Minggu, 06 Januari 2013

LAPORAN FISIOLOGI TUMBUHAN

I.          Judul                         : POTENSIAL OSMOSIS PADA JARINGAN TUMBUHAN
II.        Tanggal                      : 14 November 2009
III.       Tujuan                       : Mengukur potensial osmosis suatu jaringan tumbuhan dengan   cara plasmolisis
IV.       Pendahuluan                         :
                        Osmosis adalah perpindahan air melalui membrane permeable selektif dari bagian yang lebih encer ke bagian yang lebih pekat. Membrane semipermeabel harus dapat ditempuh oleh pelarut, tapi tidak oleh zat terlarut, yang mengakibatkan gradient tekanan sepanjang membrane. Osmosis merupakan suatu fenomena alami, tapi dapat dihambat secara buatan dengan meningkatkan tekann pada bagian dengan konsentrasi yang lebih encer. Gaya per unit luas yang dibutuhkan untuk mencegah mengalirnya pelarut melalui membrane permeable selektif dan masuk ke larutan dengan konsentrasi yang lebih pekat sebanding dengan tekanan turgor. Tekanan osmotic merupakan sifat koligatif, yang berarti bahwa sifat ini bergantung pada konsentrasi zat terlarut, dan bukan pada sifat zat terlarut itu sendiri.
            Osmosis terbalik adalah sebuah istilah teknologi yang berasal dari osmosis. Osmosis adalah sebuah fenomena alam dalam sel hidup dimana molekul “solvent” (biasanya air) akan mengalir dari daerah “solute” rendah ke daerah “solute” tinggi melalui membrane semipermeabel. Membrane semipermeabel ini menunjuk ke membrane sel atau membrane apapun yang memiliki struktur yang sangat mirip atau bagian dari membrane sel. Gerakan dari “solvent” berlanjut sampai ke sebuah konsentrasi yang seimbang tercapai di kedua sisi.
            Reverse osmosis adalah sebuah proses pemaksaan sebuah solvent dari sebuah daerah konsentrasi  “solute” tinggi melalui membrane ke sebuah daerah “solute” rendah dengan menggunakan sebuah tekanan melebihi tekanan osmotic. Dalam istilah lebih mudah, reverse osmosis adalah mendorong sebuah solusi melalui filter yang menangkap “selute” dari satu sisi dan membiarkan pendapatan “solvent” murni dari sisi satunya. (http://id.wikipedia.org/wiki/osmosis/13/11/09)
                        Dapat dikatakan bahwa peristiwa osmosis adalah transfer solvent (dan bukan solut). Sedangkan peristiwa transfer solute, dikenal sebagai dialysis (arah liran dari titik berpotensi solute tinggi menuju ke rendah).
            Prinsip osmosis; transfer molekul solvent dari lokasi hypotonic ke (potensi rendah) solution menuju hypertonic solution, melewati membran. Jika lokasi hipertponic solution kita beri tekanan tertentu, osmosis dapat berhenti atau malah berbalik arah (reversed osmosis). Besarnya yang dibutuhkan untuk menghentikan osmosis disebut sebagai osmotic press. Jika dijelaskan sebagai konsep termodinamika, osmosis dapat dianalogikan sebagi pross perubahan entropi. Komponen solvent murni memiliki entropi rendah, sedangkan komponen berkandungan solute tinggi memiliki entropi yang tinggi memiliki entropi yang tinggi juga
            Mengikuti hukum termo II: setiap perubahan yang terjadi selalu menuju kondisi entropi maksimum, maka solvent akan mengalir menuju tempat yang mengandung solute lebih banyak, sehingga total entropi akhir yang diperoleh akan maksimum. Solvent akan kehilangan entropi, dan solute akan menyerap entropi. Saat keseimbangan tercapai, entropi akan maksimum atau gradient (perubahan entropi terhadap waktu) = 0, yaitu pada titik ekstrim, ds / dt = 0. (Dwadjosoeputro, 1999)
                        Alat untuk mengukur osmosis disebut osmometer. Meningkatnya tekanan akan menaikan potensial air, sehingga potensial air dalam system osmotic akan naik menuju nol. Jika di satu sisi membrane ada larutan dan sisi lainnya ada larutan lain yang berbeda konsentrasinya, maka osmosis akan berlangsung. Larutan yang lebih pekat mempunyai i potensial air lebih rendah (lebih negatif); jadi air akan berdifusi ke daerahnya dari larutan lain sampai tekanannya naik ke suatu titik, yaitu sampai potensial airnya sama dengan potensial-air larutan yang kurang pekat.
            Kesetimbangan tercapai apabila:
            ΔΨ= Ψ1 – Ψ2
            Yaitu apabila selisih potensial air (ΔΨ) sama dengan nol. Tekanan bisa terjadi pada kedua larutan, atau larutan diluar osmometer bisa lebih pekat (air akan bergerak ke luar), tapi bila kesetimbangan tercapai, potensial air akan sama diseluruh bagian system, yaitu     ΔΨ = 0 di seluruh bagian system; dua larutan yang dipishkan oleh membrane dan berada dalam kesetimbangan akan mempunyai potensial air negative yang sama.
            Potensial osmotic (potensial linarut), terjadi krena adanya unsure terlarut. Lambangnya yaitu Ψs.
            Ψs = -Ci RT
            dengan:
            C         = konsentrasi larutan yang dinyatakan sebagi molalitas (mol linarut per Kg H2O)
i           = konstanta pengionan linarut
R         = konstanta gas (0,00831 Kg KJ mol-1 K-1)
T          = suhu mutlak (K)
Total Ψs untuk larutan kompleks seperti cairan sel adalah jumlah semua potensial osmotic yang dihasilkan oleh semua linarut. Dinyatakan sebagai osmolalitas. Potensial osmotic terhitung harus dibandingkan dengan air murni pada tekanan atmosfer dan pada suhu yang sama.
Pada ekanan satu atmosfer dan pada suhu yang sama dengan larutan di atmosfer akan menghasilkan kesetimbangan (tekanan) lebih tinggi dari pada yang dihasilkan oleh air dingin di larutan dingin.
Termoosmosis yaitu keadaan yang air hangatnya dipisahkan dari air dingin oleh membrane yang memungkinkan tekanan membesar di air dingin, ketika air hangat berdifusi masuk.
Tekanan osmotic (lebih merupakan tekanan nyata yang timbul dalam osmometer dari pada potensial osmotic) ialah tekanan yang bekerja pada dinding wadah, jika partikel linarut berbentuk gas dengan volume yang setara.
Osmosis terjadi tanpa menghiraukan bagaimana fungsi membrane, sepanjng pergerakan linarut lebih dibatasi dibandingkan dengan pergerakan air. Membrane bisa berupa satu lapis bahan yang lebih melarutkan pelarut daripada partikel linarut, sehingga melewatkan lebih banyak molekul pelarut dari pada partikel linarut.
Karena pada titik kesetimbangan, nilai mutlak potensial osmotic (yang negative) setara dengan tekanan nyata (yang positif) di osmometer ‘sempurna’, maka potensial osmotic larutan dapat diukur secara langsung.
Titik beku (dan juga tekanan uap) adalah fungsi dari fraksi mol dan juga fungsi dari potensil osmotic. Sifat larutan yang ditentukan oleh fraksi mol disebut sifat koligatif. Sifat itu meliputi titik beku, titik didih, tekanan uap, dan potensial osmotic. Potensial omotik dapat dihitung dari nilai lainnya. Mengukur titik beku untuk menghitung potensial osmotic dinamakan metode krioskopik atau meode titik beku.
Ψs = -2,27 MPa   
Δf    -1,86o C  
atau:
Ψs        = (1,22 MPa der-1) Δf              (Frank B Sallisbury & Cleon W Ross, 1955)

V.        Alat dan Bahan         :
NO
ALAT
1
Tabung reaksi dan rak tabung reaksi
2
Pisau cutter
3
Mikroskop cahaya
4
Kaca objek dan kaca penutup






NO
BAHAN
1
Larutan sukrosa 0,22 M; 0,20 M; 0,18 M; 0,16 M; 0,14 M; 0,12 M; 0,10 M; masing-masing 5 ml
2
Sayatan epidermis bawah daun Rhoeo discolor sebanyak 21 buah, masing-masing mengandung + 25 sel

Isi larutan sukrosa sebanyak 5 ml pada tabung reaksi


     0,22 M     0,20 M     0,18 M     0,16 M     0,14 M     0,12 M     0,10 M         


     
 
VI.       Cara Kerja                 :
                                               
   




 


Masukan sayatan-sayatan epidermis Rheoe discolor ke dalam vial tabung reaksi masing-masing 3 sayatan
     
 
                                                                 
















Diamkan selama 30 menit, periksa seluruh sayatan dengan kaca objek dengan setetes larutan yang digunakan untuk merendam sayatan
Amati dengan membuat table persentase sel untuk setiap konsentrasi larutan 




     
 



Buat potongan daun dengan alat pengebor gabus
 












Uji bekas larutan dengan menggunakan Kristal metilen, amati perubahannya, pada tabung reaksi mana larutan tidk mengalami perubahan
 
 








                                                                                                                                       
VII.     Hasil Pengamatan     :
Larutan Sukrosa (M)
Keterangan
Jumlah sel
0,22 M
Sel penuh 
29
Sel kosong
54
Sel setengah
23
0,20 M
Sel penuh
29
Sel kosong
65
Sel setengah
34
0,18 M
Sel penuh
9
Sel kosong
63
Sel setengah
14
0,16 M
Sel penuh
155
Sel kosong
76
Sel setengah
46
0,14 M
Sel penuh
81
Sel kosong
56
Sel setengah
37
0,12 M
Sel penuh
44
Sel kosong
51
Sel setengah
25
0,10 M
Sel penuh
14
Sel kosong
51
Sel setengah
25

                        Gambar:







 




                        0,0 M                                                1,0 M
                                                                                                           
VIII.    Pembahasan              :
                        Osmosis adalah perpindahan air melalui membrane permeable selektif dari bagian yang lebih encer ke bagian yang lebih pekat. Membrane semipermeabel harus dapat ditempuh oleh pelarut, tapi tidak oleh zat terlarut, yang mengakibatkan gradient tekanan sepanjang membrane. Osmosis merupakan suatu fenomena alami, tapi dapat dihambat secara buatan dengan meningkatkan tekann pada bagian dengan konsentrasi yang lebih encer. Gaya per unit luas yang dibutuhkan untuk mencegah mengalirnya pelarut melalui membrane permeable selektif dan masuk ke larutan dengan konsentrasi yang lebih pekat sebanding dengan tekanan turgor. Tekanan osmotic merupakan sifat koligatif, yang berarti bahwa sifat ini bergantung pada konsentrasi zat terlarut, dan bukan pada sifat zat terlarut itu sendiri. Dari data hasil pengamatan dapat diketahui bahwa dalam sel terjadi osmosis yang mana dipengaruhi oleh konsentrasi zat.




IX.     Jawaban Pertanyaan :
                       Pertanyaan:
1.   Sebutkan definisi plasmolisis?
2. Jelaskan mengapa potensial osmosis pada keadaan “incipient plasmolysis” memiliki nilai yang hampir sama atau kira-kira sama dengan potensial osmosis sel pada keadaan normal?
3. Pada keadaan “incipient plasmolysis”, nilai potensial osmosis yang sebenarnya akan lebih kecil atau lebih besar dari keadaan normal? Jelaskan alasan anda!
4. Apakah sel-sel jaringan dari tumbuhan yang berbeda akan memiliki potensial osmosis yang berbeda pula? Jelaskan!
5. Bila sel mengalami plasmolisis, apakah sel tersebut akan kembali normal bila diberi larutan yang sesuai dengan larutan sel? jelaskan!
Jawaban:
1. Proses penyerapan zat terlarut oleh jaringan ke dalam sel, sehingga volume cairan sel bertambah sedangkan volume larutan berkurang
2. Karena selain pada prinsipnya sama yaitu penyerapan larutan ke dalam sel, hal ini terjadi juga karena konsentrasi cairan sel yang lebih pekat
3. Akan lebih besar karena konsentrasi cairan sel yang semakin pekat
4. Ya, karena setiap sel-sel jaringan tumbuhan memiliki kemampuan osmosis tersendiri
5. Tidak, sel yang sudah kosong cairan selnya tidak akan kembali normal, tetapi tumbuhan itu akan membentuk sel baru kembali dengan zat pembangun yang terdapat pada tumbuhan



X.       Kesimpulan                 :
              Berdasarkan hasil percobaan dan pengamatan osmosis pada jaringan tumbuhan dapat disimpulkan bahwa osmosis pada jaringan dipengaruhi oleh konsentrasi zat.
XI.       Daftar Pustaka                      :
                        Salisbury F. B & Ross C. W. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid I. Bandung: ITB
                        Dwidjosepoetro. 1989. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. PT. Gramedia: Jakarta.
                        http://id.wikipedia.org/wiki/osmosis/13/11/09
                       
                       
                       
                                               

           








           
I.          Judul                         : TRANSPORTASI PADA BIJI
II.        Tanggal                      : 21 November 2009
III.       Tujuan                       : Membuktikan pengangkutan air dan mineral yang terlarut dalam air pada tumbuhan
IV.       Pendahuluan                         :
                        Untuk menaikan air dari permukaan tanah ke pucuk pohon diperlukan tekanan di dasarnya sebesar 10,9 atm (1,11 MPa), ditambah dengan tambahan untuk melawan tahanan dalam jalur air, dan untuk memelihara aliran.
            Tekanan akar tampak pada sebagian besar tumbuhan, tapi ini terjadi hanya jika tanah cukup lembab, dan bila kelembaban udara tinggi; artinya, ketika transpirasi sedang sangat rendah. Tetesan air akan terlihat keluar dari bukaan (hidatoda) pada ujung atau tepi daun rerumputan. Fenomena ini disebut gutasi. Jika tumbuhan ditempatkan dalam kondisi atmosfer yang cukup kering, atau di tanah yang berkelembaban rendah, atau sekaligus dalam kedua keadaan tersebut, maka tekanan akar tidak muncul sebab air dalam batangnya berada di bawah tegangan dan bukan di bawah tekanan.
            Kapilaritas merupakan interaksi antara antara permukaan-singgung dari suatau bahan cair dan bahan padat, sehingga permukaan zat cair tersebut berubah bentuk, dari datar menjadi agak mengerut. Kapilaritas menyebabkan naiknya cairan ke dalam tabung yang sempit, yang terjadi karena zat cair tersebut membasahi dinding tabung (dengan daya adesi) lalu tertarik ke atas. (Frank & Cleon, 1995: 103-104)
                        Salah satu bagian dari naiknya cairan dalam pohon yang tinggi ialah kohesi air. Ada tiga unsur dasar dalam teori kohesi air untuk menjelaskan naiknya cairan: daya penggerak, hidrasi (adesi), dan kohesi air. Daya penggerak adalah gradien potensial air yang makin menurun (makin negative), dari tanah, melalui tumbuhan, ke atmosfer. Air bergerak dalam lintasan, mulai dari tanah, melalui epidermis, korteks, dan endodermis, masuk ke jaringan pembuluh akar, naik melalui unsure xylem dalam kayu, masuk ke daun, dan akhirnya dengan adanya transpirasi melalui stomata, menuju atmosfer. Struktur khusus lintasan ini (diameter yang cukup kecil dan dinding yang tebal, yang mencegah rebahnya tabung), potensial osmotic yang rendah pada sel batang, dan daun hidup, dan kemampuan hidrasi dinding sel, terutama di daun, membuat system ini berfungsi. Daya hudrasi antara molekul air dan dinding sel disebabkan oleh adanya ikatan hydrogen, dinamakan adesi, yakni daya tarik antarmolekul yang tidak sejenis.
            Kohesi, yang merupakan daya tarik antar molekul sejenis, adalah kuncinya. Iniah daya tarik antarmolekul air di dalam lintasan tersebut. Dalam lingkungan khusus itu, daya kohesi demikian tinggi (air mempunyai daya pegang yang besar), sehingga bila air tertarik oleh omosis dari penguapan dari titik tertentu di dinding sel pada puncak pohon yang tinggi, tarikan itu berlanjut disepanjang jalur ke bawah, melalui batang dan akar sampai ke bawah. (Martin, 1993)
                        Bagian khusus yang penting pada daun meliputi kutikula, perangkat stomata, serta ruang antar sel yang banyak jumlahnya, dengan permukaan sel (sel mesofil) yang lembab berada di sebelah luar.
            Pada batang herba tumbuhan dikotil mempunyai berkas pembuluh dengan xylem dan floem ‘terbuka’, sedangkan pada tumbuhan monokotil sering ‘tertutup’. Berkas pembuluh terbuka berarti ‘terbuka untuk tumbuh’, sebab berkas tersebut mempunyai selapis sel cambium yang dapat menghasilkan xylem dan floem sekunder; berkas pembuluh tertutup tidak mempunyai cambium seperti itu, dan juga ‘tertutup’ dalam arti bahwa berkas tersebut sering dikelilingi oleh seludang berkas yang terdiri dari sel serat berdinding tebal.
            Xylem terdiri dari empat macam sel: trakeid, unsure pembuluh, serat, dan parenkimia xylem. Floem juga mempunyai sel serat dan parenkima. Di xylem, terutama pada tumbuhan berkayu, hanya sel parenkima yang hidup, dan paling banyak terdapat di jejari yang menyebar secara radial pada kayu; tapi beberapa sel parenkima juga tersebar di seluruh xylem.
            Air masuk ke dalam tumbuhan melalui akar. Xylem di tengah akar bersambung dengan xylem pada batang; dan berhubungan erat pula dengan floem. Sel diantara xylem dan floem membentuk cambium pembuluh yang membuat xylem di sebelah dalam dan floem di sebelah luar. (Frank & Cleon, 1995)
                        Transportasi tumbuhan adalah proses pengambilan dan pengeluaran zat-zat ke seluruh bagian tubuh tumbuhan. Pada tumbuhan tingkat rendah penyerapan air dan zat hara yang terlarut di dalamnya dilakukan oleh atau melalui seluruh bagian tubuh. Ada tumbuhan tingkat tinggi proses pengangkutan dilakukan pembuluh pengangkut yang terdiri dari xylem dan floem. Tumbuhan memperoleh bahan dari lingkungan untuk hidup berupa O2, CO2, air, dan unsure hara. Mekanisme proses penyerapan dapat berlangsung karena adanya proses imbibisi, difusi, osmosis, dan transfor aktif.
Imbibisi:          merupakan peresapan air ke dalam ruang antar dinding selnya akan mengembang. Misal masuknya air pada biji saat berkecambah.
Difusi :             gerak menyebarnya molekul dari daerah hypertonic ke hypotonic.
Osmosis:          proses perpindahan air dari derah yang hypertonic melalui membrane semipermeabel.
Transfor aktif: pengangkutan lintas membrane dengan menggunakan energy ATP. Arahnya dari daerah konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah.
Pengangkutan zat pada tumbuhan dibedakan menjadi:
1.      Pengangkutan vaskuler (intravaskuler): pengangkutan melaluiberkas pembuluh pengangkut.
2.      Pengankutan ekstravaskuler: pengangkutan air dan garam mineral di luar berkas pembuluh pengangkut.
Air dan zat terlarut yang diserap akar diangkut menuju daun dan akan dipergunakan sebagai bahan fotosintesis yang hasilnya zat gula/ amilum/ pati. Pengangkutan hasil fotosintesis berupa larutan melalui floem secara vaskuler ke seluruh bagian tubuh disebut translokasi. Floem tersusun oleh empat komponen, yaitu: buluh tapis, sel pengiring, parenkim floem, dan serabut-serabut.                  
                



                
V.        Alat dan Bahan         :
                                   
NO
ALAT
1
Mikroskop cahaya
2
Gelas objek
3
Gelas penutup
4
Silet atau cutter
5
Batang pengaduk
6
Erlenmeyer

NO
BAHAN
1
Zat warna
2
Tumbuhan pacar air (impatien sp)

Isi labu Erlenmeyer dengan larutan zat warna


 
VI.       Cara Kerja                 :
                                               
   






Potong meruncing batang impatien sp.

 



 












Masukan ke dalam larutan zat warna, biarkan selama 2,5 jam

 






Amati bagian batang, cabang, dan tulang tumbuhan

 



 










meristem
 
xilem
 
air
 
VII.     Hasil Pengamatan     :
a.       Batang
           
b.      Batang daun




c.      
air
 
Tulang daun


Hijau pekat
 
 


d.      Batang bunga
VIII.    Pembahasan              :
                        Air masuk ke dalam tumbuhan melalui akar. Xylem di tengah akar bersambung dengan xylem pada batang; dan berhubungan erat pula dengan floem. Sel diantara xylem dan floem membentuk cambium pembuluh yang membuat xylem di sebelah dalam dan floem di sebelah luar. (Frank & Cleon, 1995). Dibuktikan pada gambar (a) bahwa garis orange tersebut adalah bgian xylem yang menyerap air yang telah diberi pewarna berwarna orange.

IX.     Jawaban Pertanyaan :
                       Pertanyaan:
1.         Apa yang dimaksud dengan simplas dan apoplas?
2.         Factor-faktor apakah yang menyebabkan air dapat diangkut oleh tumbuhan!
3.         Sebutkan beberapa prinsip penyerapan zat terlarut!
4.         Jelaskan fungsi dari xylem!
5.         Jelaskan mekanisme pengangkutan air dan garam mineral oleh akar sampai ke daun?
                       Jawaban:
1.         Simplas dan apoplas adalah dua mekanisme pengangkutan air dan mineral dari dalam tanah di luar berkas pembuluh.
2.         Adanya xylem, adanya tekanan akar, adanya proses imbibisi, difusi, osmosis, dan transpor aktif
3.       - Air masuk ke dalam tumbuhan melalui akar. Xylem di tengah akar bersambung dengan xylem pada batang; dan berhubungan erat pula dengan floem. Sel diantara xylem dan floem membentuk cambium pembuluh yang membuat xylem di sebelah dalam dan floem di sebelah luar.Terendah: pada aquadest pada suhu kamar.
-Mekanisme proses penyerapan dapat berlangsung karena adanya proses imbibisi, difusi, osmosis, dan transfor aktif.
4.         Mengangkut air dan garam-garam mineral dari dalam tanah melalui akar ke daun untuk digunakan dalam proses fotosintesis
5.         Air masuk ke dalam tumbuhan melalui akar. Xylem di tengah akar bersambung dengan xylem pada batang; dan berhubungan erat pula dengan floem. Sel diantara xylem dan floem membentuk cambium pembuluh yang membuat xylem di sebelah dalam dan floem di sebelah luar, air dan zat terlarut yang diserap dari akar diangkut menuju daun.




X.       Kesimpulan                 :
            Xylem merupakan alat transportasi pada tumbuhan yang bertugas menyerap air dari akar ke daun.
XI.       Daftar Pustaka          :
                        http://tedbio.multiply.com/journal/item/20/11/2009
                        Salisbury F. B & Ross C. W. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid I. Bandung: ITB
H, Martin. 1983. Mekanisme Kohesi Air. Harvard Forest. Massachusetts.
                       















I.          Judul                         : GERAK PADA TUMBUHAN
II.        Tanggal                      : 21 November 2009
III.       Tujuan                       : Mengamati pergerakan tumbuhan terhadap ransangan
IV.       Pendahuluan                         :
                        Gerak pada tumbuhan terjadi karena tekanan turgor, tumbuh atau pindah tempat yang disebabkan karena adanya ransangan.
            Menurut penyebabnya gerak pada tumbuhan dibedakan menjadi:
1.      Gerak Higroskopis; adalah gerak yang disebabkan oleh pengaruh pertumbuhan kadar air.
2.       Gerak Ethionom; adalah gerak yang disebabkan oleh ransangan dari luar. Berdasarkan sifatnya gerak ethionom dibedakan menjadi:
    1. Tropisme; gerak bagian tubuh tumbuhan kea rah ransang (tropi positif) dan menjauhi ransang (tropi negative), meliputi:
-          Fototropi (heliotrope); gerak batang ke arah cahaya.
-          Geotropi; gerak tumbuh akar ke pusat bumi.
-          Hidrotropi; gerak tubuh tumbuhan kea rah air.
-   Tigmotropi (haptotropi); gerak membelok bagian tanaman akibat persinggungan
-          Kemotropi; gerak karena ransang kimia
    1. Taksis (gerak pindah tempat); gerak pindah oleh tumbuhan (bersel satu) atau bagian tumbuhan menuju atau menjauhi arah datangnya ransang, meliputi:
-          Fotoaksis; ransangan cahaya.
    1. Nasti; gerak bagian tubuh tumbuhan sebagai tanggapan terhadap ransangan yang datangnya dari luar. Gerak nasty yang disebabkan oleh perubahan tekanan turgor pada jaringan tertentu, meliputi:
-          Seismonasti; gerak akibat persinggungan.
-          Niktinasti; gerak tidur sebagai ransangannya gelap.
-          Fotonasti; ransangannya adalah cahaya
-          Thermonasti
-          Nasty kompleks
Adapun gerak endonom ataupun autonom (spontan), gerak ini merupakan gerak tumbuhan yang tidak disebabkan ransangannya dari luar. Diduga gerak yang terjadi disebabkan oleh ransangan yang berasal dari dalam tumbuhan itu sendiri. (http://tedbio.multiply.com/journal/item/20/11/09)
            Jenis gerak tercakup dalam dua kategori alami, yaitu tropisme dan gerak nastik. Gerak nastik dan tropistik sering merupakan hasil pertumbuhan yang tidak seimbang, tapi dapat pula disebabkan oleh pengambilan air yang tak imbang dan tak terbalikan ke dalam sel tertentu yang disebut sel motor, yang secara brsama membentuk poluinus.
Ransangan selalu bekerja pada system mesin yang menjadi bagian yang menerima ransangan dinamakan reseptor. Setelah ransangan diterima, ia diubah (ditransduksi) menjadi bentuk lain, yang sering dikenal sebagai isyarat, yang kemudian diteruskan menjadi suatu respons motor (pertumbuhan atau kerja pulvinus): itulah yang menyebabkan gerak tumbuhan.
Pada gerak nastik, pembengkokan organ ke atas disebut hiponasti; pembengkokan ke bawah disebut epinasti. Sering gerak dedaunan ini disebabkan adanya pulvinus di pangkal tangkai daun, helai daun.
Gerak niktinstik yang khas merupakan proses berirama yang dikendalikan oleh interaksi antara lingkungan dan waktu biologis.
Hidronasti (higronasti) mencakup gerak pelipatan atau penggulungan daun, namun penggulungan daun terjadi akibat responnya terhadap keadaan rawan air, dan bukan terhadap cahaya.
Proses tersebut dapat mengurangi terpaan udara kering pada permukaan daun, dan dengan penutupan stomata transpirasi berkurang. Gerakan pelipatan dan penggulungan daun terjadi akibat hilangnya turgor dalam sel motor yang berdinding tipis yang disebut sel membisul (buliform). Ketika tekanan turgor menurun, turgiditas sel yang tetap di sisi bawah daun mengakibatkan daun terlipat. Ini hanyalah salah satu mekanisme tumbuhan untuk bertahan terhadap kekeringan.
Gerak nastik akibat sentuhan adalah tigmonasti. Contoh yaitu pada putri malu. Kegunaan respon ini (mengatup) diduga bahwa pelipatan anak daun akan mengagetkan dan mengusir serangga sebelum mereka sempat memakan daunnya. (Frank & Cleon, 1995)
            Fotonasti adalah gerak nastik yang disebabkan oleh ransang matahari. Contohnya pada bunga pukul empat. Termonasti adalah gerak nasty yang disebbkan oleh ransangan suhu. Seperti yang terjadi pada bunga tulip, terbukanya atau mekarnya bunga tulip terjadi pada hari-hari hangat yaitu pada musim semi.
Gerak taksis yaitu gerak perpindahan tempat sebagian atau seluruh tumbuhan akibat adanya ransangan. Gerak taksisnya umumnya terjadi pada tumbuhan tingkat rendah.
Fotoaksis adalah gerak taksis yang disebabkan oleh adanya ransanga cahaya. Kemotaksis adalah gerak yang disebabkan oleh zat kimia. Contohnya pada sel gamet tumbuhan lumut. Spermatozoid pada arkegonium juga bergerak karena tertarik oleh sukrosa atau asam malat. Pergerakan ini terjadi karena adanya zat kimia pada sel gamet betina. (Prawiranata, 1991)                      
V.        Alat dan Bahan         :
NO
ALAT
1
Dus kecil
2
Kapas
3
Pot kecil
4
Alumunium foil

NO
BAHAN
1
Pasir halus
2
Biji kacang merah
3
Putrid malu

VI.       Cara Kerja                 :
a.      
Sentuh tanaman putri malu


     0,22 M     0,20 M     0,18 M     0,16 M     0,14 M     0,12 M     0,10 M         


     
 
Putri malu
           
                                               
Catat waktu tanaman kembali normal


     0,22 M     0,20 M     0,18 M     0,16 M     0,14 M     0,12 M     0,10 M         


     
 
   



b.     
Lubangi dus


                
Dus 1                                                   dus 2
 
Kacang merah
                                                                 












 

















Simpan pot masing-masing di dalam dus yang dilubangi
 






Simpan dus ditempat berintensitas cahaya matahari sama
 






Amati selama + 14 hari
 


Uji bekas larutan dengan menggunakan Kristal metilen, amati perubahannya, pada tabung reaksi mana larutan tidk mengalami perubahan
 
 











                                                                                                                                       
VII.     Hasil Pengamatan     :
a.         Putri malu
                        Waktu menutup setelah disentuh : 6 detik
                        Waktu menutup sampai membuka: 7 menit, 33 detik

b.      Kacahg merah
Hari  
Tinggi (cm)
1 
0 (benih)
2
Tumbuh kecambah
3
1
4
2
5
3
6
4,5
7
6
8
7
                        Tinggi yang diukur adalah pada dus dengan lubang dus di pinggir
                        Gambar:
a.       Putri malu






 






b.      Kacang merah




                       
                                               
                                                                             
VIII.    Pembahasan              :
    Putri malu memperlihatkan dua macam gerak nasti. Salah satunya disebut haptonasti, merupakan reaksi terhadap sentuhan. Yang satunya disebut fotonasti, reaksi terhadap cahaya. Kedua reaksi itu terjadi pembengkakan yang disebut bantal daun, pada pangkal tangkai dan pada titik lekat daun-daun kecilnya. Pada sentuhan paling ringanpun, pembengkakan itu mengosongkan air simpanannya sehingga daun atau tangkai terkulai. Ketika putri malu terganggu, sel-sel motor yang berisi cairan di bantal daun membocorkan air kedalam ruang antar sel. Hilangnya tekanan air menyebabkan daun kecil menguncup dan terkulai layu. Semua ini hanya terjadi beberapa detik saja. Namun, pulihnya tumbuhan itu ke keadaan aslinya dapat memakan waktu lama. Tumbuhan putri malu begitu peka sehingga pernah dianggap mempunyai susunan syaraf mirip binatang.
Pada pertumbuhan kacang merah dalam dus, terbukti bahwa pergerakan tumbuhan dipengaruhi oleh cahaya, tanaman pada dus dengan lubang dipinggir tumbuh membelok mengikuti lubang berada, yang mana lubang ini adalah tempat masuknya cahaya.
IX.     Jawaban Pertanyaan :
                       Pertanyaan:
1.    Jelaskan gerak menutup pada dun putri malu ketika terkena sentuhan?
2.    Jelaskan mengapa arah pertumbuhan kacang merah menuju datangnya cahaya?
3.    Mengapa batang akan membengkok bila terkena cahaya matahari?
4.    Sebutkan macam-macam gerak pada tumbuhan?
5.    Bagaimana hasil pertumbuhan kacang merah pada kedua dus tersebut? jelaskan!
Jawaban:
1.      Putri malu mengatup ketika disentuh yaitu kegunaan respon ini (mengatup) diduga bahwa pelipatan anak daun akan mengagetkan dan mengusir serangga sebelum mereka sempat memakan daunnya
2.      Karena tanaman butuh berfotosintesis, serta butuh cahaya untuk proses pertambahan tinggi dan pembungaan
3.      Karena ada hormone auksin pada batang yang sangat peka terhadap cahaya, pada daerah gelap konsentrasi auksin lebih tinggi sehingga sel akan memanjang lebih cepat dibandingkan kecepatan pemanjangan sel di daerah yang lebih terang, sehingga terjadi ketidak seimbangan di kedua sisi batang yang menyebabkan batang menjadi bengkok
4.       Gerak Higroskopis, Gerak Ethionom, Gerak Endonom ataupun Autonom (spontan)
5.      Pada dus dengan lubang diatas tanaman kacang tumbuh lurus mengikuti lubang begitu juga dengan dus dengan lubang di pinggir, tanaman tumbuh membelok ke arah lubang yang merupakan arah datangnya cahaya
X.       Kesimpulan                 :
Putri malu peka terhadap stimulus berupa sentuhan. Setiap bagian tanamannya memiliki kesetimbangan air yang berbeda, sehingga waktu yang dibutuhkan tiap bagian untuk kembali seperti semula berbeda-beda.
Pertumbuhan kacang merah mengikuti arah cahaya matahari, yaitu sebagai salah satu arah gerak tumbuh tumbuhan
XI.       Daftar Pustaka                      :
                        Salisbury F. B & Ross C. W. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid III. Bandung: ITB
                        Prawiranata, W. dkk. 1991. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan Jilid 3. Bogor: Departemen Botani Fakultas Pertanian IPB.
                        http://tedbio.multiply.com/journal/item/20/11/109



I.          Judul                         : TRANSPIRASI PADA TUMBUHAN
II.        Tanggal                      : 5 Desember 2009
III.       Tujuan                       : Membuktikan bahwa penguapan air dari daun dipegaruhi oleh luas permukaan daun
IV.       Pendahuluan                         :
                        Transpirasi dapat diartikan sebagai proses kehilangan air dalam bentuk uap dari jaringan tumbuhan melalui stomata. (Lakitan, 1993)
                        Kemungkinan kehilangan air dari jaringan lain dapat saja terjadi, tetapi porsi kehilangan tersebut sangat kecil dibandingkan dengan yang hilang melalui stomata. Oleh sebab itu, dalam perhitungan besarnya jumlah air yang hilang dari jaringan tanaman umumnya difokuskan pada air yang hilang melalui stomata. (Loveless, 1991)
                        Transpirasi mempunyai arti penting bagi tanaman. Transpirasi pada dasarnya suatu penguapan air yang membawa garam-garam mineral dari dalam tanah. Transpirasi juga bermanfaat di dalam hubungan penggunaan sinar matahari, kenaikan temperature yang diterima tanaman digunakan untuk penguapan air. (Dwidjoseputro, 1989)
                        Transpirasi dibedakan menjadi tiga macam berdasarkan tempatnya, yaitu transpirasi kutikula, transpirasi lentikuler, transpirasi stomata. Hamper 97% air dari tanaman hilang melalui transpirasi stomata. (Heddy, 1990)
                        Proses transpirasi pada dasarnya sama dengan proses fisika yang terlibat dalam penguapan air dari permukaan bebas. Dinding mesofil basah yang dibatasi dengan ruang antar sel daun merupakan permukaan penguapan. Konsentrasi uap air dalam ruang antar sel biasanya lebih besar dari pada udara luar. Manakala stomata terbuka, lebih banyak molekul air yang akan keluar dari daun melalui stomata dibandingkan dengan jumlah yang masuk per satuan waktu, dengan jumlah yang masuk per satuan waktu, dengan demikian tumbuhan tersebut akan kehiangan air.
            Kegiatan transpirasi dipengaruhi banyak factor, baik factor dalam maupun factor luar.
            Factor dalam, antara lain:
-                                                                                  Besar kecilnya daun
-                                                                                  Tebal tipisnya daun
-                                                                                  Berlapis lilin atau tidaknya permukaan daun
-                                                                                  Banyak sedikitnya bulu pada permukaan daun
-                                                                                  Banyak sedikitnya stomata
-                                                                                  Bentuk dan letak stomata (Salisbury & Ross, 1992)
Factor luar, antara lain:
a.                   Kelembaban
            Bila daun mempunyai kandungan air yang cukup dan stomata terbuka, maka laju transpirasi bergantung pada selisih antara konsentrasi molekul uap air di dalam rongga antar sel di daun dengan kensentrasi molekul uap air di udara.
b.                  Suhu
Kenaikan suhu dari 18oF sampai 20oF cenderung untuk meningkatkan penguapan air sebesar dua kali. Dalam hal ini akan sangat mempengaruhi tekanan turgor daun dan secara otomatis mempengaruhi pembukaan stomata.
c.                   Cahaya
Cahaya mempengaruhi laju transpirasi melalui dua cara:
1.                   Cahaya akan mempengaruhi suhu daun sehingga dapat mempengaruhi aktifitas transpirasi.
2.                   Cahaya dapat mempengaruhi transpirasi melalui pengaruhnya terhadap buka-tutupnya stomata.
d.                         Angin
Angin mempunyai pengaruh ganda yang cenderung saling bertentangan terhadap laju transpirasi. Angin menyapu uap air hasil transpirasi, sehingga angin menurunkan kelembaban udara di atas stomata, sehingga meningkatkan kehilangan netto air. Namun jika ingin menyapu daun, maka akan mempengaruhi suhu daun. Suhu daun akan menurun dan hal ini dapat menurunkan tingkat transpirasi.
e.                               Kandungan Air Tanah
Laju transpirasi dapat dipengaruhi oleh kandungan air tanah dan laju absorbs air di akar. Pada siang hari biasanya air ditranspirasikan lebih cepat dari pada penyerapan dari tanah. Hal tersebut menyebabkan devisit air dalam daun sehingga terjadi penyerapan yang besar, pada mala hari terjadi sebaliknya. Jika kandungan ai tanah menurun sebagai akibat penyerapan oleh akar, gerakan air melalui tanah ke dalam akar menjadi lambat. Hal ini cenderung untuk meningkatkan devisit air pada daun dan menurunkan laju transpirasi lebih lanjut. (Lovelelles, 1991)
Unsur kalium sangat memegang peranan dalam proses membuka dan menutupnya stomata (stomata movement) serta transportasi lain dalam hara lainnya, baik dari jaringan batang maupun langsung dari udara bebas. Dengan adanya defisiensi kalium, maka secara langsung akan memperlambat proses fisiologis, baik yang melibatkan klorofil dalam jaringan daun maupun yang berhubungan dengan fungsi stomata sebagai factor yang sangat pentng dalam produksi bahan kering secara umum. Semakin lama deisiensi kalium maka akan semakin berdampak semakin parah terhadap rusaknya pertumbuhan daun. (Masdar, 2003)
Transpirasi yang terjadi dapat merugikan, namun juga bermanfaat bagi tanaman, antara lain:
1.    Meningkatkan daya isap daun pada penyerapan air
2.    Mengurangi jumlah air dalam tumbuhan, jika terjadi penyerapan yang berlebihan (http://bima.ipb.ac.id/materi/transpirasitumb./4/12/09)                            
V.        Alat dan Bahan         :
NO
ALAT
1
Fotometer
2
Pisau/ silet tajam
3
Bak air
4
Hygrometer

NO
BAHAN
1
Vaseline
2
Cabang satu jenis tumbuhan dengan dasarnya

Sediakan fotometer, pasangkan pipa karet pada biuret, masukan segera ke dalam bak air


 
VI.       Cara Kerja                 :
                                               
   





















Potong beberapa cabang tumbukan, masukan segera ke dalam bak air

 






Pilih cabang yang sesuai dengan pipa karet, potong dalam air

 






Pasang fotometer pada statif fotometer, tutuplah mulut biuret dengan sumbat gabus yang sesuai

 






Letakkan fotometer ditempat yang terkena cahaya matahari

 





Amati permukaan air pada biuret selama 5 menit, sebanyak 4 kali

 






 



























Catat suhu dan kelembabannya dengan menggunakan higrometer
 





Lepaskan cabang tumbuhan dari pipa karet, petik semua daun dari tangkai daun
 
 




           









Buat keratin daun (2x2) cm2, timbang beratnya
 





Timbang seluruh daun
 
 









VII.     Hasil Pengamatan     :
a.       Di tempat terkena cahaya matahari (terang)
No
Waktu
(menit)
Perpindahan
Batas air (strip)
Besarnya penguapan (ml)
Suhu
(oC)
Kelembaban
(%)
Ket
1
5
24
0,24
29
80

2
10
34
0,34
33
79

3
15
44
0,44
39
77

4
20
54
0,54
37
77

5
25
64
0,64
38
77

6
30
72
0,72
41
75


b.      Di tempat teduh
No
Waktu
(menit)
Perpindahan
Batas air (strip)
Besarnya penguapan (ml)
Suhu
(oC)
Kelembaban
(%)
Ket
1
5
3
0,03
28
80

2
10
9
0,09
27,5
80

3
15
13
0,13
26
78

4
20
18
0,18
26
78

5
25
23
0,23
26
78

6
30
28
0,28
26
78

            Ket: 1 strip = 0,01 ml


VIII.    Pembahasan              :
           Dari hasil pengamatan di atas diketahui jika proses transpirasi di tempat terang lajunya lebih cepat dibandingkan ditempat teduh, yang membuktikan adanya pengaruh suhu dalam pengaruhnya terhadap kecepatan transpirasi, untuk pengaruh kelembaban terdapat kesalahan dalam penggunaan hygrometer sehingga persentase yang terdapat dihasil pengamatan adalah hasil kealahan penggunaan, jadi pengaruhnya yang bisa diketahui adalah kelembaban yang semakin rendah adalah kelembaban yang terdapat pada suhu yang tinggi. Jadi kelembaban tinggi maka laju transpirasi lambat dan sebaliknya akan cepat jika kelembabannya rendah.

IX.     Jawaban Pertanyaan :
                       Pertanyaan:
1.      Bagaimana pengaruh suhu dan kelembaban dalam proses transpirasi?
2.      Bandingkan peristiwa gutasi dan transpirasi?
3.      Sebutkan factor-factor yang mempengaruhi laju transpirasi!
4.      Bagaimana transpirasi ditempat teduh dan tempat terang!
5.      Sebutkan kegunaan Fotometer dan bagaimana cara kerjanya?
                       Jawaban:
1.      Suhu akan sangat mempengaruhi tekanan turgor daun dan secara otomatis mempengaruhi pembukaan stomata sedangkan kelembaban yaitu bila daun mempunyai kandungan air yang cukup dan stomata terbuka, maka laju transpirasi bergantung pada selisih antara konsentrasi molekul uap air di dalam rongga antar sel di daun dengan kensentrasi molekul uap air di udara
2.      Gutasi peristiwa keluarnya air dari pori-pori daun dalam bentuk cair melalui lubang-lubang pengeluaran yang terdapat pada tepi daun sedangkan transpirasi ialah proses kehilangan air dalam bentuk uap dari jaringan tumbuhan melalui stomata
3.      Factor dalam, antara lain: Besar kecilnya daun, Tebal tipisnya daun, Berlapis lilin atau tidaknya permukaan daun, Banyak sedikitnya bulu pada permukaan daun, Banyak sedikitnya stomata, Bentuk dan letak stomata.
Factor luar: Kelembaban, Suhu, Cahaya, Angin, Kandungan Air Tanah
4.      Tempat teduh: laju transpirasinya lebih lambat
Tempat terang: laju transpirasinya lebih cepat
5.      fotometer bekerja sebagai pengukur laju transpirasi pada tumbuhan

X.       Kesimpulan                 :
              Proses transpirasi dipengaruhi oleh suhu dan kelembaban yang berpengaruh dalam membukanya stomata.

XI.       Daftar Pustaka          :
                        http://bima.ipb.ac.id/materi/transpirasitumb./4/12/09
                        Salisbury F. B & Ross C. W. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid I. Bandung: ITB
Heddy, S. 1990. Biologi Pertaman . Jakarta: Rajawali Press.
Dwidjoseputro. 1989. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: PT. Gramedia.  
                       






I.         Judul                           : PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN   PADA      TUMBUHAN
II.        Tanggal                      : 19 Oktober 2009
III.       Tujuan                       : mengukur hasil pertumbuhan pada tumbuhan
IV.       Pendahuluan                         :
Pertumbuhan suatu jaringan pasti diawali dengan pertumbuhan sel yang merupakan suatu siklus. Hal ini adalah hal yang patut untuk diketahui karena tanaman sudah sering digunakan pada berbagai aplikasi teknologi, seperti kultur jaringan.
Pada siklus sel terdapat dua fase besar, yaitu Interfase merupakan fase istirahat atau sel tidak melakukan pembelahan tetapi masih terdapat aktifitas di dalam sel dan Mitosis merupakan sel melakukan pembelahan. Interfase terdiri dari beberapa fase, yaitu:
·         Fase G1, sel berkembang menjasi sel yang matang
·         Fase S, terjadi sintesis atau replikasi DNA
·           Fase G2, penentuan kapan sel mulai membelah karena perangkat sudah siap
Pada akhir Interfase, nukleus yang telah dibungkus oleh selubung nukleus sudah jelas terbentuk. Setelah itu pembelahan sel akan memasuki fase Mitosis.
Beberapa fase yang terdapat pada Mitosis:
Profase; Terjadi pergerakan sentriol ke kutub yang berlawanan dengan dihubungkan oleh benang gelendong.
Prometafase; Selubung nukleus mulai menghilang dan kromosom sudah mulai terlihat.
Metafase; Kromosom menempatkan diri pada bidang ekuator.
Anafase; Sentromer dan kromatid sudah membelah, masing-masing menuju kutub yang berlawanan
Telofase; Membran inti terbentuk di sekitar masing-masing kromosom.
Sitokinesis; dinding sel yang baru akan terbentuk diantara dua sel yang baru.
Jaringan tumbuhan awalnya diawalin dari biji yang terdiri dari embrio dorman, cadangan makanan, dan pelindungnya. Pada saat akan tumbuh, kadar air pada biji akan berkurang secara drastis. Embrio merupakan hasil fertilisasi yang terjadi di dalam ovule dan akan berkembang membentuk tunas meristem apikal dan akar meristem apikal. Embrio ini akan terus berkembang dengan menggunakan nutrien yang terdapat di dalam endosperma melalui suspensor.
Jaringan pembentuk tumbuhan terdiri dari 3 jenis, yaitu:
·         Jaringan dermal
Salah satu jaringan dermal adalah Epidermis yang merupakan lapisan pelindung luar utama yang menyelimuti tubuh tumbuhan (seluruh daun, batang, dan akar). Sel-sel epidermis mempunyai dinding sel primer yang tebal, dan bagian luarnya dilapisi oleh lapisan lilin. Sel ini juga akan mengalami modifikasi dan membentuk stomata serta berbagai macam rambut.
Stomata adalah bukaan pada epidermis yang sebagian besar terdapat pada bawah daun dan meregulasi pertukaran gas. Stomata dibentk oleh dua sel epidermis yang terspesialisasi yang disebut sel penjaga yang meregulasi besarnya diameter stomata. Stomata juga terdistribusi secara spesisfik berdasarkan spesies.
Rambut atau trikoma merupakan turunan dari sel epidermis dan mempunyai banyak bentuk dan umumnya ditemui pada semua bagian tumbuhan serta berfungsi untuk adsorpsi dan sekresi.
·         Jaringan pembuluh
Jaringan pembuluh merupakan kompleks xylem-floem. Umumnya akar hanya mempunyai xylem, sedangkan batang mempunyai keduanya (xylem dan floem).

Xylem disusun oleh sel dewasa yang telah mati dan kehilangan plasma membrannya serta dinding selnya mengalami penebalan sekunder dan dilapisi lilin. ujung dari dinding sel ini telah terperforasi sempurna membentuk saluran yang sangat panjang. Saluran ini mempunyai hubungan yang erat dengan parenkim xylem yang secara aktif mentransport cairan keluar-masuk xylem. Fungsi dari xylem adalah membawa air dan ion terlarut pada tumbuhan.

Floem disusun oleh sel hidup dewasa yang terinterkoneksi oleh perforasi pada ujung dinding selnya yang terbentuk dari plasmodesmata yang membesar dan termodifikasi. Sel ini tersusun membentuk tabung yang disebut pembuluh ayak. Sel-sel ini tetap mempunyai membran plasma, tetapi sudah kehilangan nukleus dan banyak sitoplasma, sehingga mereka bergantung pada sel pendamping untuk metabolismenya. Sel pendamping mempunyai fungsi tambahan sebagai pengangkut molekul makanan terlarut keluar dan ke dalam pembuluh melalui dinding pembuluh yang berpori

·         Jaringan dasar
Terdiri dari 3 sel utama, yaitu parenkim, kolenkim, dan sklerenkim.
·         Sel parenkim ditemukan pada seluruh sistem jaringan tumbuhan. Sel ini adalah sel hidup yang dapat membelah lebih lanjut dengan dinding sel primer yang tipis. Fungsi dari sel ini adalah sel meristem apikal dan lateral pada tunas dan akar akan menyediakan sel baru untuk pertumbuhan; produksi dan penyimpanan makanan terjadi pada sel fotosintetik pada batang dan daun (sel mesofil), sel parenkim penyimpan merupakan komponen utama pembentuk buah dan sayuran; karena kemampuan membelahnya, sel parenkim juga berperan sebagai stem sel untuk memulihkan luka dan regenerasi.
·         Sel kolenkim merupakan sel hidup yang mirip dengan sel parenkim, tetapi mempunyai dinding sel yang jauh lebih tebal dan biasanya ditemukan pada seluruh sistem jaringan tumbuhan. Sel kolenkim mempunyai kemampuan untuk memanjang dan memberikan dukungan mekanis sebagai jaringan dasar pada daerah tumbuhan yang sedang memanjang. Sel kolenkim umum ditemukan pada daerah subepidermal batang.
·         Seperti kolenkim, sel sklerenkim mempunyai fungsi sebagai penguat dan pendukung tumbuhan. Sel skelerenkim merupakan sel mati dengan dinding sel sekunder tebal dari lignin yang mencegahnya untuk memanjang seiring pertumbuhan tumbuhan. Dua macam sklerenkim yang umum ditemukan adalah fiber, yang sering membentuk bundel panjang, dan sklereid yang merupakan sel pendek bercabang yang umum ditemukan pada kulit biji dan buah.
Sel lain yang juga terdapat pada jaringan tumbuhan adalah sel meristem dan sel kalus. Sel meristem adalah sel yang membentuk seluruh jaringan tanaman secara berurutan. Sel meristem apikal merupakan meristem utama yang membentuk bagian-bagian tumbuhan. Sedangkan sel kalus adalah sel yang tumbuh menutupi luka tanaman. Sel ini diproduksi dalam jumlah banyak yang belum terdiferensiasi. Saat lapisan dari jaringan tumbuhan di kultur dalam medium steril yang mengandung nutrisi dan regulator pertumbuhan yang tepat, banyak sel yang akan terstimulasi menjadi proliferasi dengan cara yang tidak tentu dan tidak teratur. Dalam beberapa tanaman (tembakau, petunia, wortel, kentang dan Arabidopsis) sel tunggal dari kultur suspensi dapat tumbuh dalam rumpun kecil yang mana tumbuhan tersebut dapat teregenerasi.
Semua sel akan mengalami penuaan dan kematian. Hal ini sudah diatur oleh Programmed Cell Death menjadi dua tipe, yaitu apoptosis dan autofagi. Dalam apoptosis, mitokondria juga berperan. Jalur nekrosis yang melibatkan mitokondria diawali oleh signal yang ditangkap akan mengakibatkan mitokondria melepaskan sitokrom c, Apoptosis Inducing Factor (AIF), dan endonuklease G. Sitokrom c akan berikatan dengan Apoptotic Protease Activating Factor 1 (APAF1) sehingga akan mengubah procaspase 9 menjadi caspase. Caspase inilah yang akan melakukan aopotosis.
                                    Banyak faktor alasan atau penyebab yang mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan tumbuh-tumbuhan, tanaman, pohon, dll. Apabila faktor tersebut kebutuhannya tidak terpenuhi maka tanaman tersebut bisa mengalami dormansi / dorman yaitu berhenti melakukan aktifitas hidup. Faktor pengaruh tersebut yakni :
1.                  Faktor Suhu / Temperatur Lingkungan
Tinggi rendah suhu menjadi salah satu faktor yang menentukan tumbuh kembang, reproduksi dan juga kelangsungan hidup dari tanaman. Suhu yang baik bagi tumbuhan adalah antara 22 derajat celcius sampai dengan 37 derajad selsius. Temperatur yang lebih atau kurang dari batas normal tersebut dapat mengakibatkan pertumbuhan yang lambat atau berhenti
2.                                                                                                      Faktor Kelembaban / Kelembapan Udara
Kadar air dalam udara dapat mempengaruhi pertumbuhan serta perkembangan tumbuhan. Tempat yang lembab menguntungkan bagi tumbuhan di mana tumbuhan dapat mendapatkan air lebih mudah serta berkurangnya penguapan yang akan berdampak pada pembentukan sel yang lebih cepat.
3.                                                                                                      Faktor Cahaya Matahari
Sinar matahari sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk dapat melakukan fotosintesis (khususnya tumbuhan hijau). Jika suatu tanaman kekurangan cahaya matahari, maka tanaman itu bisa tampak pucat dan warna tanaman itu kekuning-kuningan (etiolasi). Pada kecambah, justru sinar mentari dapat menghambat proses pertumbuhan.
4.                  Faktor Hormon
Hormon pada tumbuhan juga memegang peranan penting dalam proses perkembangan dan pertumbuhan seperti hormon auksin untuk membantu perpanjangan sel, hormon giberelin untuk pemanjangan dan pembelahan sel, hormon sitokinin untuk menggiatkan pembelahan sel dan hormon etilen untuk mempercepat buah menjadi matang. (http://organisasi.org/faktor-yang-mempengaruhi-perkembangan-dan-pertumbuhan-tumbuhan-tanaman-teori-biologi)
                  


V.        Alat dan Bahan         :
NO
ALAT
1
Auksonometer
2
Pot dan polly back
3
Benang kasur
4
Pemberat/ bandul

NO
BAHAN
1
Tanah
2
Air
3
Tanaman

Tanam dan pelihara tanaman dalam polly back yang diisi tanah


 
VI.       Cara Kerja                 :
                                               
   








Setelah akar kuat tanaman dipindahkan ke pot yang berisi tanah

 






 















Pasang auksonometer pada tanaman, ikat tali dari bagian pedati jarum auksonometer dengan ujung tanaman/ pucuk tanaman dan yang satu lagi denga bandul/ pemberat

 






Usahakan jika benang tertarik ke bandul, jarum petunjuk ikut bergerak selaras dan serah

 



 











VII.     Hasil Pengamatan     :
                        Pertambahan tinggi tanaman cabe rawit:
No
Minggu
Tinggi
(cm)
1
1
1,9
2
2
3,5
3
3
19 cm

           


                        Pengukuran dengan auksonometer:
No
Hari
Pergerakan auksonometer
1
1
4 mm
2
2
7 mm
3
3
1,1 cm
4
4
1,5 cm
5
5
1,9 cm

VIII.    Pembahasan              :
           Auksonometer merupakan alat untuk mengukur kecepatan pertumbuhan tumbuhan. Pertumbuhan adalah proses pertambahan volum yang irreversible (tidak dapat dibalik) karena adanya pembelahan mitosis atau pembesaran sel. Pertumbuhan dapat diukur dan dinyatakan dengan satuan.

IX.     Jawaban Pertanyaan :
                       Pertanyaan:
1.      Jelaskan habitat, klasifikasi, morfologi, anatomi dari tanaman yang anda gunakana dalam percobaaan pertumbuhan dan perkembangan?
2.      Bagaimana hasil pertambahan panjang tanaman dalam setiap pot berbeda (bandingkan dengan pot kelompok lain)!
3.      Dapatkah saudara tentukan kecepatan bertambah panjangnya tanaman dalam tiap-tiap menit!
4.      Apakah sama kecepatannya pada setiap tanaman (bandingkan dengan kelompok lain)!

                       Jawaban:
1.    Cabe Rawit:
habitat             :           darat  
            Klasifikasi       :               Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
                                    Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
                                    Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
                                    Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
                                    Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
                                    Sub Kelas: Asteridae
                                    Ordo: Solanales
                                    Famili: Solanaceae (suku terung-terungan)
                                    Genus: Capsicum
                                    Spesies: Capsicum frutescens L.
2.    Dibandingkan kelompok lain kelompok kami memiliki tinggi tanaman yang lebih pendek dikarenakan tanaman kami ditanam dengan waktu yang lebih sebentar
3.    Tidak, karena kelompok kami mengamatinya per hari bukan per menit
4.    Setiap tanaman memiliki kecepatan tumbuh yang berbeda

X.       Kesimpulan                 :
             Kecepatan pertumbuhan tanaman cabe yang diamati selama lima hari yaitu 1,9 cm.           
XI.    Daftar Pustaka            :



Tidak ada komentar:

Posting Komentar