Minggu, 06 Januari 2013

Tugas Ulumul Qur'an

Resume Ulumul Qur’an
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mandiri mata kuliah
Ulumul Qur’an

oleh:
Meilya Nurokhmah
208700989


Semester VIII

JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2 0 1 2
1.      Al-Qur’an
Didunia ini banyak kitab yang diwahyukan kepada nabi-nabi Allah. Sama seperti hal nya nabi, dari begitu banyaknya nabi hanya 25 nabi yang diimani, dari banyaknya kitab yang diwahyukan hanya ada 4 yang wajib diimani. Kitab yang wajib diimani tersebut adalah AL-Qur’an, Injil, Jabur, dan Taurat. Keempat kitab ini sama, yaitu bernafaskan ‘Tauhid’.
Tetapi, yang wajib dipelajari dan diamalkan dari keempat kitab itu adalah Al-Qur’an yang merupakan kitabnya agama Islam. Kitab di sini diartikan sebagai pedoman hidup yang merupakan petunjuk bagi umat Islam.
Al-Qur’an merupakan wahyu yang disebut mujizat, dengan bahasanya yang universal dan mudah dipahami, berisi tentang nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan, seputar Tauhid, Aqidah, dan sejarah. Al-Qur’an sesuai tempat turunnya wahyu dikategorikan dua kelompok, yaitu Makkiyah dan Madaniyah. Ayat-ayat Al-Qur’an diturunkan sesuai dengan peristiwa yang terjadi atau disebut Asbab An-Nuzul.

2.      Proses Pengumpulan Al-Qur’an
Sebelum dikumpulkan atau dibukukan, Qur’an merupakan lembaran-lembaran yang terpisah. Al-Qur’an juga diturunkan secara berangsur-angsur[1]. Sebelum ditulis Al-Qur’an dihapalkan oleh para sahabat, tetapi penghapalnya yang disebutkan ada tujuh. Penyebutan ketujuh sahabat itu dan kaitannya dengan penghapalan Al-Qur’an terkesan tidak rasional dan tidak realistis[2].
Penulisan Al-Qur’an dilakukan oleh para sekretaris Nabi dan para sahabat. Sekretaris pribadi yang khusus bertugas mencatat wahyu, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, Abban bin Sa’id, Khalid bin Walid, dan Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Proses penulisan Al-Qur’an pada masa Nabi sungguh sangat sederhana. Mereka menggunakan alat tulis sederhana dan berupa lontaran kayu, pelepah korma, tulang belulang, dan batu[3].
Pada masa Nabi, Al-Qur’an sudah ditulis, hanya saja surat dan ayat-ayatnya masih terpencar-pencar dan orang yang pertama kali menusunnya dalam mushaf adalah Abu Bakar Ash- Shiddiq[4]. Abu Bakar adalah orang yang berinisiatif menghimpun Al-Qur’an semuanya, dikarenakan ada peperangan sehingga dikhawatirkan para penghapal semakin hilang. Dan orang yang ditunjuk oleh Abu Bakar untuk melacak Al-Qur’an adalah Zaid bin Tsabit. Setelah penulisan dan pengumpulan ayat-ayat Al-Qur’an selesai, kemudian berdasarkan musyawarah bahwa tulisan Al-Qur’an yang sudah terkumpul itu dinamakan Mushaf[5]. Setelah Abu Bakar wafat, suhuf-suhuf Al-Qur’an itu disimpan oleh khalifah Umar. Dan pada masa Utsman bin Affan, dilakukan penyatuan tulisan Al-Qur’an. Akan tetapi belum ada harkat dan tanda titik pada ayat-ayat tersebut.
Upaya penyempurnaan Al-Qur’an dilakukan bertahap dan dilakukan oleh setiap generasi sampai abad III H. Orang yang pertama kali meletakkan tanda titik pada Mushaf Utsmani yaitu Abu Al-Aswad AD-Du’ali, Yahya bin Ya’mar, dan Nashr binAshim Al-Laits[6]. Orang yang diperintahkan menulis Qur’an karena keindahan tulisannya adalah Khalid bin Abi Al-Hayyaj. Untuk pertama kalinya Al-Qur’an dicetak di Bunduqiyyah pada tahun 1530 M.

3.      Tafsir, Takwil dan Terjemah
Tafsir
Tafsir menurut bahasa adalah penjelasan dan menerangkan, dalam bahasa arab kata tafsir berarti membuka secara maknawi dengan menjelaskan arti yang tertangkap dari redaksional yang eksplisit (tersurat). Maka defenisi Al-Qur’an adalah ilmu yang membahas tentang redaksi-redaksi Al-Qur’an dengan memperhatikan pengertian untuk mencapai pengetahuan tentang apa yang dikehendaki oleh Allah SWT, sesuai dengan kadar kemampuan manusia. Adapun tentang pengertian tafsir berdasarkan istilah, para ulama banyak memberikan komentar antara lain sebagai berikut : menurut Al-Kilabi, Tafsir adalah penjelasan Al-Qur’an dengan menerangkan makna dari tujuan (isyarat); menurut Syekh Al-Jazari, Tafsir adalah hakekatnya menjelaskan lafazh yang sukar difahami dengan jalan mengemukakan salah satu lafazh yang bersinonim (mendekati) dengan lafazh tersebut; menurut Abu Hayyan, Tafsir adalah ilmu yang mengenai cara pengucapan lafazh Al-Qur’an serta cara mengungkapkan petunjuk kandungan hukum dan makna yang terkandung didalamnya; menurut Az-Zarkasyi,Tafsir a dalah ilmu yang digunakan untuk memahami dan menjelaskan makna-makna Al-Qur’an yang diturunkan pada pada nabi Muhammad SAW, serta mengumpulkan kandungan dan hukum dan hikmahnya.
Berdasarkan beberapa rumusan tafsir yang dikemukakan para ulama tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa tafsir adalah suatu hasil yang tanggapan dan penalaran manusia untuk menyikapi nilai-nilai samawi yang terdapt didalam Al-Qur’an.
Tafsir ada dua yaitu Tafsir Bi Al-Ma’tsur dan Bir-Ra’yi. Tafsir Bi Al-Ma’tsur adalah penafsiran Al-Qur’an yang mendasarkan pada penjelasan Al-Qur’an rasul, para sahabat melalui ijtihadnya. Hukum Tafsir Bi Al-Ma’tsur wajib untuk mengikuti dan diambil karena terjaga dari penyelewengan makna kitabullah. Tafsir Bir-Ra’yi berdasarkan pengertian ra’yi berarti keyakinan dan ijtihad sebagaimana dapat didefinisikan tafsir Bir-ra’yi adalah penjelasan yang diambil berdasarkan ijtihad dan metodenya dari dalil hukum yang ditunjukkan. Tafsir banyak dilakukan oleh ahli bid’ah yang menyakini pemikiran tertentu kemudian membawa lafazh-lafazh Al-Qur’an kepada pemikiran mereka tanpa ada pendahuluan dari kalangan sahabat. Tafsir berlandaskan pokok-pokok pemikiran mereka yang sesat, sering penafsiran Al-Qur’an dianggap dengan akal semata, maka hukumnya adalah haram[7].
Takwil
Arti takwil menurut lughat berarti menerangkan, menjelaskan. Adapun arti bahasanya menurut Az-Zarqoni adalah sama dengan tafsir. Adapun mengenai arti takwil menurut istilah banyak para ulama memberikan pendapatnya antara lain sebagai berikut ini: menurut Al-Jurzzani yaitu memalingkan suatu lafazh dari makna d’zamirnya terhadap makna yang dikandungnya apabila makna alternative yang dipandang sesuai dengan ketentuan Al-kitab dan As-sunnah; sedangkan menurutt defenisi lain, takwil adalah mengenbalikan sesuatu kepada ghayahnya (tujuannya) yakni menerangkan apa yang dimaksud; Menurut Ulama Salaf, menafsirkan dan mejelaskan makna suatu ungkapan baik yang bersesuaian dengan makna ataupun bertentangan, dan hakekat yang sebenarnya yang dikehendaki suatu ungkapan; Menurut Khalaf, mengalihkan suatu lafazh dari maknanya yang rajin kepada makna yang marjun karena ada indikasi untuk itu. Pengertian takwil menurut istilah adalah suatu usaha untuk memahami lafazh-lafazh (ayat-ayat) Al-Qur’an melalui pendekatan pemahaman arti yang dikandung oleh lafazh itu[8].
Terjemah
Arti terjemah menurut bahasa adalah susunan dari suatu bahasa kebahasa atau mengganti, menyalin, memindahkan kalimat dari suatu bahasa lain kesuatu bahasa lain. Adapun yang dimaksud dengan terjemahan Al-Qur’an adalah seperti dikemukakan oleh “Ash-Shabuni” yakni memindahkan Qur’an kebahasa lain yang bukan bahasa arab dan mencetak terjemah ini kedalam beberapa naskah untuk dibaca orang yang tidak mengerti bahasa arab[9].

4.      Ulul Albab
Ulul Albab adalah kelompok manusia tertentu yang diberi keistimewaan oleh Allah SWT. Diantara keistimewaannya ialah mereka diberi hikmah, kebijaksaan, dan pengetahuan, di samping pengetahuan yang diperoleh mereka secara empiris: “Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali Ulul Albab.” (QS. 2:269). Disebutkan pula dalam Al-Quran bahwa: “Mereka adalah orang yang bisa
mengambil pelajaran dari sejarah umat manusia.” (QS. 12:111). Dipelajarinya sejarah berbagai bangsa, kemudian disimpulkannya satu pelajaran yang bermanfaat, yang dapat dijadikan petunjuk dalam mengambil keputusan di dalam kehidupan ini. “Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk dari Allah, dan mereka itulah Ulul Albab..” (QS. 3:7)
Selain beberapa keistimewaan yang diberikan Allah kepeda mereka, ada juga lima tanda lagi menurut Al-Quran. Tanda pertama: Bersungguh-sungguh mencari ilmu, seperti disebutkan dalam Al-Quran: “Dan orang yang bersungguh-sungguh dalam ilmu pengetahuan mengembangkannya dengan seluruh tenaganya, sambil berkata: ‘Kami percaya, ini semuanya berasal dari hadirat Tuhan kami,’ dan tidak mendapat peringatan seperti itu kecuali Ulul Albab.” (QS.3:7). Termasuk dalam bersungguh-sungguh mencari ilmu ialah kesenangannya menafakuri ciptaan Allah di langit dan di bumi. Allah menyebutkan tanda Ulul Albab ini sebagai berikut: “Sesungguhnya dalam proses penciptaan langit dan bumi, dalam pergiliran siang dan malam, adalah tanda-tanda bagi Ulul Albab.” (QS.3:190).
Tanda kedua: Mampu memisahkan yang jelek dari yang baik, kemudian ia pilih yang baik, walaupun ia harus sendirian mempertahankan kebaikan itu dan walaupun kejelekan itu dipertahankan oleh sekian banyak orang. Allah berfirman: “Katakanlah, tidak sama kejelekan dan kebaikan, walaupun banyaknya kejelekan itu mencengangkan engkau. Maka takutlah kepada Allah, hai Ulul Albab.” (QS.5:100)
Tanda ketiga: Kritis dalam mendengarkan pembicaraan, pandai menimbang-nimbang ucapan, teori, proposisi atau dalil yang dikemukakan oleh orang lain: “Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk dan mereka itulah Ulul Albab.” (QS.39:18)
Tanda keempat: Bersedia menyampaikan ilmunya kepada orang lain untuk memperbaiki masyarakatnya; diperingatkannya mereka kalau terjadi ketimpangan, dan diprotesnya kalau terdapat ketidakadilan. Tanda kelima: Tidak takut kepada siapa pun kecuali kepada Allah. Berkali-kali Al-Quran menyebutkan bahwa Ulul Albab hanya takut kepada Allah: “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baiknya bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai Ulul Albab.” (QS 2:197).
Maka Ulul Albab adalah sama dengan intelektual plus ketakwaan, intelektual plus kesalehan. Di dalam diri Ulul Albab berpadu sifat-sifat ilmuwan, sifat-sifat intelektual, dan sifat orang yang dekat dengan Allah SWT11[10].













KONSEP ILMU DALAM SURAT AL-ALAQ
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mandiri mata kuliah
Ulumul Qur’an

oleh:
Meilya Nurokhmah
208700989


Semester VIII

JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2 0 1 2
KONSEP ILMU DALAM SURAT AL-ALAQ
Surat Al-Alaq dinamakan surat Iqra’ atau surat Al-Qalam, Makkiyah dan terdiri dari 19 ayat. Di surat ini Nabi diperintahkan untuk membaca disertai adanya penjelasan tentang kekuasaan Allah terhadap manusia dan penjelasan sifat-sifatnya. Juga disebutkan keterangan tentang pembangkangan sebagian menusia dan balasan yang sesuai dengan perbuatan.
Dalam Shahih-nya Bukhari meriwayatkan dari Aisyah ra. yang artinya demikian, “Wahyu pertama yang sampai kepada Rasul adalah mimpi yang benar. Beliau tidak pernah bermimpi kecuali hal itu datang seperti cahaya Shubuh. Setelah itu beliau senang berkhalwat. Beliau datang ke gua Hira dan menyendiri di sana, beribadah selama beberapa malam. Yang untuk itu beliau membawa bekal. Kemudian kembali ke Khadijah dan membawa bekal serupa. Sampai akhirnya dikejutkan oleh datangnya wahyu, saat beliau berada di gua Hira. Malaikat datang kepadanya dan berkata, “Bacalah!” Beliau menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” lalu Rasulullah saw. berkata, “Lalu di merangkulku sampai terasa sesak dan melepaskanku. Ia berkata, ‘Bacalah!’ Aku katakan, ‘ Aku tidak bisa membaca.’ Lalu di merangkulku sampai terasa sesak dan melepaskanku. Ia berkata,
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,  Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-Hadits).
Dengan demikian maka awal surat ini menjadi ayat pertama yang turun dalam Al-Qur’an sebagai rahmat dan petunjuk bagi manusia. Wahyu pertama yang sampai kepada Nabi saw. adalah perintah membaca dan pembicaraan tentang pena dan ilmu. Tidakkah kaum Muslimin menjadikan ini sebagai pelajaran lalu menyebarkan ilmu dan mengibarkan panjinya. Sedangkan Nabi yang ummi ini saja perintah pertama yang harus dikerjakan adalah membaca dan menyebarkan ilmu. Sementara ayat berikutnya turun setelah itu. Surat pertama yang turun secara lengkap adalah Al-Fatihah[11].
Tafsir secara umum :
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan” (ayat 1). Dari suku kata pertama saja yaitu “bacalah”, telah terbuka kepentingan pertama dalam perkembangan agama ini selanjutnya. Nabi Muhammad disuruh untuk membaca wahyu yang akan diturunkan kepada beliau atas nama allah, tuhan yang telah menciptakan. Yaitu “Menciptakan manusia dari segumpal darah” (ayat 2). Yaitu peringkat yang kedua sesudah nuthfah. Yaitu segumpal air yang telah berpadu dari mani si laki-laki dengan mani si perempuan yang setelah 40 hari lamanya, air itu akan menjelma menjadi segumpal darah dan dari segumpal darah itu kelak setelah 40 hari akan menjadi segumpal daging. “Bacalah, dan tuhanmu itu adalah maha mulia” (ayat 3). Setelah pada ayat pertama beliau menyuruh membaca dengan nama allah yang menciptakan manusia dari segumpal darah, diteruskan lagi menyuruh membaca diatas nama tuhan. Sedang nama tuhan yang selalu akan diambil jadi sandaran hidup itu ialah allah yang maha mulia, maha dermawan, maha kasih dan saying kepada mahluknya. “Dia yang mengajarkan dengan kalam” (ayat 4). Itulah istimewanya tuhan itu lagi. Itulah kemulianya yang tertinggi.Yaitu diajarkanya kepada manusia berbagai ilmu, dibukanya berbagai rahasia, diserahkanya berbagai kunci untuk pembuka perbendaharaan allah yaitu dengan qalam. Dengan pena disamping lidah untuk membaca, tuhanpun mentaksirkan pula bahwa dengan pena ilmu dapat dicatat. Pena itu  kaku dan beku serta tidak hidup namun yang dituliskan oleh pena itu adalah berbagai hal yang dapat difahami oleh manusia “Mengajari manusia apa-apa yang dia tidak tahu” (Ayat 5). Terlebih dahulu allah ta’ala mengajar manusia mempergunakan qalam. Sesudah dia pandai mempergunakan qalam itu banyaklah ilmu pengetahuan diberikan oleh allah kepadanya, sehingga dapat pula dicatat ilmu yang baru didapatnya itu dengan qalam yang sudah ada dalam tanganya[12].



[1] Rosihon Anwar, Ulumul Quran (Bandung: Pustaka Setia, 2000) hal. 37
[2] Ibid., hal. 38

[3] Ibid., hal. 39
[4] Rosihon Anwar, Ulumul Quran (Bandung: Pustaka Setia, 2000)hal. 40
[5] Ibid., hal. 44
[6] Ibid., hal. 49
[8] Ibid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar