Minggu, 06 Januari 2013

Laporan praktikum TEKNOLOGI BENIH


Laporan praktikum
TEKNOLOGI BENIH

STRUKTUR BENIH DAN KECAMBAH
KEMURNIAN BENIH
MORFOLOGI EKSTERNAL BENIH
UJI KEKUATAN TUMBUH BENIH (DAYA TUMBUH)
DORMANSI BENIH


Disusun oleh:
KELOMPOK 8
MEILYA NUROKHMAH            208700989
SRI NURMAYANTI                  208701003
ROHMAT HIDAYAT                208700998

AGROTECHNOLOGY SEMESTER IV
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2010





I.          Judul                         : STRUKTUR BENIH DAN KECAMBAH
II.        Tanggal                      : 13 Mei 2010
III.       Tujuan                       : Untuk mengetahui secara garis besar tentang keadaan struktur benih dan perkecambah
IV.       Dasar Teori                :
                        Setiap biji matang (mature seed) selalu terdiri paling kurang 2 bagian yaitu, (1) embryo dan (2) kulit biji (need coat atau testa). Embryo terbentuk atau berasal dari telur yang dibuahi (zygote) dengan mengalami pebelahan sel di dalam embryosac. Kulit biji terbentuk atau berasal dari integument (satu atau lebih) dari evule.
                        Biji merupakan suatu organisasi yang tersusun rapi, mempunyai persediaan bahan makanan yang cukup untuk melindungi serta memperpanjang kehidupannya. Walaupun banyak hal yang terdapat pada biji, tetapi baik mengenal jumlah, bentuk maupun strukturnya, mempunyai satu fungsi dan tujuan yang sama yaitu menjamin kelangsungan hidupnya. Pengetahuan tentang struktur biji akan memberikan pemahaman yang baik tentang perbedaan kedua struktur biji tersebut. (http://ramadhan.20m.com/whats_new.html) 
                        Bagian-bagian biji terdiri dari 3 bagian dasar :
1. Embrio
Embrio adalah suatu tanaman baru yang terjadi dari bersatunya gamet-gamet jantan dan betina pada suatu proses pembuahan. Embrio yang berkembangnya sempurna terdiri dari struktur-struktur sebagai berikut : epikotil (calon pucuk), hipokotil (calon batang), kotiledon (calon daun) dan radikula (calon akar). Tanaman di dalam kelas Angiospermae diklasifikasikan oleh banyaknya jumlah kotiledon. Tanaman monokotiledon mempunyai satu kotiledon misalnya : rerumputan dan bawang. Tanaman dikotiledon mempunyai dua kotiledon misalnya kacang-kacangan sedangakan pada kelas Gymnospermae pada umumnya mempunyai lebih dari 2 kotiledon misalnya pinus, yang mempunyai sampai sebanyak 15 kotiledon. Pada rerumputan (grasses) kotiledon yang seperti ini disebut scutellum, kuncup embrioniknya disebut plumulle yang ditutupi oleh upih pelindung yang disebut koleoptil, sedangkan pada bagian bawah terdapat akar embrionik yang disebut ridicule yang ditutupi oleh upih pelindung yang disebut coleorhiza.
2. Jaringan penyimpan cadangan makanan
Pada biji ada beberapa struktur yang dapat berfungsi sebagai jaringan penyimpan cadangan makanan, yaitu :
a)      Kotoledon, misalnya pada kacang-kacangan, semangka dan labu.
b)      Endosperm, misal pada jagung, gandum, dan golongan serelia lainnya. Pada kelapa bagian dalamnya yang berwarna putih dan dapat dimakan merupakan endospermnya.
c)      Perisperm, misal pada famili Chenopodiaceae dan Caryophyllaceae
d)     Gametophytic betina yang haploid misal pada kelas Gymnospermae yaitu pinus.
Cadangan makanan yang tersimpan dalam biji umumnya terdiri dari karbohidrat, lemak, protein dan mineral. Komposisi dan presentasenya berbeda-beda tergantung pada jenis biji, misal biji bunga matahari kaya akan lemak, biji kacang-kacangan kaya akan protein, biji padi mengandung banyak karbohidrat.
3. Pelindung biji
Pelindung biji dapat terdiri dari kulit biji, sisa-sisa nucleus dan endosperm dan kadang-kadang bagian buah. Tetapi umumnya kulit biji (testa) berasal dari integument ovule yang mengalami modifikasi selama proses pembentukan biji berlangsung. Biasanya kulit luar biji keras dan kuat berwarna kecokelatan sedangkan bagian dalamnya tipis dan berselaput. Kulit biji berfungsi untuk melindungi biji dari kekeringan, kerusakan mekanis atau serangan cendawan, bakteri dan insekta.
Dalam hal penggunaan cadangan makanan terdapat beberapa perbedaan diantara sub kelas monokotiledon dan dikotiledon dimana pada :
·         Sub kleas monokotiledon: cadangan makanan dalam endosperm baru akan dicerna setelah biji masak dan dikecambhakan serta telah menyerap air. Contoh jagung, padi, gandum.
·         Subkelas dikotiledon : cadangan makanan yang terdapat dalam kotileodon atau perisperm sudah mulai dicerna dan diserap oleh embrio sebelum biji masak. Contoh kacang-kacangan, bunga matahari dan labu. (Sutopo, L. 2002)
                        Gambar struktur benih:
                         



Perkecambahan (germination) merupakan tahap awal perkembangan suatu tumbuhan, khususnya tumbuhan berbiji. Dalam tahap ini, embrio di dalam biji yang semula berada pada kondisi dorman mengalami sejumlah perubahan fisiologis yang menyebabkan ia berkembang menjadi tumbuhan muda. Tumbuhan muda ini dikenal sebagai kecambah.
Kecambah adalah tumbuhan (sporofit) muda yang baru saja berkembang dari tahap embrionik di dalam biji. Tahap perkembangan ini disebut perkecambahan dan merupakan satu tahap kritis dalam kehidupan tumbuhan. Kecambah biasanya dibagi menjadi tiga bagian utama: radikula (akar embrio), hipokotil, dan kotiledon (daun lembaga). Dua kelas dari tumbuhan berbunga dibedakan dari cacah daun lembaganya: monokotil dan dikotil. Tumbuhan berbiji terbuka lebih bervariasi dalam cacah lembaganya. Kecambah pinus misalnya dapat memiliki hingga delapan daun lembaga. Beberapa jenis tumbuhan berbunga tidak memiliki kotiledon, dan disebut akotiledon.
Perkecambahan diawali dengan penyerapan air dari lingkungan sekitar biji, baik tanah, udara, maupun media lainnya. Perubahan yang teramati adalah membesarnya ukuran biji yang disebut tahap imbibisi (berarti "minum"). Biji menyerap air dari lingkungan sekelilingnya, baik dari tanah maupun udara (dalam bentuk embun atau uap air. Efek yang terjadi adalah membesarnya ukuran biji karena sel biologi. sel-sel embrio membesar dan biji melunak.
Kehadiran air di dalam sel mengaktifkan sejumlah enzim perkecambahan awal. Ukuran radikula makin besar dan kulit atau cangkang biji terdesak dari dalam, yang pada akhirnya pecah. Pada tahap ini diperlukan prasyarat bahwa cangkang biji cukup lunak bagi embrio untuk dipecah. (http://www.wikipedia.com/perkecambahan)
            Tiga diantara perkecambahan normal dan tidak dibedakan atas:
a.       Normal
-          Terdapat radikula
-           hipokotil dan radikula berkembang dengan baik
-          Akar plumula berkembang dengan baik
b.      Abnormal
-          Radikula tidak terdapat
-          Hipokotil dan radikula lebih pendek dari setengah panjang normal
-          Hanya terdapat satu kotiledon. (Kartasapoetra, Ance. 2003)
              
             
V.        Alat dan Bahan         :
NO
ALAT
BAHAN
1
Substratum bagi perkecambahan (tempat tumbuh)
Benih tanaman yang diperlukan
2
Pisau silet

3
Kaca pembesar

4
Bak pengecambah


VI.       Cara Kerja                 :
1.      Ambil benih menurut keperluan.
2.      Rendam dalam air dingin selama 24 jam.
3.      Setelah direndam, angkat dan belah dengan silet secara memanjang dan melintang
4.      Teliti dengan kaca pembesar, gambar benih yang terlihat, beri nama bagian-bagian benih tersebut.
5.      Lakukan kembali cara 1 sampai 4 dengan waktu perendaman selama 5 hari.
6.      Identifikasi hasil perkecambahan tersebut, sebutkan bagian normal dan tidak normal dari kecambah tesebut.
     
VII.     Hasil Pengamatan     :
            a. Gambar benih utuh
1.      Benih kacang tanah                                   3.    Benih jagung





2.      Benih padi                                                 4.    Benih kacang kedelai






            b. Gambar setelah perndaman selama 24 jam:
1.      Benih kacang tanah                                   3.    Benih jagung






2.      Benih padi                                                 4.    Benih kacang kedelai






            c. Gambar setelah perendaman selama 5 hari:
1.      Benih kacang tanah                                   3.    Benih jagung







2.      Benih padi                                                 4.    Benih kacang kedelai









VIII.    Pembahasan              :
                        Dari hasil pengamatan yang kami lakukan, dapat dilihat bahwa benih mengalami perkecambahan pada perendaman yang dilakukan dengan waktu 5 hari. Dari bagian-bagian yang terlihat pun  dapat diketahui bahwa benih memiliki bagian-bagian yang penting yaitu:
1.      Pada benih utuh bagian-bagian yang tampak adalah kulit benih yang merupakan pelindung benih, ini sebagai salah satu bagian yang penting dari benih, agar benih yang masih utuh terjaga ke sterilan pada waktu dormansinya.
2.      Pada waktu benih hanya direndam satu hari dan dibelah, bagian benih yang terlihat hanyalah bagian penting benih seperti, embrio (epikotil, hipokotil, kotiledon), kulit benih, dan endosperma.
3.      Pada perndaman benih selama 5 kali 24 jam, perkecambahan mulai terlihat dengan terlihatnya bagian benih baru yang terlihat setelah dibelah yaitu radikula yang tumbuh secara normal, sesuai dengan ciri-ciri perkecambahan normal yaitu:
-          Terdapat radikula
-          Hipokotil dan radikula berkembang dengan baik. (Kartasapoetra, Ance. 2003)

IX.     Kesimpulan     :
              Berdasarkan hasil percobaan dan pengamatan struktur benih dan perkecambahan dapat disimpulkan:
1.      Bahwa terdapat yaitu embrio yang terdiri atas epikotil, hipokotil, dan kotiledon, kulit benih, dan endosperma.
2.      Pada perkecambahan yang terjadi setelah perendaman yang lama karena perkecambahan dipengaruhi oleh air, dapat diketahui bahwa perkecambahan normal yaitu dicirikan dengan munculnya radikula, dan perkembangan hipokotil dan radikulanya berkembang dengan baik.
X.        Daftar Pustaka                      :
                        Sutopo, L. 2002. Teknologi Benih. Malang: Fakultas Pertanian UNBRAW
                        Kartasapoetra, Ance G.Teknologi Benih. 2003. Jakarta: Rineka Cipta
                        http://ramadhan.20m.com/whats_new.html
                        http://www.wikipedia.com/perkecambahan              
                       
                       
                                               
I.          Judul                         : KEMURNIAN BENIH
II.        Tanggal                      : 2 Juni 2010
III.       Tujuan                       : mengetahui komposisi yang ditunjukan sejumlah contoh benih, serta untuk mengidentifikasi fisik dari komponen-komponen yang ada yang tercampur dalam sejumlah contoh benih tersebut (macam-macam species benih dan kotoran).
IV.       Dasar Teori                :
            Pengujian kemurnian benih merupakan kegiatan-kegiatan untuk menelaah tentang kepositifan fisik komponen-komponen benih termasuk persentase berat dari benih murni (pure seed), benih tanaman lain, benih varietas lain, biji-bijian herba (weed seed), dan kotoran-kotoran pada masa benih. (Kartasapoetra, Ance. 2003)
Pengujian benih merupakan metode untuk menentukan nilai pertanaman di lapangan. Oleh karena itu, komponen-komponen mutu benih yang menunjukan korelasi dengan nilai pertanaman benih di lapang harus dievaluasi dalam pengujian. Dalam pengujian benih mengacu dari ISTA, dan beberapa penyesuaian telah diambil untuk mempertimbangkan kebutuhan khusus (ukuran, struktur, pola perkecambahan) jenis-jenis yang dibahas di dalam petunjuk ini. Beberapa penyesuaian juga telah dibuat untuk menyederhanakan prosedur pengujian benih. Pengujian benih mencakup pengujian mutu fisik fisiologi benih. Petunjuk ini menjelaskan bagaimana mempersiapkan contoh yang mewakili lot benih untuk keperluan pengujian, dan bagaimana melakukan pengujian benih, salah satunya yaitu analisis kemurnian. (http://ramadhan.20m.com/whats_new.html)
Pengujian kemurnian benih adalah pengujian yang dilakukan dengan memisahkan tiga komponen benih murni, benih tanaman lain, dan kotoran benih yang selanjutnya dihitung presentase dari ketiga komponen benih tersebut. Tujuan analisis kemurnian adalah untuk menentukan komposisi benih murni, benih lain dan kotoran dari contoh benih yang mewakili lot benih. Untuk analisis kemurnian benih, maka contoh uji dipisahkan menjadi 3 komponen sebagai berikut :
a)                   Benih murni, adalah segala macam biji-bijian yang merupakan jenis/ spesies yang sedang diuji. Yang termasuk benihmurni diantaranya adalah :
-                      Benih masak utuh
-                      Benih yang berukuran kecil, mengkerut, tidak masak
-                      Benih yang telah berkecambah sebelum diuji
-                      Pecahan/ potongan benih yang berukuran lebih dari separuh benih yang sesungguhnya, asalkan dapat dipastikan bahwa pecahan benih tersebut termasuk kedalam spesies yang dimaksud
-                      Biji yang terserang penyakit dan bentuknya masih dapat dikenali
b)                  Benih tanaman lain, adalah jenis/ spesies lain yang ikut tercampur dalam contoh dan tidak dimaksudkan untuk diuji.
c)                   Kotoran benih, adalah benih dan bagian dari benih yang ikut terbawa dalam contoh. Yang termasuk kedalam kotoran benih adalah:
-                      Benih dan bagian benih
·                     Benih tanpa kulit benih
·                     Benih yang terlihat bukan benih sejati
·                     Bijihampa tanpa lembaga pecahan benih ≤ 0,5 ukuran normal
·                     Cangkang benih
·                     Kulit benih
-                      Bahan lain
·                     Sekam, pasir, partikel tanah, jerami, ranting, daun, tangkai, dll.
Dalam pengambilan contoh kerja untuk kemurnian benih ada dua metode yang dapat dilakukan, yaitu:
a)      Secara duplo, adalah pengambilan contoh kerja yang dilakukan dua kali.
b)      Secara simplo, adalah pengambilan contoh kerja yang dilakukan satu kali.
Setelah dilakukan pengabilan contoh kerja maka dilakukan penimbangan untuk mengetahui berat awal benih sebelum dilakukan pengujian kemurnian. Tahap selanjutnya adalah analisis kemurnian, setiap benih diidentifikasi satu persatu secara visual bedasarkan penampakan morfologi. Semua benih tanaman lain dan kotoran benih dipisahkan. Setelah dilakukan analisis kemudian dilakukan penimbangan pada setiap komponen tersebut. Hasil dari penimbangan dilakukan perhitungan faktor kehilangan.
Faktor kehilangan =http://2.bp.blogspot.com/_bhL8EbOVEgs/SolC0JFe6OI/AAAAAAAAAC0/QzaEmj91NME/s200/image003.gif
Ket. ck = contoh kerja
k1 = benih murni
k2 = benih tanaman lain
k3 = kotoran benih
Faktor kehilangan yang diperbolehkan ≤ 5%, jika terdapat kehilangan berat > 5% dari berat contoh kerja awal, maka analisis diulang dengan menggunakan contoh kerja baru. Jika faktor kehilangan ≤ 5% maka analisis kemurnian tersebut diteruskan dengan menghitung presentase ketiga komponen tersebut.
% benih murni =http://3.bp.blogspot.com/_bhL8EbOVEgs/SolC0c-WpCI/AAAAAAAAAC8/HefPrcY9A-g/s200/image004.gif
% benih lain =http://4.bp.blogspot.com/_bhL8EbOVEgs/SolC09M5qBI/AAAAAAAAADE/2lcK_FUY21I/s200/image005.gif
% kotoran =http://3.bp.blogspot.com/_bhL8EbOVEgs/SolC1afKmHI/AAAAAAAAADM/Mq_-bHPXVj4/s200/image006.gif
Ket. k1 = benih murni
k2 = benih tanaman lain
k3 = kotoran benih
Dari hasil perhitungan tersebut kemudian dilakukan penulisan hasil analisis. Adapun ketentuan dalam penulisan hasil analisis kemurnian, yaitu:
a)      Hasil analisis ditulis dalam presentase dengan 1 desimal, jumlah presentase berat dari semua komponen harus 100%.
b)      Komponen yang beratnya 0,05% ditulis 0,0% dan diberi keterangan trace. Bagi komponen yang hasilnya nihil, hendaknya ditulis presentase beratnya dengan 0,00%, sehingga tidak terdapat kolom yang kosong.
c)      Bila komponen tidak 100%, maka tambahkan atau kurangi pada komponen yang nialinya terbesar.
d)     Nama ilmiah dari benih murni, benih tanaman lain, kotoran benih harus dicantumkan. (http://teknologibenih.blogspot.com/29/08/2009)
V.        Alat dan Bahan         :                      
NO
ALAT
BAHAN
1
Timbangan
Benih
2
Wadah atau tempat


VI.       Cara Kerja                 :
1.      Ambil dari benih yang tersedia secara acak (random) secukupnya.
2.      Dari contoh yang diambil, timbang sekitar 400 gram, dari jumlah ini ambil 40 gram untuk digunakan.
3.      Lakukan pemisahan terhadap 40 gram benih ini menjadi empat komponen.
VII.     Hasil Pengamatan     :
1.         Semua benih yang utuh mempunyai ukuran yang sama
2.         Terdapat benih hampa
3.         Terdapat benih yang terkena hama
4.         Kotoran berwarna hitam

VIII.    Pembahasan              :
                        Dari praktikum pemisahan benih yang dilakukan, terdapat empat kriteria benih yang di dapat, yaitu benih utuh yang berukuran sama, benih hampa, benih yang terkena hama, dan kotoran berwarna hitam. Keempat kriteria ini dapat di kelompokan kedalam komponen-komponen sesuai dengan  kriterianya, yaitu
1.      Benih murni, untuk kriteria benih utuh yang berukuran sama dan benih yang terkena hama.
2.      Kotoran benih, untuk kriteria benih hampa dan kotoran berwarna hitam. (http://teknologibenih.blogspot.com/29/08/2009
http://3.bp.blogspot.com/_bhL8EbOVEgs/SolC0c-WpCI/AAAAAAAAAC8/HefPrcY9A-g/s200/image004.gifUntuk mengetahui persentase benih murni dan kotoran benih kami tidak menggunakan  rumus:                               , tapi kami melakukan perkiraan sesuai dengan pemisahan yang kami lakukan, yaitu Benih Murni sekitar 85 % dan 15 % untuk Kotoran Benih.

IX.     Kesimpulan                 :
1.      Dua dari criteria Benih Murni (BM) adalah benih yang memiliki kriteria ukuran utuh dan benih yang terkena hama.
2.      Dua dari criteria Kotoran Benih adalah benih yang memiliki criteria benih hampa dan kotoran berwarna hitam (seperti kerikil seukuran butir-butir pasir)

X.        Daftar Pustaka          :
                        Kartasapoetra, Ance G.Teknologi Benih. 2003. Jakarta: Rineka Cipta
                        http://ramadhan.20m.com/whats_new.html
                        http://teknologibenih.blogspot.com/29/08/2009




I.          Judul                         : MORFOLOGI EKSTERNAL BENIH
II.        Tanggal                      :  2 Juni 2010
III.       Tujuan                       : Mengenal dan membedakan benih berdasarkan morfologi eksternalnya.
IV.       Dasar Teori                :
Biji merupakan suatu organisasi yang teratur rapi, mempunyai persediaan bahan makanan yang cukup untuk melindungi serta memperpanjang kehidupannya. Walaupun banyak hal yang terdapat pada biji, tetapi baik mengenai jumlah, bentuk maupun strukturnya, mempunyai satu fungsi dan tujuan yang sama yaitu menjamin kelansungan hidupnya. Dalam ilmu botani diketahui ada dua kelas tumbuhan berbiji yaitu Angiospermae dan Gymnospermae. Angiospermae sebagai kelas yang lebih tinggi terdiri dari dua sub kelas yaitu Monokotiledon dan Dikotiledon. Pengetahuan tentang struktur biji akan memberikan pemahaman yang baik tentang perbedaan kedua struktur biji tersebut.
Biji atau benih adalah ovule yang telah dibbuahi. Mempunyai cirri-ciri mengandung embrio, mengandung jaringan makanan, dan kulit sebagai pembungkusnya.
Dalam praktikum morfologi benih dibedakan menjadi:
·      Morfologi  eksternal benih, meliputi ukuran, bentuk dan adanya alat-alat tambahan pada benih.
·      Bentuk fisik buah
1.      Bentuk spherical (bundar)
2.      Bentuk Eliptik (lonjong)
3.      Bentuk Biconvek
4.      Bentuk Convex
5.      Bentuk Oval
6.      Bentuk Concave
7.      Bentuk Lanceolate
8.      Bentuk Ovoid
9.      Bentuk Obovoid
10.  Bentuk Oblonceolate
11.  Bentuk Ovate (seperti telur itik)
12.  Bentuk Pyramidal
13.  Bentuk Obpyramidal
14.  Bentuk Ginjal

V.        Alat dan Bahan         :
NO
ALAT
BAHAN
1
Buku gambar
Berbagai macam benih yang disediakan
2
Pensil

3
penghapus

4
Penggaris


VI.       Cara Kerja                 :
1.    Gambar setiap macam benih yang tersedia
2.    Masing-masing disebutkan ukuran, warna dan adanya alat tambahan
3.    Kemudian tentukan benih apakah preparat tersebut, sebutkan pula familinya

Uji bekas larutan dengan menggunakan Kristal metilen, amati perubahannya, pada tabung reaksi mana larutan tidk mengalami perubahan
 
VII.     Hasil Pengamatan      :
NO
BENIH
WARNA
UKURAN PANJANG
GAMBAR
1
kedelai
Kuning gelap/
Kuning tua/
crem
0,8 cm


2
Kacang tanah
Merah tua/
Merah kecoklatan
1,3 cm

3
Kacang merah
Merah gelap


1,5 cm

4
padi
Kuning tua/
Kuning kegelapan/Crem
(sprt wrn k. kedelai)
1,1 cm

5
jagung
Kuning terang



0,9 cm


VIII.    Pembahasan              :
Dari hasil pengamatan telah di sebutkan bahwa warna kedelai kuning tua atau kegelapan, kacang merah merah tua dst. perbedaan warna pada jenis-jenis biji tersebut dikarenakan adanya faktor keturunan atau gen dan disebabkan juga oleh tempat misalnya pengaruh iklim yaitu suhu.
Selain itu perbedaan bentuk biji dikarenakan adanya gen atau sifat keturunan. Bentuk-bentuk biji dri biji yang kami amati adalah termasuk bentuk biji:  
1.      Kedelai termasuk Bentuk spherical (bundar)
2.      Kacang tanah termasuk Bentuk Oval
3.      Kacang merah termasuk Bentuk Ginjal
4.      Padi termasuk Bentuk Convex
5.      Jagung termasuk Bentuk Oblonceolate
Dan untuk pengelompokan Familia, yaitu:
1.      Kedelai, kacang tanah, dan kacang merah termasuk familia Leguminosae
2.      Padi dan jagung termasuk familia Graminae

IX.     Kesimpulan                 :
1.      Perbedaan warna pada jenis-jenis biji dikarenakan adanya faktor keturunan atau gen dan disebabkan juga oleh tempat misalnya pengaruh iklim yaitu suhu
2.      Perbedaan bentuk biji dikarenakan adanya gen atau sifat keturunan






























I.          Judul                         : UJI KEKUATAN TUMBUH BENIH (DAYA TUMBUH)
II.        Tanggal                      : 31 Mei 2010
III.       Tujuan                       : Mempelajari beberapa metode pengujian vigor benih pada kondisi optimum serta membandingkan hubungan kedua parameter pengujiaan.
IV.       Dasar Teori                :
Perkecambahan benih adalah proses pengaktifan kembali aktifitas pertumbuhan embrio di dalam biji yang terhenti untuk kemudian mem bentuk bibit. Untuk terjadinya perkecambahan diperlukan syarat internal dan eksternal. Syarat internal adalah pembentukan embrio yang sehat dan normal, sedangkan syarat eksternal yang utama yaitu adanya air yang cukup, suhu yang sesuai, cukup oksigen dan adanya cahaya. Yang dimaksud dengan daya tumbuh atau Daya berkecambah ialah jumlah benih yang berkecambah dari sejumlah benih yang di kecambahkan pada media tumbuh optimal (kondisi laboratorium) pada waktu yang telah ditentukan, dan dinyatakan dalam persen.
Biji / benih yang dinyatakan berkecambah apabila telah mengeluarkan unsur-unsur utama dari lembaga, yaitu akar dan tunas.
Pengujian benih dalam kondisi lapang biasanya kurang memuaskan karena hasilnya tidak dapat diulang dengan konsisten. Karena itu, pengujian dilaboratorium dilaksanakan dengan mengendalikan faktor lingkungan agar mencapai perkecambahan yang teratur, cepat, lengkap bagi kebanyakan contoh benih. Kondisi yang terkendali telah distandarisasi untuk memungkinkan hasil pengujian yang dapat diulang sedekat mungkin kesamaannya. Terdapat bermacam-macam metode uji perkecambahan benih, setiap metode memiliki kekhususan tersendiri sehubungan dengan jenis benih diuji, jenis alat perkecambahan yang digunakan, dan jenis parameter viabilitas benih dinilai. Berdasarkan substratnya, metode uji perkecambahan benih dapat digolongkan kedalam menggunakan kertas, pasir dan tanah. Pada kesempatan ini yang akan dipelajari metode uni daya kecambah (SGT), uji kecepatan berkecambah (IVT), uji hitung pertama (FCT), uji pertumbuhan akar dan batang (RSGT). Kondisi lingkungan perkecambahan pada semua metode ini adalah optimum.
Benih bermutu ialah benih yang telah dinyatakan sebagai benh yang berkualitas tinggi dari jenis tanaman unggul. Benih yang berkualitas tinggi itu memiliki daya tumbuh lebih dari Sembilan puluh persen, dengan ketentuannya yaitu, memiliki viabilitas dan memiliki keturunan.
Mutu benih merupakan jaminan hidup tidaknya suatu lot benih. Salah satu komponen mutu benih adalah vigor benih. Benih-benih vigor mampu hidup normal dalam kondisi suboptimal dan hidup di atas normal dalam kondisi optimum. Untuk menunjang keberhasilan pertanaman maka sebelum dilaksanakan pertanaman, sangat penting untuk mengetahui status vigor benih.
Vigor benih di dalam  pertanaman akan tercermin dalam kekuatan tumbuh benih melalui kecepatan tumbuh benih dan keserempakan tumbuh benih. Kecepatana tumbuh benih adalah jumlah % kecambah normal/etmal. Keserempakan tumbuh benih adalah % kecambah normal kuat pada periode perkecambahan tertentu. Keduanya dilakukan dalam kondisi optimum. (Kartasapoetra, Ance G. 2003)

V.        Alat dan Bahan         :
NO
ALAT
BAHAN
1
12 lembar tissue
75 benih kedelai
2
6 plastik
75 benih jagung
3
Wadah penyimpanan


VI.       Cara Kerja                 :
1.         Disediakan benih kedelai dan jagung sebanyak 3x25butir
2.         Dikecambahkan dengan metode UKDdp (Uji Kertas Digulung dalam plastic);
a.       Di Letakan lembaran substrat 3 lembar yang telah dibasahi oleh air dan diletakan oleh plastic untuk msing-masing komoditi
b.      Tanam benih/biji di atas lembaran substrat dalam 1 deretan pada 1/3 dalam substrat dengan arah pertumbuhan akar primer ke bagian 2/3 x ukuran kertas kea rah bawah jarak tanam benih tidak saling berdekatan
c.       Tutuplah substrat yang telah ditanami kemudian digulung
d.      Letakan substrat dgn cara ditegakan
3.         Simpan dalam alat perkecambahan selama  periode perkacambahan 5 hari.
4.         Kecepatan tumbuh benih diamati berdasarkan % kecambah normal/etmal dengan mengamati % kecambah normal setiap hari keserempetan tumbuh diamati berdasarkan % kecambah normal pada hari ke-4.













 
                                          
                                                                                                         
                                                                                                                                                      
                       
                                                                                                                      

                                                               










 








VII.     Hasil Pengamatan     :
Komoditi
Ulangan
% kecambah normal
% normal kuat
Jagung


1

2

3
Rata-rata
61,3 %
38,6%
kedelai
Dari semua ulangan yang dilakukan kedelai tidak berkecambah baik normal maupun abnormal
           

            Keterangan:
Pada jagung yang berkecambah secara normal dari 3 kali ulangan dapat dirata- ratakan 61,3% yaitu dari  dan yang berkecambah yang normal kuat 38,6 % yaitu dari Yang berkecambah normal lebih banyak. Perbedaannya atau selisihnya adalah 61,3 % - 38,6 % = 22,7%.
VIII.    Pembahasan              :
Dari hasil praktikum dapat di lihat bahwa pada biji atau benih jagung ulangan ke-2 daya kecambah normal kuat paling banyak dari ke-3 ulangan tersebut. Dan semua benih berkecambah pada semua ulangan, selain itu perbedaan dari setiap ulangan tidak terlalu banyak perbedaan. Hal ini dikarenakan jenis benih tersebut satu varietas atau disebut juga sama.
Untuk perkecambahan kedelai yang kelompok kami uji, adalah tidak adanya proses perkecambahan yang terjadi melainkan hanya terjadi pembengkakkan dan lama kelamaan terjadi pembusukan. Hal ini kami duga karena terlalu banyaknya air yang membasahi tissue, dalam perkecambahan air yang merupakan factor eksternal yang utama yang dibutuhkan dalam keadaan yang cukup, tetapi karena air yang ada dalam tissue sepertinya melebihi kecukupan, sehingga terlalu lembab yang menyebabkan timbulnya jamur, karena banyaknya air memungkinkan keadaan biji atau benih yang digulung dalam tissue yang dibasahi tersebut seperti direndam.
Jagung:
Kedelai:
IX.     Kesimpulan                 :
Dari hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa:
1.             Benih jagung mempunyai daya tumbuh yang baik yaitu 100%. Kecepatan tumbuh benih pada jagung adalah 61,3 % dan keserempakan tumbuh benih jagung adalah 38,6% .
2.             Perkecambahan benih dipengaruhi salah satu factor eksternal yang sangat penting yaitu air yang cukup, tetapi kelebihan air dalam proses perkecambahan ini, akan mematikan daya tumbuh benih tersebut.
X.        Daftar Pustaka          :
                        Kartasapoetra, Ance G.Teknologi Benih. 2003. Jakarta: Rineka Cipta  
                       























I.         Judul                           : DORMANSI BENIH
II.        Tanggal                      : 2 Juni 2010
III.       Tujuan                       : Mengetahui periode dormansi dan cara mengatasinya
IV.       Pendahuluan                         :
Dormansi adalah suatu keadaan dimana pertumbuhan tidak terjadi walaupun kondisi lingkungan mendukung untuk terjadinya perkecambahan.
Pada beberapa jenis varietas tanaman tertentu, sebagian atau seluruh benih menjadi dorman sewaktu dipanen, sehingga masalah yang sering dihadapi oleh petani atau pemakai benih adalah bagaimana cara mengatasi dormansi tersebut.
Benih yang mengalami dormansi biasanya disebabkan oleh :
·         Rendahnya/ tidak adanya proses imbibisi air yang disebabkan oleh struktur benih (kulit benih) yang keras, sehingga mempersulit keluar masuknya air ke dalam benih.
·         Respirasi yang tertukar, karena adanya membran atau pericarp dalam kulit benih yang terlalu keras, sehingga pertukaran udara dalam benih menjadi terhambat dan menyebabkan rendahnya proses metabolisme dan mobilisasi cadangan makanan dalam benih.
·         Resistensi mekanis kulit biji terhadap pertumbuhan embrio, karena kulit biji yang cukup kuat sehingga menghalangi pertumbuhan embrio. Pada tanaman pangan, dormansi sering dijumpai pada benih padi, sedangkan pada sayuran dormasni sering dijumpai pada benih timun putih, pare dan semangka non biji.
Dormansi, yaitu peristiwa dimana benih tersebut mengalami masa istirahat (Dorman). Selanjutnya didefinisikan bahwa Dormansi adalah suatu keadaan dimana pertumbuhan tidak terjadi walaupun kondisi lingkungan mendukung untuk terjadinya perkecambahan.
Kondisi dormansi mungkin dibawa sejak benih masak secara fisiologis ketika masih berada pada tanaman induknya atau mungkin setelah benih tersebut terlepas dari tanaman induknya. Dormansi pada benih dapat disebabkan oleh keadaan fisik dari kulit biji dan keadaan fisiologis dari embrio atau bahkan kombinasi dari kedua keadaan tersebut.
Secara umum menurut Aldrich (1984) Dormansi dikelompokkan menjadi 3 tipe yaitu Innate dormansi (dormansi primer), Induced dormansi (dormansi sekunder), dan Enforced dormansi. Sedangkan menurut Sutopo (1985) Dormansi dikelompokkan menjadi 2 tipe yaitu Dormansi Fisik dan Dormansi Fisiologis.
Untuk mengetahui dan membedakan/ memisahkan apakah suatu benih yang tidak dapat berkecambah adalah dorman atau mati, maka dormansi perlu dipecahkan. Masalah utama yang dihadapi pada saat pengujian daya tumbuh/ kecambah benih yang dormansi adalah bagaimana cara mengetahui dormansi, sehingga diperlukan cara-cara agar dormansi dapat dipersingkat.
Ada beberapa cara yang telah diketahui adalah :
1.         Dengan perlakuan mekanis
2.         Dengan perlakuan kimia.
3.         Perlakuan perendaman dengan air.
4.         Perlakuan dengan suhu.
5.         Perlakuan dengan cahaya.

V.        Alat dan Bahan         :
NO
ALAT
BAHAN
1
Larutan 0.1 N HNO3

Benih padi yang dorman

2
Larutan 0.2 % KNO3


3
Bak perkecambahan


4
Pemberat/ bandul


VI.       Cara Kerja                 :
               Pelaksanaan dan pengamatan ini meliputi dua langkah kerja yaitu :
1)        Periode dormansi benih
a.       Tanam 400 benih yang baru dipanen dalam empat ulangan dengan substratum perkecambahan pasir.
b.      Kelembaban harus selalu terjaga dan terpelihara samapi pengujian selesai.
c.       Catat lamanya waktu setelah perkecambahan benih mencapai 80 %.


2)        Memecahkan dormansi
a.         Rendam benih padi, masing-masing dalam larutan 0.2 % KNO3 dan 0.1 % HNO3 selama 16 jam.
b.        Jemurlah benih-benih tersebut selama emapt hari hingga kadar airnya mencapai sekitar 14 %.
c.         Simpan benih pada tempat yang kering selama 5 hari.
d.      Tanam 200 benih dalam dua ulangan untuk masing-masing keperluan KNO3, HNO3, dan control.
e.       Pengujian dengan PKdp (Pada Kertas digulung plastic).
f.       Bandingkan hasil pengamatan umtuk masing-masing benih untuk setiap perlakuan.
PKDdp (Pada Kertas Digulung dalam plastic)
1.        Letakkan lembaran substrat (3-4) lembar yang telah dibasahi di atas plastic.
2.        Tanam benih di atas lembaran substrat dalam 1 deretan pada 1/3 x lebar substrat dengan arah pertumbuhan kar primer ke bagian 2/3 x lebar kertas kea rah bawah jarak tanam benih tidak saling berdekatan.
3.        Tutup substrat yang telah diamati, kemudian digulung.
4.        Letakkan substrat yang telah digulung dengan cara yang didirikan pada tempat perkecambahan di bawah trace.






 














 








VII.     Hasil Pengamatan     :
Zat
Ulangan
% kecamabah normal
% kecamabah normal kuat
% abnormal
0.1 N HNO3
1
2
Rata2
36%
40%
24%
0.2 % KNO3
1
2
Rata2
28%
64%
80%
Control
1
Rata2
52%
12%
36%
            Keterangan:
Dari dua zat yang digunakan sebagai alat perendam dan satu sebagai control yaitu air diperoleh rata-rata untuk zat perendam 0,1 N HNO3 perkecambahan normal memiliki rata-rata   , untuk rata-rata perkecambahan normal kuat  , dan untuk perkecambahan abnormal memiliki rata-rata  . selanjutnya untuk zat perendam 0.2 % KNO3 dan air, prinsip menghitung rata-ratanya sama.

VIII.    Pembahasan  :
Untuk periode dormansi kami tidak melakukan percobaan, tetapi yang kami uji yaitu memecahkan dormansi (Langkah Kerja 2).
Dari praktikum yang kami lakukan mulai dari perendaman, pengeringan, penjemuran yang masing-masing dilakukan selama satu hari dan pengujian PKDdp selama dua hari terlihat bahwa kecepatan perkecambahan normal kuat terjadi pada perlakuan yang benihnya terlebih dahulu telah direndam oleh 0.2 % KNO3 yang mana pada pengulangan 1 dan 2 persentase kecepatan tumbuhnya sama yaitu rata-ratanya sebesar 64%, dan kesamaan ini terjadi juga pada yang perkecamabahnnya normal dan abnormal. Tetapi perkecambahan abnormalnya pun rata-rata persentasenya paling besar yaitu sebesar 80% .
Dilihat dari berbagai cara mempersingkat dormansi benih yaitu dengan perlakuan mekanis dengan perlakuan kimia atau perlakuan perendaman dengan air (yang dipakai sebagi control). Perendaman dengan zat kimia ini lebih besar kecepatannya, terbukti dengan besarnya persentase perkecambahan normal kuatnya yaitu 0.2 % KNO3 > 0,1 N HNO3 > control  64% > 40% > 12%.

IX.     Kesimpulan                 :
            1. Dari dua zat yang digunakan sebagai perendam, 0.2 % KNO3 lah yang paling cepat mempersingkat dormansi dibandingkan dengan perendam 0,1 N HNO3
2. Dari zat kimia dan air sebagi control yang digunakan untuk perendam membuktikan bahwa perendaman dengan larutan kimia lebih mempersingkat masa dormansi dibandingkan perendaman menggunakan air.

X.      Daftar Pustaka            :
                         Sutopo, L. 2002. Teknologi Benih. Malang: Fakultas Pertanian UNBRAW .

2 komentar: