Minggu, 06 Januari 2013

LAPORAN PRAKTIKUM Ciganitri


LAPORAN PRAKTIKUM

UPTD BALAI PENGAWASAN DAN SERTIFIKASI BENIH TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA
Jl. Ciganitri II Bojongsoang, Bandung 40288














Disusun oleh:
MEILYA NUROKHMAH         208700989



AGROTECHNOLOGY SEMESTER IV


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2010
I. Judul                                    : UPTD BALAIN PENGAWASAN DAN SERTIFIKASI  BENIH TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA (BPSBTPH)
II.        Tanggal                      : 24 Mei 2010
III.       Tujuan                       : Wawasan ilmu Teknologi Benih, Sertifikasi Benih dan khususnya penggunaan alat-alat laboratorium Teknologi Benih
IV.       Pendahuluan                         :
                        Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura provinsi Jawa Barat berdiri sekitar tahun 1980, jika dihitung usianya sekitar 30 tahun. Instalasi dari balai ini terdapat di Majalengka, Cianjur, Karawang, Garut, dan Subang. Balai ini bertugas melaksanakan penilaian kultivar dan klon, penilaian dan penentapan induk tanaman hortikultura tahunan, sertifikasi benih, analisis mutu benih dan pengawasan mutu benih.
V.        Pembahasan              :
a.    Proses Sertifikasi Benih Padi
1.      Penangkaran benih padi
Penangkaran benih padi yang dilakukan oleh:
v Perorangan
v Badan hukum atau badan usaha milik pemerintah
v Balai benih
v Swasta
v Pihak lain
2.      Permohonan untuk sertifikasi benih padi
Penangkar benih mengajukan permohonan sertifikasi benih paling lambat 10 hari sebelum sebar kepada UPTD Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat dengan mengisi formulir yang tekah disediakan  serta melampirkan bukti-bukti label benih sumber, peta lokasi serta berkas-berkas lainnya yang dibutuhkan.
3.      Syarat-syarat penangkar benih padi
-          penangkar memiliki:
v  lahan sendiri atau menguasai lahan tersebut yang mana lahan tersebut akan digunakan untuk memproduksi benih padi yang bermutu.
v  pengetahuan serta keterampilan dalam memproduksi benih padi yang bermutu. Selain itu, petani juga harus mampu memelihara tanaman yang diusahakannya.
v  menguasai fasilitas pengolahan dan penyimpanan benih, baik alat itu milik sendiri ataupun merupakan pinjaman atau kontrakdengan pihak yang lain.
-          Wajib mengikuti petunjuk-petunjuk dan peraturan-perturan yang diberikan oleh UPTD BPSBTPH Provinsi Jawa Barat.
-          Bersedia membayar biaya sertifikasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku (membayar administrasi dan akomodasi yang duperlukan oleh penangkar itu sendiri).
4.      Prosedur sertifikasi benih padi
-          Persyaratan areal lahan
v  Diusahakan lahan yang digunakan merupakan lahan bekas tanaman lain atau tanah bera.
v  Lahan diusahakan bekas varietas yang sama atau bekas varoetas lainnya yang mana secara fisik sifat-sifatnya mudah untuk dibedakan.
v  Lahan harus memiliki batas-batas yang jelas baik berupa parit, pematang, jalan maupun batas-batas yang lainnya.
v  Dalam satu unit penangkaran hanya dapat ditanami oleh satu varietas atau satu kelas benih.
-          Benih yang ditanam
v  Benih yang ditanam merupakan:
v  Varietas yang sudah dilepas (benih bina)
v  Benih yang berasaldari benih yang kelasnya lebih tinggi minimal satu tingkat.
-          Isolasi
v  Benih yang digunakan harus jelas terpisah dari varietas lainnya dengan jarak paling sedikit 3 meter.
v  Bila terdapat dua varietas yang berbeda dan bloknya berdampingan maka tanggal tanam diatur sehingga saat berbunga tidak terjadi secara bersamaan (± 30 hari)
-          Pemeriksaan lapangan
v  Penangkar benih mengajukan permohonan pemeriksaan lapangan kepada UPTD BPSBTPH Provinsi Jawa Barat selambat-lambatnya 1 minggu sebelum waktu pemeriksaan.
v  Pemeriksaan pendahuluan (1 minggu sampai dengan sebelum tanam), pemeriksaan dilakukan terhadap kelengkapan administrasi, kebenaran batas-batas areal, sejarah, lapangan dan benih sumber yang digunakan.
v  Pada mas pertanaman membentuk anakan (fase vegetative, 30 hari setelah tanam) harus dibersihkan dari rerumputan dan dilakukan seleksi (roguing) terhadap varietas lain atau tipe simpang dan tanaman yang terserang penyakit sebelum pemeriksaan lapangan pertama dilakukan.
v  Pada masa pertanaman fase generative (berbunga, 30 hari sebelum panen) harus dilakukan seleksi (roguing) serta pembersihan dari rerumputan sebelum pemeriksaan lapangan kedua dilakukan.
v  Pada mas pertanaman fase masak (7 hari sebelum panen) harus dilakukan (rouging) serta pembersihan dari rerumputan sebelum pemeriksaan lapangan ketiga dilakukan.
v  Hal yang perlu diperhatikan pada saat (rouging) : tipe pertumbuhan, kehalusan daun, warna helai daun, warna lidah daun, warna pangkal batang, bentuk/tip malai, bentuk gabah, bulu pada ujung gabah, warna gabah, dan sudut daun bendera.
v  Apabila oada pemeriksaan lapangan fase vegetative atau fase berbunga tidak lulus, dapat dilakukan pemeriksaan ulang maksimal 1 kali setelah dilakukan seleksi (rouging) terhadap pertanaman.



-          Pembersihan peralatan/perlengkapan
Peralatan-peralatan yang kan digunakan (alat panen/penabur benih, gerobak, silo, gudang, dan lain-lain) harus bersih dan bebas dari kemungkinan tercampurnya dengan varietas lain.
-          Pemeriksaan alat pengolahan
Benih yang akan disertifikasi harus diolah dengan peralatan yang telah diperiksa dan disahkan kebersihannya oleh pengawas benih.
-          Contoh benih untuk pengujian
v  Contoh benih yang kan diuji di laboratoriumakan diambil sampelnya dari kelompok benih yang telah selesai diolah dan telah dikelompokkan, serta diatur agar dapat mempermudah pengawas benih dalam pengambilan contoh benih.
v  Pengawas benih akan mengambil contoh benih atas permintaan penangkar benih.
-          Pengambilan contoh benih
v  Tiap kelompok benih tidak boleh lebih dari 20 ton.
v  Wadah dari suatu kelompok benih harus disusun rapi agar mempermudah dalam pengambilan contoh benih.
v  Pengambilan contoh benih dilakukan sesuai dengan peraturan/pedoman yang telah ditetapkan.
v  Dari tiap-tiap kelompok benih diambil sampelnya paling sedikit 1000 gram oleh pengawas benih tanaman.
-          Label
a)     Label dicetak oleh produsen.
b)     Nomor seri label dari UPTD BPSBTPH Provinsi Jawa Barat.
c)     Label dilegalisasi di UPTD BPSBTPH Provinsi Jawa Barat.
d)   Masa berlaku label diberikan paling lambat 6 bulan sejak tanggal selesai pengujian dan paling lama 9 bulan setelah panen.




-          Standar
v  Standar lapangan
Kelas
Benih
Isolasi Jarak
(Meter)
Isolasi Waktu
(hari)
Varietas lain dan tipe simpang
Max %
Rerumputan
Berbahaya
Dasar
3
30
0,0
Tidak ada
Pokok
3
30
0,2
Tidak ada
Sebar
3
30
0,5
Tidak ada

v  Standar pengujian laboratorium
Kelas
Benih
Kadar Air
Max %
Benih Murni
Min %
Kotoran Benih
Max %
Benih CVL
Max %
Benih Tan Lain/Biji Gulma
Max %
Daya Tumbuh Min %
Dasar
13,0
99,0
1,0
0.0
0.0
80,0
Pokok
13,0
99,0
1,0
0.1
0.1
80,0
Sebar
13,0
98,0
2,0
0.2
0.2
80,0

b.   Laboratorium Teknologi Benih
Terdapat dua laboratorium Teknologi Benih yang ada di Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura, yaitu:
v  Laboratorrium Tanaman Pangan
Pada laboratorium ini terdapatb banyak alat-alat lab sperti glinder , timbangan analitik, lemari pendingin dan alat-alat lab yang lain. Pada laboratorium ini melakukan dua proses pengujian yaitu :
a.    Pengujian standar, pada pengujian ini dilakukan pengujian kadar air, daya kecambah dan daya tumbuh, pelabelan
b.   Pengujian khusus, pada pengujian ini dilakukan pengujian kekuatan benih, uji cepst viabilitas, dan uji vigor
v  Laboratorium Hortikultura
Pada laboratorium holtikultura melakukan pengujian pada hal-hal yang bersifat mikroskofis, seperti pengujian pada bakteri, jamur, virus, cendawan dan nemathoda. Pada laboratorium ini lebih mentitikberatkan pengujian pada tanaman kentang.

·         Lampiran



































 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar