadaan tanah dan atau kebakaran yang berulang dan bukan disebabkan oleh keadaan iklim. Vegetasinya harus tahan terhadap kekeringan dan kebakaran, jumlah jenis dalam vegetasinya tidak besar. Rumput-rumput yang termasuk ke dalam genera panicum, penisetum, andrpogon, dan imperata merupakan penutup yang dominan, sedangkan pohon-pohon yang tersebar memiliki jenis yang berbeda dari jenis pohon-pohon di hutan.
8. Ekosistem tegalan merupakan daerah pengelolaan pertanian. Sumber daya yang merupakan basis ekosistem ini adalah lahan basah dan lahan kering. Eksplorasi sumber daya ini dapat menimbulkan kerusakan lingkungan yang dapat berakibat lingkungan tersebut menjadi kurang atau tidak berfungsi lagi. Ekosistem tegalan ini mencakup kebun campuran, tegalan dan bentuk pertanian lainnya yang umumnya berada di sekitar taman nasional. Walau ekosistem kawah masih menimbulkan keraguan untuk ditetapkan sebagai suatu ekosistem karena informasi pola kehidupan flora-fauna di dalam dan di sekitar kawah ini belum cukup tersedia, namun sebagai salah satu keberagaman, dalam penulisan ini kawah dianggap sebagai suatu ekosistem.
Peta ekosistem wilayah gunung Bromo dengan tipe-tipe ekosistem yang ada diperlihatkan pada Gambar 1. Peta tersebut didapatkan dari hasil pengolahan citra, proses overlay dan ground truth. Tipe-tipe ekosistem dapat dibedakan dalam klasifikasi dalam Tabel 1.

Gambar 1. Peta vektor ekosistem wilayah gunung Bromo hasil deliniasi

Tabel 1. Tipe Ekosistem Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dalam Klasifikasi Tingkat Level I terdapat 9 tipe ekosistem
Kelas (level) Luas (Ha) %
ED (ekosistem Danau) 39.02 0.02%
EHP (Ekosistem Hutan Primer) 46,627.31 27.31%
EHS (Ekosistem Hutan Sekunder) 38,969.87 22.82%
EK (Ekosistem Kawah) 1,290.37 0.76%
ELP (Ekosistem Laut Pasir) 91.89 0.05%
ELT (Ekosistem Lahan Terbuka) 3,932.62 2.30%
EP (Ekosistem Pemukiman) 12,790.63 7.49%
ESB (Ekosistem Semak Belukar 8,107.81 4.75%
ET (Ekosistem Tegalan) 58,902.94 34.50%
170,752.45
Ekosistem hutan sekunder yang ditampilkan pada Gambar 2 memperlihatkan degradasi warna yang cukup bervariasi. Ekosistem hutan sekunder dapat merupakan ekosistem hutan primer yang mengalami kerusakan akibat aktivitas manusia ataupun akibat alam alam sehingga dapat diartikan sebagai proses suksesi vegetasi sedang yang mengarah pada ekosistem hutan primer. Ekosistem lahan terbuka pada wilayah Bromo dan sekitarnya terdiri atas lahan kosong tanpa vegetasi akibat singkapan permukaan dan lahan terbuka akibat pengaruh aliran lava, khususnya pada lereng sebelah timur gunung Semeru dan di sekitar puncak gunung Semeru yang karena ketinggian tempat tersebut termasuk dalam zona subalpin, yang hanya dapat ditumbuhi tumbuhan kerdil dan lumut kerak.

Gambar 2. Peta ekosistem gunung Bromo dan kawasan penyangganya dalam klasifikasi ekosistem
Keterangan:
ED = Ekosistem Danau
EHP = Ekosistem Hutan Primer
EHS = Ekosistem Hutan Sekunder
EK = Ekosistem Kawah
ELP = Ekosistem Laut Pasir
ELT = Ekosistem Lahan Terbuka
EP = Ekosistem Pemukiman
ESB = Ekosistem Semak Belukar
ET = Ekosistem Tegalan

2.2 Vegetasi Taman Kerinci Seblat
Taman Nasional Kerinci Seblat terletak di 4 wilayah propinsi yaitu Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu dan Sumatera Selatan. Sebagian besar kawasan taman nasional ini merupakan rangkaian pegunungan Bukit Barisan Selatan di Pulau Sumatera bagian tengah. Secara geografi Taman Nasional Kerinci Seblat terletak pada 100°31′18″ – 102°44′ Lintang Timur dan 17′13″ – 326′14″ Lintang Selatan.
Luas Taman Nasional Kerinci Seblat (hasil tata batas) ditetapkan seluas 1.368.000 Ha dengan perincian:
• seluas 353.780 Ha (25,86%) terletak di Propinsi Sumatera Barat;
• seluas 422.190 Ha (30,86%) terletak di Propinsi Jambi;
• seluas 310.910 Ha (22,73%) terletak di Propinsi Bengkulu; dan
• seluas 281.120 Ha (20,55%) terletak di Propinsi Sumatera Selatan.
Dalam sejarah pembentukannya, taman nasional ini merupakan penyatuan dari kawasan-kawasan Cagar Alam Inderapura dan Bukit Tapan, Suaka Margasatwa Rawasa Huku Lakitan-Bukit Kayu embun dan Gedang Seblat, hutan lindung dan hutan produksi terbatas di sekitarnya yang berfungsi hidro-orologis yang sangat vital bagi wilayah sekitarnya.
Hutan Taman Nasional Kerinci Seblat memiliki 4000 jenis tumbuhan yang didominasi oleh famili Dipterocarpaceae, dengan flora yang langka dan endemik yaitu pinus kerinci (Pinus merkusii strain Kerinci), kayu pacat (Harpulia alborera), bunga Rafflesia (Rafflesia arnoldi) dan bunga bangkai (Amorphophallus titanium dan A. decussilvae).

Topografi Taman Nasional Kerinci Seblat yang berada pada ketinggian antara 200 sampai dengan 3.805 meter dpl ini bergelombang, berlereng curam dan tajam. Sedangkan topografi taman yang relatif datar, terdapat pada ketinggian 800 meter dpl atau terdapat di daerah enclave yang berada di Kabupaten Kerinci.
Di dalam Taman Nasional Kerinci Seblat terdapat beberapa tipe ekosistem hutan. Mulai dari tipe ekosistem hutan dataran rendah, sampai ekosistem sub alpin dan beberapa ekosistem khas seperti rawa gambut, rawa air tawar dan danau. Taman Nasional Kerinci Seblat juga memiliki hutan primer dengan beberapa tipe vegetasi. Tipe vegetasi utama didominasi formasi seperti: Vegetasi dataran rendah yang berada di atas 200 sampai 600m dari permukaan laut (dpl); hutan dengan Vegetasi pegunungan bukit yang berada pada ketinggian 600 sampai 1.500m dpl; hutan Vegetasi montana yang berada pada ketinggian 1.500 sampai 2.500 m dpl; hutan Vegetasi belukar gleichenia paku-pakuan yang tumbuh pada ketinggian 2.500 sampai 2.800m dpl dan terakhir hutan Vegetasi sub alpine yang tumbuh pada ketingian 2.300 sampai 3.200m dpl.
Hutan Taman Nasional Kerinci Seblat memiliki 4000 jenis tumbuhan yang didominasi oleh famili Dipterocarpaceae, dengan flora yang langka dan endemik yaitu pinus kerinci (Pinus merkusii strain Kerinci), kayu pacat (Harpulia arborea), bunga rafflesia (Rafflesia arnoldi), dan bunga bangkai (Amorphophallus titanium dan A. decussilvae).
Beberapa jenis tanaman obat antara lain paku gajah, akar tik ulat, akar kepuh, pinang, kunyit, akar sepakis, ubi itam dan lain-lain. Anggrek antara lain Spathoglotis plicata, Pholodita articulata, Calanthe triplicata, C. plava, Coelogyne pandura, C. suiphorea, Dendrobium crumenatum, Dianela ensifolia, Diplocaulobium, Phaleonopsis sp dan renanthera sp.
Secara umum curah hujan di kawasan ini cukup tinggi dan merata. Rata-rata curah hujan tahunan berkisar antara 3.000 mm. Musim hujan berlangsung dari bulan September – Februari dengan puncak musim hujan pada bulan Desember. Sedangkan musim kemarau berlangsung dari bulan April – Agustus. Suhu udara rata-rata bervariasi yaitu 28° C di dataran rendah, 20° C di Lembah Kerinci dan 9° C di Puncak Gunung Kerinci. Kelembaban 80-100%.
Di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat secara umum tumbuh sekitar 4.000 jenis flora dari 63 famili. Jenis flora tersebut banyak terdapat di kawasan hutan yang didominasi oleh famili Dipterocarpaceae, Leguminosae, Lauraceae, Myrtaceae, Bommacaceae, Moraceae, Anacardiaceae, Myristicaceae, Euphorbiaceae dan Meliaceae. Sedangkan pada ketinggian 500m sampai 2000m dpl, jenis flora yang tumbuh di hutan ini banyak didominasi oleh famili Fagaceae, Erycaceae dan semak-semak sub alpin dari jenis Vaccinium dan Rhododendron.
Di Taman Nasional Kerinci Seblat juga terdapat jenis vegetasi yang menjadi ciri khasnya, di antaranya adalah: Histiopteris insica (tumbuhan berpembuluh tertinggi) yang dapat dijumpai di dinding kawah Gunung Kerinci, berbagai jenis Nepenthes sp, Pinus mercusii strain Kerinci, Kayu Pacat (Harpullia arborea), Bunga Raflesia (Rafflesia arnoldi), Agathis sp. Pada tahun 1993, Biological Science Club (BScC) melakukan penelitian di daerah buffer zone dan mereka menemukan 115 jenis vegetasi ethnobotanical. Jenis vegetasi ini bisa digunakan untuk keperluan obat-obatan, kosmetik, makanan, anti nyamukdan keperluan rumah tangga, seperti sering digunakan oleh masyarakat setempat.






























BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Dari uraian diatas, dapat kita simpulkan :
1. Tipe-tipe ekosistem yang ada di gunung Bromo adalah :
a. Ekosistem hutan primer,
b. Ekosistem hutan sekunder,
c. Ekosistem laut pasir,
d. Ekosistem danau,
e. Ekosistem lahan terbuka,
f. Ekosistem pemukiman,
g. Ekosistem semak belukar, dan
h. Ekosistem tegalan.
2. Di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat secara umum tumbuh sekitar 4.000 jenis flora dari 63 famili. Jenis flora tersebut banyak terdapat di kawasan hutan yang didominasi oleh famili Dipterocarpaceae, Leguminosae, Lauraceae, Myrtaceae, Bommacaceae, Moraceae, Anacardiaceae, Myristicaceae, Euphorbiaceae dan Meliaceae. Sedangkan pada ketinggian 500m sampai 2000m dpl, jenis flora yang tumbuh di hutan ini banyak didominasi oleh famili Fagaceae, Erycaceae dan semak-semak sub alpin dari jenis Vaccinium dan Rhododendron.











DAFTAR PUSTAKA

http://www.beritabumi.or.id/?g=liatinfo&infoID=IDooo3&ikey=3
http://www.ditjenphka.go.id/index.php?a=kn&s=k&i=20&t=4
http://www.pu.go.id/infostatistik/katalog/Kamus%20peristilahan.htm
http://www.wikipedia.co.id
http://www.wisatamelayu.com/id/object.php?a=RkxQL3NUWi9P=&nav=geo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar